Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan

Posted on August 14th, 2026

“Life is not about finding yourself. Life is about creating yourself.” (George Bernard Shaw)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan berbagi melalui Zoom dengan sahabat-sahabat dari Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar peserta berasal dari tanah yang saya kenal baik, tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.

Saya bercerita tentang perjalanan hidup dan karier saya: dari Lamalera, Lembata, sebuah kampung nelayan, menuju Jakarta, kemudian ke berbagai panggung profesional nasional dan internasional.

Namun semakin saya bercerita, semakin saya menyadari bahwa yang sesungguhnya ingin saya bagikan bukanlah perjalanan menuju sukses, melainkan perjalanan belajar.

Karena ketika melihat kembali perjalanan itu, saya menemukan satu benang merah: setiap titik kehidupan adalah sekolah. Setiap pekerjaan adalah ruang belajar. Setiap tantangan mengajarkan sesuatu. Dan setiap orang yang hadir meninggalkan pelajaran.

Dari keluarga sederhana, saya belajar tentang kepercayaan

Saya lahir dari keluarga nelayan di Lamalera. Kami bukan keluarga berada. Sejak kecil saya memahami bahwa kehidupan harus diperjuangkan. Saya ingin sukses, bukan sekadar mengejar jabatan atau pengakuan, tetapi membuktikan bahwa keterbatasan tempat kita berasal tidak harus menjadi batas masa depan kita.

Dari orang tua, saya diberikan dua bekal sederhana:  Jaga kepercayaan. Dan Kerjakan apa pun dengan sungguh-sungguh. Sederhana, tetapi ternyata sangat dalam.

Dalam perjalanan karier, saya belajar bahwa kepercayaan dibangun melalui konsistensi, ketulusan dan tanggung jawab. Saya juga belajar bahwa apa pun yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi kunci pembuka kesempatan berikutnya.

Mungkin pekerjaan pertama bukan pekerjaan impian. Mungkin tugas yang diberikan terasa kecil. Tetapi kita tidak pernah tahu, pintu mana yang sedang dibukakan melalui pekerjaan yang sedang kita jalani.

Setiap penugasan adalah sekolah

Ketika pertama kali datang ke Jakarta, saya merasa seperti masuk ke “hutan belantara”. Lingkungan baru, harus belajar bertahan hidup, bekerja di majalah sementara dunia percetakan masih asing, dan sekaligus mempersiapkan diri untuk kuliah. Tetapi justru di sanalah saya belajar.

Kemudian datang berbagai kesempatan lain. Saya belajar disiplin, mendalami ilmu SDM, memperluas wawasan dan semakin mengenal diri sendiri. Saat menjadi Management Trainee, tekanan meningkat. Saya belajar mengenali kekuatan sekaligus batas kemampuan saya.

Berbagai peran berikutnya, dari lokal hingga regional, mengajarkan saya berkomunikasi dengan berbagai lapisan, dari pekerja di lapangan sampai pimpinan perusahaan.

Saya semakin memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal berada di atas, tetapi mau turun ke bawah, menyapa, mendengar dan memahami manusia yang kita pimpin.

Lebih dari empat puluh tahun di bidang SDM membuat saya percaya bahwa karier bukanlah tangga yang sekadar harus terus dinaiki. Karier adalah sekolah yang terus berpindah ruang kelas.

Setiap perpindahan memberi pelajaran. Setiap tantangan menguji karakter. Setiap keberhasilan menuntut kita untuk belajar lagi. Karena itu saya terus memegang motto: “Be Yourself, But Better Everyday.” Menjadi diri sendiri, tetapi terus menjadi versi yang lebih baik setiap hari.

Saya tidak berjalan sendirian

Semakin jauh berjalan, semakin saya menyadari bahwa keberhasilan tidak pernah merupakan hasil kerja seseorang sendirian.

Ada orang tua yang menanamkan nilai. Ada atasan yang memberi kesempatan. Ada rekan kerja yang membantu. Ada bawahan yang mengajarkan kehidupan dari lapangan. Ada sahabat yang membuka wawasan. Ada orang-orang yang mempercayai saya bahkan ketika saya sendiri belum sepenuhnya yakin.

Pernah saya mendapat rekomendasi untuk menjalankan tugas sebagai Regional HR Manager Asia Pacific. Di balik kesempatan itu ternyata ada kepercayaan dari banyak orang.

Karena itu hari ini saya tidak bisa berkata, “Saya berhasil karena saya hebat.” Saya justru semakin menyadari: Saya bukan apa-apa tanpa Tuhan yang menuntun perjalanan ini dan tanpa orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk berjalan bersama saya.

Kesadaran itu membuat saya semakin bersyukur sekaligus rendah hati. Dan saya belajar bahwa keluarga adalah sekolah pertama. Kepercayaan, ketulusan, tanggung jawab, kerja keras dan kepedulian yang kita bawa ke dunia profesional sering kali pertama kali ditanamkan di rumah.

Ketika sukses berubah menjadi tanggung jawab

Pada awal perjalanan, kita mungkin ingin sukses demi sukses. Ingin membuktikan diri, mencapai posisi tertentu dan mendapatkan pengakuan. Tetapi semakin jauh perjalanan, pertanyaannya berubah:

“Setelah saya sampai di sini, apa yang saya lakukan untuk orang lain?”

Di situlah makna kepemimpinan mulai berubah. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mencapai target atau memiliki banyak pengikut. Pemimpin harus mampu mengembangkan manusia. Karena itu, ketika menuju puncak, saya berusaha turun menyapa tim, datang ke lapangan, mengenal karyawan, berbagi ilmu dan pengalaman. Dan yang paling penting: menciptakan lebih banyak pemimpin.

Sebab kalau setelah puluhan tahun memimpin hanya diri kita sendiri yang menjadi lebih besar, mungkin ada sesuatu yang keliru dalam perjalanan kepemimpinan kita. Legacy seorang pemimpin bukanlah berapa lama namanya dikenang, tetapi berapa banyak pemimpin baru yang lahir karena pernah belajar, bertumbuh dan berjalan bersamanya.

Pertanyaan untuk kita semua

Setelah sharing tersebut, beberapa peserta menyampaikan pertanyaan dan komitmen pribadi. Ada yang bergumul dengan kegagalan, takut mengambil kesempatan, sulit move on, atau menyadari bahwa dirinya terlalu sering menunda.

Ada pula yang berkomitmen untuk lebih berani bertanya, lebih aktif berdiskusi, lebih banyak belajar dan mulai berbagi pengalaman kepada orang lain.

Saya kemudian berpikir: bukankah pertanyaan-pertanyaan itu juga relevan bagi kita semua? Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang selama ini membuat saya takut melangkah?

Apakah kegagalan masa lalu masih menentukan keberanian saya hari ini?

Apa yang harus saya stop doing? Apa yang harus saya start doing? Apa yang perlu saya lakukan more or less?

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting:

“Setelah semua yang saya pelajari dan capai dalam hidup ini, siapa yang menjadi lebih baik karena kehadiran saya?”

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan, tetapi apa yang kita wariskan.

Dari Lamalera, saya terus belajar

Kalau saya melihat kembali perjalanan ini, saya tidak melihatnya sebagai garis lurus menuju kesuksesan. Saya melihatnya sebagai rangkaian sekolah kehidupan.

Lamalera mengajarkan saya perjuangan.
Keluarga mengajarkan kepercayaan dan ketulusan.
Jakarta mengajarkan keberanian untuk bertahan dan belajar.
Dunia kerja mengajarkan disiplin, manusia dan kepemimpinan.
Berbagai penugasan mengajarkan bahwa setiap kesempatan adalah ruang untuk bertumbuh.
Orang-orang di sekitar saya mengajarkan bahwa tidak ada keberhasilan yang benar-benar kita capai sendirian.
Dan perjalanan bersama Tuhan mengajarkan saya untuk bersyukur.

Hari ini saya semakin percaya, kita tidak pernah benar-benar selesai belajar. Karena hidup itu sendiri adalah sekolah.

Dan semakin tinggi kita dipercaya untuk memimpin, semakin besar tanggung jawab kita memastikan bahwa setelah kita pergi, akan ada lebih banyak orang yang mampu melanjutkan perjalanan.

Dari Lamalera, saya belajar bermimpi. Dari perjalanan panjang, saya belajar bertumbuh. Dan dari kepemimpinan, saya belajar bahwa tujuan akhirnya bukan menjadi pemimpin terbesar. Tujuan akhirnya adalah melahirkan lebih banyak pemimpin.

“A leader’s greatest legacy is not the position he leaves behind, but the leaders he leaves behind.” (Unknown)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...

Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..

josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam

sofia:
Do you care about me (connection)? Can you help me (competency)? Can I trust you (character)? ini yang akan...

josef:
Terima kasih coach. Kita saling berbagi inspirasi. Di blog ini ada lebih dari 1000 tulisan. Yang baru...


Recent Post

  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama