Tetap Bercahaya dan Terus Membawa MAKNA

Posted on October 30th, 2026

“When you light someone’s path, you illuminate your own.” (Unknown)

Foto yang saya hadirkan di sosmed, sembari mengajak pembaca untuk melakukan refleksi, dengan caption sebagai berikut:

Diam sejenak, pandanglah bunga-bunga ini.

Usianya pendek, tetapi mampu menghadirkan sukacita dan kedamaian. Istriku memilih menata mereka dengan indah, bukan meratapi singkatnya usia, melainkan merayakan makna yang bisa mereka hadirkan.

Saat peluncuran buku Mindful at Work, oleh sahabatku Pambudi Sunarsihanto dan Sari Meutia, kami diingatkan untuk tetap waras di tengah kerasnya dunia kerja. Fokus pada hal-hal yang membawa dampak bagi sesama. Sebagai leader, kita pun punya peran membantu tim menjaga ketenangan batin di tengah berbagai tekanan.

Tapi ingat, seperti lilin, kita perlu menjaga nyala diri sendiri sebelum menerangi sekitar. Tetap waras, tetap bercahaya, dan terus membawa makna.

 

Tapi Lilin akan Cair

Menanggapi nyala lilin yang dibagikan, atau yang mampu menerangi sekitarnya, ada teman yang berkomentar, tapi lilin itu akan segera mencair. Kasihan dirimu kalau dianalogikan sebagai lilin yang akan cair.

Komentar itu memang memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya yang menyukai analogi nyala lilin itu, melihat bahwa disana ada dua elemen: lilin dan nyala. Dimanakah anda ingin fokus? Saya akan fokus pada nyala, bukan pada lilin. Ungkapan diatas menggambarkan betapa sebuah NYALA KECIL dari lilin, bisa menyinari sekitarnya, serta bisa dibagikan kepada banyak lilin lainnya, dan dia tidak kehabisan nyalanya.

Beberapa saat berlalu, teman ini mengirimkan pesan kembali, terima kasih sudah menyalakan lilinku dengan korek apimu.

 

Kebaikan Diperbanyak dan Dibagi Bersama.

Saya hanya tersenyum membaca komen tersebut diatas, tapi langsung menanggapinya: Saya tidak menyalakan lilinmu dengan korek apiku. Sekitar 30-40 tahun lalu, seseorang menyalakan lilinku, dan saya sangat bersyukur untuk itu. Sepanjang perjalanan selanjutnya, saya tetap berusaha agar nyala itu tetap hadir. Apakah pernah pudar? Boleh jadi iya. Apakah pernah padam? Kemungkinan juga iya. Tetapi disekitarku cukup banyak orang yang sigap membuat nyala apiku itu tetap hadir. Apakah itu adalah lilin yang sama? Betul, itu adalah lilin yang sama, yang bernama Josef Bataona. Tapi dia telah bertumbuh menjadi pribadi yang mempunyai niat tulus, untuk tetap menjadi nyala api bagi sekitarnya.

Karena itu, terhadap teman yang mengatakan, saya menyalakan lilinnya dengan korek apiku, saya  menjawabinya: Saya menyalakan lilinmu dengan nyala lilinku yang kuterima 30-40 tahun lalu, bukan dengan korek api. Berikut foto bersama teman2 saat peluncuran.

Nyala yang Terus Diwariskan

Kisah tentang nyala lilin ini mengingatkan saya pada sebuah kutipan dari George Bernard Shaw:

“Life is no brief candle to me. It is a sort of splendid torch which I am permitted to hold for the moment, and I want to make it burn as brightly as possible before handing it on to future generations.”

Bagi Shaw, hidup bukanlah lilin kecil yang sebentar lagi padam, melainkan obor indah yang untuk sementara dipercayakan kepada kita. Tugas kita adalah menjaganya agar tetap menyala seterang mungkin sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Saya menemukan makna yang dalam di balik ungkapan ini. Hidup bukan semata-mata tentang berapa lama kita diberi kesempatan untuk menyala, melainkan bagaimana kita menggunakan kesempatan itu untuk membawa manfaat bagi sesama.

Pesan bagus saat peluncuran buku Mindful at Work, tapi juga diingatkan dibeberapa bagian buku itu: Thriving not just surviving. Pertanyaan sederhana untuk refleksi: Apa yang bisa saya pelajari hari ini, agar saya juga bisa membantu orang lain?

Dalam keseharian, nyala itu tidak harus berupa tindakan besar. Ia bisa hadir ketika kita menyediakan waktu untuk mendengarkan seseorang, memberikan kepercayaan kepada mereka yang sedang belajar, berbagi pengalaman agar orang lain tidak harus mengulang kesalahan yang sama, atau tetap menghadirkan ketenangan ketika lingkungan sedang diliputi tekanan.

 

Pemimpin Yang Terus Bertumbuh

Bagi seorang pemimpin, menjaga nyala berarti terus bertumbuh agar dapat membantu orang lain bertumbuh. Bukan menjadikan diri sendiri satu-satunya sumber cahaya, melainkan menyalakan keberanian, kepercayaan diri, dan potensi orang-orang di sekitar kita. Sampai suatu saat, mereka pun mampu menjadi cahaya bagi orang lain.

Kita memang perlu menjaga diri agar tetap menyala. Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar mempertahankan nyala itu untuk diri sendiri. Ada saatnya kita perlu membagikannya, bahkan menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Perjalanan hidup saya sendiri mengajarkan bahwa nyala yang saya miliki hari ini bukan semata-mata hasil usaha saya. Ada orang-orang yang puluhan tahun lalu telah menyalakannya. Ada yang memberi kesempatan, membagikan kepercayaan, menunjukkan teladan, atau hadir ketika saya membutuhkan dukungan. Sepanjang perjalanan, ada pula orang-orang yang membantu menjaga nyala itu ketika mulai meredup.

Kini, saya menyadari bahwa menjaga nyala bukan hanya tentang apa yang masih bisa saya lakukan, tetapi juga tentang siapa yang bisa saya bantu bertumbuh. Sebab, ketika kita membagikan pengalaman, nilai-nilai, dan kebaikan kepada orang lain, kita sedang menyiapkan nyala-nyala baru yang kelak menerangi lebih banyak kehidupan, bahkan ketika kita tidak lagi berada di sana.

Dengan demikian, warisan terbaik bukanlah seberapa lama nama kita dikenang, melainkan seberapa banyak nyala kebaikan yang terus hidup melalui orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

Mari menjaga nyala diri sendiri, tanpa lupa membagi nyala pada orang lain. Tetap bercahaya, terus membawa makna, dan pada waktunya, dengan sukacita, menyerahkan obor itu kepada generasi berikutnya.

“Siapa yang nyalanya menjadi lebih terang karena kehadiran saya?”

Pertanyaan sederhana, tetapi bisa menjadi refleksi berharga bagi siapa pun yang ingin hidupnya terus membawa MAKNA.

“Someday perhaps the inner light will shine forth from us, and then we’ll need no other light.” (Johann Wolfgang von Goethe)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 mba Santi. Mari kita saling mengingatkan dan saling belajar. Nantikan buku keenam yang akan...

Santi Sumiyati:
Selamat siang Pak Josept…terima kasih untuk tulisannya yang sangat menginspirasi. Dari tulisan...

josef:
Terima kasih pak Aktry Sani Husni, kalau saya bisa kalianpun bisa, dimulai dengan hal kecil keseharian. Yang...

Aktry sani Husni:
Bapak luar biasa, banyak ide sederhan yang muncul setelah mendengarkan materi bapak. Salah satu nya...

josef:
Terima kasih sama2 Lia, ditengah kesibukanmu dalam perjalanan baru, masih sempat menyimak tulisan ini dan...


Recent Post

  • Tetap Bercahaya dan Terus Membawa MAKNA
  • MEMANUSIAKAN MANUSIA Dalam Keseharian
  • Dari Berbagi Pengalaman ke Menumbuhkan Potensi: Esensi Seorang Mentor
  • Jangan Hanya Menekan Tombol Lantai
  • Menerima Kebaikan dan Membaginya Kembali
  • Mengembangkan Manusia Ketika AI Semakin Pintar
  • Jaga Harmoni Samakan Sudut Pandang
  • Beyond the Moment
  • Creating Moments
  • Sebelum Pensiun, Sudahkah Kita Menyiapkan Diri?