Mengapa New Talent yang Gemilang Tidak Berprestasi Cemerlang?

Posted on July 19th, 2013

If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader. (John Quincy Adams)

ISTILAH Talent sering kita gunakan di bidang Human Resources. Semakin dalamnya pemahaman tentang pentingnya Talent, membuat setiap perusahaan berlomba-lomba untuk menjaring berbagai talent yang ada di pasaran tenaga kerja, bahkan mulai dari sumbernya di Perguruan Tinggi.

Ketika kita bicara tentang Talent Management, kita bicara tentang strategy untuk recruit (source, attract, select), Develop (train, develop, promote, and move employees through the organization) dan Retain (termasuk reward & recognition). Mereka yang digarap dalam proses ini adalah mereka yang paling qualified dan fit dengan nilai perusahaan. Dan tidak akan lengkap untuk menggaris-bawahi bahwa Talent Management Strategy juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari Strategy Bisnis.

Identitas Perusahaan

Berbicara tentang Talent, kita tidak hanya bicara tentang pengetahuan dan pengalaman yang merupakan hard skill, tapi juga bicara tentang sisi soft skill yang bersangkutan. Ini penting karena orang bijak sering mengatakan: “Even Soft  skill is much harder than hard skill.” Karena itu penting sekali karyawan, terutama yang baru bergabung, memahami Identitas Perusahaan. Apa budaya Perusahaan? Apa Visi, Misi dan Core Values/Belief.

Karyawan baru perlu memahami:

  • Apa yang membuat karyawan perusahaan itu bersemangat datang ke tempat kerja setiap hari?
  • Apa yang menjadi dasar perilaku mereka di tempat kerja, baik dengan pelanggan maupun dengan sesama karyawan?

Identitas Perusahaan berupa Visi Misi dan Values adalah jiwa dari perusahaan ini, panduan berperilaku baik untuk karyawan maupun pimpinannya. Kita tidak berani menyatakan bahwa ada perusahaan tertentu sudah sempurna berperilaku sesuai pedoman Visi Misi Value mereka, tetapi paling tidak mereka mempunyai panduan untuk itu dari waktu ke waktu mengukur, apakah ada kemajuan dalam upaya untuk berperilaku yang lebih baik. Ada kemauan untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

 

Mengapa Ada Talent Gemilang yang Baru Masuk, Kurang Bersinar?

Andaikan kita sudah mengikuti saran Jim Collins yang terkenal: “Get the right people on the bus and  the wrong people off the bus.” Dan kita sudah berkeyakinan bahwa kita telah membawa talent yang benar, yang gemilang dan ditempatkan di posisi yang tepat.

Tetapi, mengapa Talent Gemilang yang baru bergabung di perusahaan, tidak berprestasi Cemerlang?

Dalam tulisannya di SmartBlog on Leadership, 19 Maret 2013, yang berjudul: “Why your bright new hire is underperforming,” Ritika Trikha mengajak kita untuk melakukan refleksi, mungkin saja kita, saya dan Anda, adalah penyebabnya.

Ada 4 (empat) kemungkinan menurut Ritika:

1. Karyawan Tidak Diberikan Otonomi Cukup untuk Berprestasi

Dengan modal pengetahuan dan pengalaman kerja sebelumnya, karyawan baru ingin menggunakan berbagai peluang untuk berkarya, untuk berprestasi. Pelan-pelan dia akan belajar, apakah dia mempunyai keleluasaan untuk berbicara dan berpendapat. Ada situasi di mana, karyawan hanya mendengar briefing, dan sedikit kesempatan untuk berbeda pendapat dengan atasan, walau itu penting.

Ada karyawan yang terbatas ruang geraknya karena setiap langkah seberapa kecilnya pun harus bertanya boleh atau tidak, bekerja di bawah kontrol yang ketat, sehingga kesempatan untuk berkreasi atau membawa perspektif baru, sirna. Karyawan itu pun akan bertanya pada diri sendiri, apakah masih ada TRUST pada kualifikasi saya?? Mengapa mereka membawa saya kemari? Butir yang layak untuk direnungkan.

2. Terlalu Fokus untuk Mengurusi Kewenangan sebagai Boss

Mindset  “Saya adalah boss” masih nempel di kepala para atasan, dan suka ditonjolkan dalam berinteraksi dengan bawahannya, terutama dengan yang baru. Tanpa disadari ada ketakutan bahwa talent baru yang cemerlang tersebut bisa menjadi saingan. Jangan-jangan disiapkan untuk mengganti saya. Akhirnya yang terjadi adalah, berbagai ide gemilang ditolak tanpa penjelasan yang memadai, atau bahkan sekedar diambangkan.

3. Ekspektasi yang Kurang Jelas

Terkadang Talent yang smart anjlok performance-nya, hanya karena atasan tidak memberikan ekspektasi yang jelas, apa yang diharapkan dari mereka. Apalagi kalau bicara tentang bagaimana mengukur prestasi mereka. Ketidak-jelasan ini akan membuat Talent baru tersebut terjebak dalam situasi terus meraba-raba. Bahkan dengan terus meminta klarifikasi akan dianggap cerewet, nanya melulu, masa tidak mengerti?

4. Talent yang Direkrut Sebetulnya Tidak Fit dengan Budaya Perusahaan

Dan ini merupakan elemen yang sangat mendasar. Para Talent bergabung dengan antusiasme tinggi, berdasarkan pemahaman tentang budaya di perusahaan itu. Dan hari demi hari, mereka menyaksikan perilaku Pimpinan dan karyawan rekan kerja mereka, yang merupakan perilaku yang jauh dari yang dijanjikan oleh Core Values perusahaan tersebut. Mereka mulai melihat bahwa Value pribadinya tidak fit dengan perilaku yang dia alami setiap saat.

Dan kalau mereka cukup smart, mereka akan memutuskan untuk pergi.

Kata Ritika:

“In most cases, you simply can’t fit a square into a circle.”

Keempat butir di atas baru bermanfaat kalau kita mau membuka diri untuk merefleksi, untuk melihat kalau saja ada yang harus diperbaiki dari diri kita. Agar dengan demikian, jangan sampai sia-sia kita mencari Talent yang Gemilang tapi tidak mempunyai ruang gerak yang leluasa untuk berprestasi.

Never continue in a job you don’t enjoy. If you’re happy in what you’re doing, you’ll like yourself, you’ll have inner peace. And if you have that, along with physical health, you will have had more success than you could possibly have imagined.  (Johnny Carson)

Bookmark and Share

26 Responses to Mengapa New Talent yang Gemilang Tidak Berprestasi Cemerlang?

  1. Damianus Rangga says:

    Terima kasih Pak Yosef untuk blognya hari ini. Pertanyaanku bagaimana menhadapi kalau ada pimpinan yang memiliki karakter seperti point 1 dan 2, sikap apa yg bisa dilakukan. Krn begitu “power”. Apakah bisa menjadi tanda seperti adanya resign karyawan baru hampir bersamaan. Selanjutnya bagaimana menyikapi pola pimpinan seperti pada point 1 & 2.Terima kasih.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus. Anda bisa mencoba untuk mendapatkan kepercayaan dan ruang gerak untuk berprestasi. Tapi umumnya yang terjadi adalah: seperti ibarat tanaman di tanah yang gersang, tanaman menjadi kerdil, atau tanaman itu pindah ke lahan yang lebih subur akan tumbuh pesat. Tulisan ini lebih untuk mengingatkan mereka yang menjabat sebagai atasan, agar talent yang bagus juga diberi kesempatan untuk berprestasi, kalau tidak resikonya mereka akan keluar.

  2. It’s awesome article..! 🙂

  3. Febby Christian says:

    benar-benar mencerahkan artikel nya pa Josef..
    salam sukses selalu 😀

  4. FAktor no 1 tampaknya yang sering saya lihat pak (lack of autonomy and freedom).

    Empowerment mungkin kata kunci yang kudu terus digemakan; agar potensi cemerlang itu benar-benar menjadi sinar terang bagi kemajuan perusahaan.

    Tulisan yang inspiratif pak!!

    • josef josef says:

      Terima kasih Yodhia, mari kita terus kumandangkan prinsip2 dasar untuk pengembangan Talent. Terima kasih atas waktunya mengunjungi blog dan menyimak posting ini. Di blog ini sdh ada 170 posting dan masih akan hadir posting baru tiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00, kecuali hari libur

  5. Dani Daks says:

    Good and inspiring reading pak,

  6. Dani Daks says:

    Inspiring reading,..bacaan ini akan mengingatkan kita bahwa sebagai atasan/manager kita harus selalu berpikir bahwa kalau kita mau berkembang, maka kita wajib juga mengembangkan orang2 yang kelak akan mampu mengerjakan pekerjaan kita.

    • josef josef says:

      Terima kasih Dani, kita akan terus saling mengingatkan. Perjalanan karier kita sebetulnya bukan untuk naik ke puncak sendirian, tapi juga membawa serta orang2 sekitar kita, membuat mereka juga sukses

  7. Haryo Pinandito says:

    Benar2 Luar biasa artikelnya….izin utk Mengcopy beberapa hal utk pengembangan pribadi saya pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Haryo, silahkan mengcopy untuk sendiri atau juga membagi link blog ini ke teman2 lain yang membutuhkan. Itulah tujuan saya membuat blog ini, untuk berbagi. Nantikan posting2 berikutnya yang akan dihadir setiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00

  8. Ferawaty Kurnadi says:

    Tulisanyangsangatmenarik.terimakasihPakJosefatasartikelini.

  9. Wilvan says:

    Nice article…

  10. liamarta says:

    Artikel yang sangat bagus, Pak. Saya di posisi sebagai bawahan juga bisa bercermin dari artikel ini. Terutama untuk poin no 4 karena yang saya rasakan sepertinya memang saya tidak fit dengan Core Values perusahaan. Dan quotes terakhir di artikel ini juga menjadi teguran bagi saya, bahwa “If I’m happy in what I’m doing, I’ll like myself, I’ll have inner peace.” ini yang tidak saya rasakan sekarang. Terima kasih banyak pak atas sharing informasinya. Saya izin share postingan ini di blog saya ya Pak 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Lia Marta, membaca dan melakukan refleksi memang perlu. Kita sering disapah melalui orang lain, dari pembicaraan, artikel, tegoran atau apa saja. Yang terpenting kita membuka diri untuk refleksi, belajar dan mengambil langkah. Silahkan share posting ini atau posting lainnya (ada 178 artikel di blog ini) yang dianggap bermanfaat. Itulah tujuan saya membuat dan menulis di blog ini.

  11. Angga Darma says:

    Izin share pak artikelnya. Saya setuju sekali dengan faktor no. 4, karena saya mengalaminya sendiri. Petikan Quotes yang bagus di akhir artikel ini: “Never continue in a job you don’t enjoy” (Johnny Carson)

  12. alit Kuswara says:

    Mohon izin ya pak artikel di bagi ketemen2 mungkin banyak manfaatnya makasih

  13. Darwin F. Manao says:

    Masukan yg sangat bagus Pak, mostly pimpinan perusahaan merekrut para rookie of player hanya berdasarkan kebutuhan dan formalitas belaka, tanpa mempertimbangkan potensi dan talenta dari mereka….izin share ya Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Darwin, saya kedepankan butir2 renungan untuk para atasan, semoga mereka mau melakukan refleksi. Silahkan dishare bahan2 di blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan