Jangan Hanya Menekan Tombol Lantai

Posted on October 9th, 2026

“Rencana hanya tetap menjadi rencana. Langkah memulai yang akan membuahkan hasil.”  (Josef Bataona)

Saat memasuki lift di lobi, beberapa karyawan membawa barang dengan kedua tangan. Mereka bercanda ceria, wajah mereka terlihat gembira sebelum mulai bekerja. Tombol lantai sudah ditekan: lantai 15 dan 17.

Beberapa saat berlalu, lift masih terbuka dan tidak bergerak. Sampai akhirnya seseorang menyadari: tombol tutup belum ditekan. Seketika mereka semua tertawa, menertawakan diri mereka.

Saya kemudian menggunakan kejadian sederhana itu sebagai pembuka ketika berbagi tentang Persiapan Masa Purna Bakti.

Bukankah kehidupan kita menjelang pensiun juga kadang seperti itu? Kita sudah menentukan “lantai” yang ingin dituju. Sudah membuat rencana. Sudah membayangkan kehidupan setelah pensiun. Tetapi, kalau tidak ada tindakan yang dilakukan, kita bisa saja tetap berada di tempat yang sama. Rencana saja tidak cukup. Kita perlu menekan tombol “start”.

 

Pensiun Bukan Hanya Soal Finansial

Saat istirahat di sesi sebelumnya, seorang peserta mengatakan sesuatu yang menarik. Ia dan pasangannya selama ini membayangkan masa pensiun sebagai masa untuk mengurangi berbagai kegiatan, hidup lebih santai, dan menikmati hari-hari dengan lebih bahagia. Namun setelah mengikuti sesi kami, cara pandang mereka mulai berubah dan berkata: “Terima kasih telah menginspirasi kami untuk mulai membuat rencana yang lebih matang,”

Mereka menyadari bahwa masih banyak pengalaman dan ilmu yang selama ini mereka miliki, yang dapat diberdayakan setelah pensiun. Mungkin bukan lagi bekerja seperti sebelumnya. Tetapi berkontribusi dengan cara yang berbeda.

Caranya adalah dengan mulai membuka diri, menyampaikan kepada lingkungan atau masyarakat apa yang mereka bisa lakukan dan kontribusikan. Ketika kebutuhan bertemu dengan kemampuan, di situlah peluang dapat muncul.

Karena itu, menjaga dan memperluas jejaring juga menjadi bagian penting dari persiapan. Saya senang mendengar perubahan cara pandang itu. Sebab persiapan purna bakti memang jauh lebih luas daripada sekadar menghitung berapa uang yang tersedia setelah tidak lagi menerima gaji.

 

AHA Sederhana Tetapi Penting

Menariknya, setelah sesi tersebut, peserta diminta menuliskan AHA, apa yang mereka sadari, pelajari, atau ingin mulai lakukan. Jawabannya beragam. Tetapi ketika saya membaca satu per satu, saya menemukan beberapa benang merah yang sangat kuat.

Pertama, kesehatan.
Ada yang menulis bahwa rasa percaya diri dan semangat untuk berolahraga semakin tumbuh. Ada yang bertekad mulai rutin berolahraga, mengurangi jajan sembarangan, menjaga pola makan, bahkan berangkat dan pulang kerja dengan sepeda. Ada pula yang menuliskan kalimat yang menurut saya sangat sederhana sekaligus dalam: “Modal utama untuk sukses di masa purna bakti adalah SEHAT.”

Benar. Kita boleh memiliki uang untuk menikmati masa pensiun. Kita boleh memiliki banyak rencana. Kita boleh memiliki banyak waktu. Tetapi kalau tubuh tidak sehat, banyak rencana itu akhirnya hanya tinggal rencana.
Menariknya lagi, beberapa peserta menyadari bahwa menjaga kesehatan tidak harus mahal. Yang penting adalah kemauan untuk menggerakkan badan secara rutin dan membangun kebiasaan sehat.

Kedua, Kesiapan Diri.
Ada yang menuliskan: menyiapkan mental, harus sehat. Pensiun bukan hanya perubahan status pekerjaan. Ia juga perubahan ritme hidup, identitas, kebiasaan, bahkan relasi sosial. Selama bertahun-tahun, pekerjaan mungkin memberi kita jadwal, target, teman, tantangan, penghasilan, sekaligus rasa dibutuhkan. Ketika semua itu berubah, kita perlu menemukan kembali jawaban atas pertanyaan sederhana: Setelah tidak lagi bekerja, untuk apa saya bangun setiap pagi?

Jawaban setiap orang tentu berbeda. Bagi sebagian orang mungkin keluarga. Bagi yang lain, belajar, berkarya, melayani, berbagi pengalaman, berwirausaha, mengembangkan hobi, atau membantu orang lain. Yang penting, kita mulai memikirkannya sebelum hari pensiun tiba.

Ketiga, Kesiapan Finansial
AHA peserta juga menunjukkan kesadaran untuk mulai menabung lebih banyak dan menghentikan pengeluaran yang tidak perlu. Ada yang menuliskan dengan sangat praktis: stop pengeluaran yang tidak penting-penting.

Pensiun mengajarkan kita satu hal: pendapatan mungkin berubah, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan. Karena itu, persiapan finansial bukan hanya tentang berapa banyak uang yang harus dikumpulkan. Ia juga tentang bagaimana kita mengelola gaya hidup.

Berhemat bukan berarti mengurangi kebahagiaan. Justru dengan mengetahui mana yang penting dan mana yang tidak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati kehidupan dengan lebih tenang.

Keempat, Tetap Memiliki Tujuan dan Kontribusi.
Beberapa AHA peserta berbicara tentang potensi yang masih dimiliki, keinginan untuk berguna bagi orang lain, membuat sesuatu yang bermanfaat, dan keyakinan bahwa peluang akan selalu ada apabila kita mau berusaha.

Saya melihat ini sebagai pesan yang sangat penting. Pensiun boleh berarti berhenti dari pekerjaan. Tetapi tidak harus berarti berhenti menjadi berguna.

Pengalaman yang kita kumpulkan selama puluhan tahun tidak ikut pensiun. Pengetahuan, keterampilan, jejaring, kegagalan, keberhasilan, dan kebijaksanaan yang kita miliki tetap bisa menjadi modal untuk babak berikutnya. Mungkin kita tidak lagi mengejar jabatan. Tetapi kita bisa mengejar MAKNA.

 

Jangan Menunggu Hari Pensiun

Dari berbagai AHA tersebut, saya menangkap satu pesan yang sederhana: Persiapan pensiun sebaiknya dimulai jauh sebelum pensiun.

Bukan ketika hari terakhir bekerja sudah dekat. Mulai dari hal kecil. Mulai bergerak lebih sehat. Mulai menata keuangan. Mulai memikirkan apa yang ingin dilakukan. Mulai mengidentifikasi pengalaman dan kekuatan yang kita miliki. Mulai memperluas jejaring. Mulai bertanya kepada diri sendiri: di mana saya masih bisa memberi manfaat?

Dan yang tidak kalah penting, mulai menjalankannya. Sebab seperti kejadian di dalam lift tadi, kita mungkin sudah tahu ingin menuju lantai mana. Kita bahkan sudah menekan tombolnya. Tetapi lift tidak akan bergerak kalau kita tidak melakukan langkah berikutnya.

Purna bakti: Babak Baru untuk Menjadi Lebih Bermakna

Satu AHA peserta yang sangat singkat: “Bahagia, Bermanfaat, Berhemat.”

Tiga kata yang sederhana. Mungkin justru di situlah esensi persiapan purna bakti. Menjaga kesehatan agar bisa menikmati kehidupan. Menata keuangan agar bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Menemukan kembali potensi diri agar tetap bisa bermanfaat. Memperluas jejaring agar peluang dan kesempatan untuk berkontribusi tetap terbuka. Dan terus bergerak, karena kehidupan tidak berhenti hanya karena kita berhenti bekerja.

Pada akhirnya, masa purna bakti bukan sekadar pertanyaan “berapa banyak yang sudah kita siapkan?” Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani, dan langkah apa yang bisa saya mulai hari ini?”

Jangan hanya menekan tombol lantai. Tekan Juga Tombol START

Karena babak berikutnya tidak akan dimulai hanya dengan rencana.  Ia dimulai ketika kita memilih untuk bergerak.

”Masa depan tergantung apa yang anda putuskan dan mulai kerjakan hari ini.” (Josef Bataona)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Lia, ditengah kesibukanmu dalam perjalanan baru, masih sempat menyimak tulisan ini dan...

lia catri:
Mungkin inilah makna Develop yang semakin diperkaya dewasa ini. Bukan hanya: How do I become better?...

josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....

Rani Wijaya:
Pak Josef, saya salah satu peserta di purna bakti ini dan senang sekali sudah mengulik AHA saya :...

josef:
Terima kasih Rina. Bisa juga refleksinya dibuat bertahap. Sepuluh tahun dari sekarang Rina mau jadi apa? Untuk...


Recent Post

  • Jangan Hanya Menekan Tombol Lantai
  • Menerima Kebaikan dan Membaginya Kembali
  • Mengembangkan Manusia Ketika AI Semakin Pintar
  • Jaga Harmoni Samakan Sudut Pandang
  • Beyond the Moment
  • Creating Moments
  • Sebelum Pensiun, Sudahkah Kita Menyiapkan Diri?
  • Pertemanan yang Mendorong Pertumbuhan
  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice