Berapa Sering Harus Pindah Kerja?

Posted on October 20th, 2017

“The fishermen know that the sea is dangerous and the storm terrible, but they have never found these dangers sufficient reason for remaining ashore.” (Vincent Van Gogh)

SEMANGAT BELAJAR mereka memang luar biasa. Sebagian dari mereka sudah bekerja, karena itu kuliah sore ini menjadi tambahan agenda harian yang harus mereka atur secara bijak. Di lantai dua, kampus Unika Atma Jaya, sore itu, saya bertemu mereka untuk berbagi pengalaman, memotivasi mereka untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin demi masa depan mereka yang lebih baik lagi. Mereka sedang belajar di Program Magister Administrasi Bisnis Atma Jaya.

20 Oktober 2017_Berapa Sering Harus Pindah Kerja1

Saat sesi tanya jawab, ada pertanyaan peserta yang menggelitik saya untuk mengulasnya kembali di sini.

Berapa kali harus pindah kerja?

Latar belakang pertanyaan tersebut adalah karena: Pertama, kesempatan memilih pekerjaan semakin banyak, dan kita punya peluang untuk memilih. Kedua, pilihan kita saat ini belum tentu yang terbaik, karena sesuai situasi di mana pilihan itu dibuat. Dan ketiga, perubahan berjalan begitu cepat sehingga pekerjaan saat ini bisa saja sudah tergantikan dengan model atau system kerja yang baru lagi.

Pertanyaan tersebut saya tanggapi dengan balik bertanya: Apa motivasimu bekerja? Mencari uang? Belajar dari pengalaman? Ingin tumbuh dan berkembang di perusahaan itu? Membangun jaringan persahabatan? Dan masih banyak lagi daftar yang bisa dibuat oleh masing-masing kita.

Di berbagai kesempatan saya selalu mengemukakan:

“Lakukan pekerjaanmu saat ini dengan sungguh-sungguh, karena ini bisa menjadi kunci pembuka kesempatan sukses berikutnya.”

Mengapa ini penting? Karena dengan demikian fokus energy-mu adalah pada pekerjaan saat ini, bukan terbagi memikirkan kemana lagi saya harus mencari pekerjaan. Fokus belajar adalah pada kesempatan bekerja saat ini, karena banyak sekali yang justru berusaha menghindar dari kenyataan, dengan alasan tidak ada lagi yang bisa dipelajari di tempat ini. Akhirnya begitu pindah ke tempat lain, dia harus mengalami yang sama (masalah yang harus dihadapi) di tempat lain, karena pelajaran di tempat lama dia belum lulus.

Ada dua kemungkinan bisa terjadi. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran di saat ini, maka kesempatan untuk berkembang dalam karier terbuka, dan uang adalah konsekuensi logis saja dari itu. Atau, kalaupun pilihannya adalah pindah, maka ilmu dan pengalaman sejauh ini akan menjadi modal yang sangat bermanfaat.

Terakhir, apakah ada push factor dari dalam atau sekedar pull factor dari luar yang menggoda? Kalau tidak ada push factor dari dalam, abaikan sementara tawaran dari luar dan fokus pada pekerjaanmu sekarang dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana mengasah kemampuan mendengarkan?

Salah satu pertanyaan lainnya dari peserta adalah, bagaimana mengasah kemampuan mendengarkan.

Sebagai pemimpin, salah satu skill yang diperlukan adalah “Kemampuan Mendengarkan” dan mendengarkan bukan sekedar dengan telinga, tapi dimulai dari meluangkan waktu untuk itu, membuka mata, telinga, hati dan seluruh diri kita. Banyak teori leadership yang membahas tentang ini.

Tapi kitapun bertanya, mengapa masih banyak curhatan-curhatan yang hadir tidak pada tempatnya, entah kepada sesama rekan kerja, bahkan sampai ke social media. Hemat saya, karena mereka merasa belum mendapatkan lingkungan yang aman dan menggugah setiap anggota untuk berani mengungkapkan isi hati, usul, saran secara terbuka.

Ada 3 (tiga) saran sederhana yang saya kedepankan saat itu:

  1. Pertama, harus dimulai dengan niat tulus untuk luangkan waktu dan mendekatkan diri dengan tim.
  2. Kedua, belajar coaching, karena kemampuan seorang coach sangat tergantung pada kepiawaiannya bertanya dan mendengarkan.
  3. Ketiga, simak Buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan untuk Para Pemimpin.

Pada kesempatan itu juga, ada empat orang beruntung mendapatkan hadiah buku tersebut dan Buku Kisah Rp 10.000 Yang Mengubah Hidupku.

20 Oktober 2017_Berapa Sering Harus Pindah Kerja2

Sementara itu, ada peserta lain yang ketika bubaran menyampaikan:

“Saya ingin nyeberang nyari buku itu di toko buku sebagai hadiah bosku.”

Sebuah inisiatif yang terpuji, proaktif menyampaikan pesan pada pimpinannya melalui hadiah ini. Tentu saja cara menyampaikannya juga tidak kalah pentingnya, agar bisa diterima, diapresiasi, dibaca dan diterapkan.

“The pessimist complains about the wind; the optimist expects it to change; the realist adjusts the sails.” (William Arthur Ward)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET