Posted on August 27th, 2019
“Setting an example is not the main means of influencing others; it is the only means. (Albert Einstein)
PANGGILAN. Kata ini saya rasakan sangat tepat, walaupun di balik itu ada situasi mendesak untuk bergerak. Negara memanggil kita semua untuk mengubah paradigma lama kita untuk pemecahan masalah. Dua dari lima sasaran prioritas bapak Presiden mencakup Pengembangan Sumber Daya Manusia, dengan penekanan pada kesehatan ibu hamil, bayi, anak usia sekolah; Pendidikan vokasi (ketrampilan); Lembaga management talenta.
Yang kedua adalah Reformasi Birokrasi: Reformasi Struktural (sederhana, simple, licah, cepat) dan Mindset (adaptif, produktif, inovatif, kompetitif), disertai monitoring dan evaluasi.
Siapa gerangan yang terpanggil untuk melaksanakan semua di atas?
Perubahan Paradigma memecahkan masalah
Setelah Presiden menyampaikan pidato tentang Visi Indonesia ke depan, reaksi orang pun boleh jadi beragam. Ada yang lalu memikirkan kontribusi apa yang bisa saya dan team berikan. Ada yang berpikir, itu tugasnya pemerintah. Ada juga yang berasumsi, saya akan kontribusi seperti yang saya kerjakan sekarang, sementara yang berubah itu orang lain bukan saya, dan lain-lain
Fokus yang diberikan oleh bapak Presiden tidak berarti yang lainnya tidak penting. Masih banyak lagi yang bisa kita kerjakan.
Contoh di dalam perusahaan, perubahan Paradigma yang bisa dilakukan:
Untuk yang terakhir ini mari kita simak yang berikut ini:
Self as Coach, Self as Leader
Skip Prichard, dalam tulisannya di 19 Agustus 2019 tentang tulisan di cover depan buku Pamela McLean, yang berjudul: Self as Coach, Self as Leader: Developing the Best in You to Develop the Best in Others, membuatnya menarik kesimpulan bahwa:
The best coaches are leaders.
The best leaders are coaches.
Coaching dan Leading merupakan dua peran yang bertalian satu sama lain dan penting untuk menunjang pelaksanaan strategy di perusahaan, seperti yang disampaikan Pamela berikut ini:
“Great strategy is never sufficient, and culture starts at the top expressed in every conversation a leader has with others.” (Pamela McLean)
Pentingnya seorang leader dilengkapi dengan kemampuan coaching karena ini merupakan tool yang ampuh untuk accelerate development dari team, terutama dalam dunia yang berubah cepat, dimana team juga perlu terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Proses belajar itu bisa didapatkan dalam momen coaching one on one ataupun team coaching.
Untuk keperluan tersebut, perlu dibangun kesadaran, mulai dari kesadaran diri sendiri dari seorang leader melalui berbagai self-reflection dan self-evaluation. Kesadaran demi pengembangan diri inipun bisa didapat dari keterbukaan dalam proses dialog untuk menerima feed-back dari orang lain termasuk dari team.
Paradigma Tentang Belajar Sepanjang Waktu
Dalam mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan, kita belajar. Dalam usaha untuk bisa mendapatkan promosi, kita belajar. Agar bisa lebih mapan menjalankan sebuah tugas tertentu, kita belajar. Tapi terkadang kita berhenti, merasa sudah pada posisi di mana tidak diperlukan lagi pengembangan diri. Dalam situasi seperti itu kita berada pada posisi don’t know that I don’t know. Perlu disadarkan, seperti paparan di atas. Kesadaran itu akan membawa kita pada posisi know that I don’t know. Dan ini akan menjadi dasar untuk kita mau belajar atau persisnya belajar lagi.
Pemikiran ini tidak sesederhana itu, karena dibutuhkan sebuah keyakinan mendalam, bahwa kita perlu belajar sampai ke mana saja, kepada siapa saja, selama hayat dikandung badan. Karena kita semua bisa menjadi sumber pembelajaran, maka paradigma tentang belajar sepanjang waktu, akan membangun budaya “saling belajar dan berbagi”. Ini akan memungkinkan kita tidak pelit berbagi, dan pada waktu bersamaan kita akan membuka diri untuk menyerap ilmu dari mana saja. Mulailah dari diri sendiri dan orang yang paling dekat, bangun dialog untuk membuka komunikasi positif agar bisa belajar bersama.

Leader sebagai Role Model
Menjadi contoh, role model, panutan, merupakan atribut yang tidak bisa dipisahkan dari kehadiran seseorang sebagai leader. Seorang leader yang memperlihatkan mindset “humility and growthful” adalah leader yang menjadi panutan bagi yang lain berkaitan dengan komitmen untuk terus mengembangkan diri, yang senantiasa terbuka menerima feed-back dan masukan dari yang lain, dan leader yang iklas membantu orang lain untuk tumbuh, dengan menawarkan developmental feedback, yang diberikan dari hati penuh empati.
Kembali ke panggilan nasional di atas, kita sebagai leader di manapun posisi kita, perlu segera bertanya, perubahan paradigma seperti apa yang segera saya lakukan, baik sendiri ataupun dengan bantuan yang lain. Selanjutnya, langkah kongkrit apa yang bisa saya lakukan untuk belajar meningkatkan kemampuan diri, agar bisa membantu mengembangkan orang lain, seperti pesan di cover buku Pamela di bawah ini:
“Self as Coach, Self as Leader: Developing the Best in You to Develop the Best in Others.” (Pamela McLean)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...