Disiplin Membangun Kebiasaan Positif

Posted on December 17th, 2021

“One discipline always leads to another discipline.” (Jim Rohn)

KEBIASAAN POSITIF tidak muncul begitu saja. Kita perlu membangunnya dalam waktu lama, dan perlu disiplin. Ada kebiasaan yang selama ini dibuat banyak orang, yaitu membuat resolusi di awal tahun. Ini merupakan sebuah awal yang bagus. Namun apa yang ada dalam pikiran orang saat menuliskan resolusi? Membuat to do list untuk dicentang kalau sudah dilakukan? Mudah-mudahan ada juga yang berusaha untuk secara sadar membangun kebiasaan yang akan berlanjut untuk jangka panjang, tanpa batas waktu.

Ngobrol Santai di SmartFM

Tema obrolan nampak rada serius: The Infinite Leadership Mindset: NAVIGATING A COMPLEX WORLD.

Host, mbak Anastasia Uli mengawalinya dengan pertanyaan ringan tentang apa 3 kunci sukses atau prinsip dalam hidup dan pekerjaan, mengingat tidak banyak orang yang berhasil mencapai puncak karier di perusahaan ternama.

Dalam tulisan ini saya hanya mau menggaris-bawahi satu saja, yaitu DISIPLIN. Dalam kehidupan secara umum, disiplin berkaitan dengan janji pada diri sendiri, untuk menjadikan sesuatu yang baik itu KEBIASAAN. Contoh, setiap pagi saya bersama istri keluar rumah untuk jalan pagi, dilanjut dengan olahraga ringan di rumah. Kebiasaan ini kami bangun sejak lama secara disiplin. Dan disiplin ini juga diterapkan di segi kehidupan lainnya, termasuk dalam perjalanan karier. Disiplin waktu, disiplin belajar mengembangkan diri, disiplin dalam mempedulikan pengembangan karyawan, disiplin untuk bersyukur. Bila semua itu dilakukan secara rutin maka akan menjadi kebiasaan.

Bukan pula sebuah kebetulan bahwa di tahun 2018, team kami sengaja memilih tema HR Annual Workshop: Go Beyond. Simak juga link ini: https://www.josefbataona.com/employee-engagement-2/go-beyond/

Dengan tema ‘Go Beyond’, saya mengajak masing-masing peserta untuk berpikir lebih jauh lagi melampau batas imaginasi. Diskusi tentang  change dan disruption harus bisa disikapi secara bijak karena orang bisa cemas atau justru menumbuhkan harapan akan perubahan yang lebih baik.

 

Saya Manusia Biasa

Sementara itu, pa Eloy Zalukhu mencoba memotret perjalanan karier dan hidupku dari perjalanan sukses menuju puncak, kemudian pensiun, dimana kemungkinan semua kenyamanan yang berkaitan dengan posisi sebagai direktur akan lenyap.

Pertanyaan pertama berkaitan dengan kesibukan selagi aktif, kemudian pensiun, apa yang terjadi dalam keseharian. Karena banyak orang yang berpikir bahwa kalau sudah terbiasa aktif bekerja, dengan jadwal yang rutin dan padat, maka ketika pensiun akan ada tantangan baru dalam kehidupan, bisa merasa jenuh dan bosan, karena kesibukan berkurang.

Kedua, berhubungan dengan Self-Identity. Maksunya, waktu menjabat sebagai pimpinan apalagi di perusahaan ternama dengan puluhan ribu karyawan, secara sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, seseorang bisa merasa nyaman dilayani dan dihormati, dan itu selama bertahun-tahun.

Ada dua hal penting yang perlu saya garis-bawahi sehubungan dengan pernyataan diatas:

  1. Dulu, sekarang dan nanti, Josef Bataona adalah manusia biasa, yang kebetulan mendapat label yang berbeda-beda di lingkungan yang berbeda. Saya disebut bapa oleh anakku, suami oleh istriku, coach saat melakukan coaching dan di organisasi labelnya Josef yang manusia biasa itu, adalah Direktur
  2. Semakin tinggi posisi saya dalam organisasi, semakin banyak yang saya layani. Sebagai karyawan, saya melayani atasan dan beberapa rekan kerja. Menjadi manager, saya melayani atasan dan beberapa anak buah, rekan kerja dan juga stakeholder lain di luar organisasi. Sebagai direktur, saya melayani banyak anggota tim dan juga banyak karyawan. Belum lagi dihitung stakeholder lain di dalam atau di luar organisasi. Jadi di posisi atas saya yang melayani, bukan sebaliknya.
  3. Dengan mindset seperti itu, maka saya akan terus belajar (saya ulangi, saya terus belajar) hadir di manapun juga, termasuk saat pensiun, dengan identitas utama adalah Josef Bataona yang Manusia Biasa.

Jadi saat pensiunpun saya terus melayani melalui tulisan di buku, blog atau sosmedku, atau berbagi kepada komunitas di perusahaan atau publik yang membutuhkan inspirasi dari perjalanan hidup atau karierku, dan lain-lain.

Infinite Mindset

Pertanyaan yang lebih serius diajukan Host: Menurut Pak Josef, bagaimana kita bisa menavigasi kehidupan dan memimpin dalam kondisi seperti demikian. Apakah The Infinite Leadership Mindset seperti ditawarkan oleh Simon Sinek menjadi jawabannya? Mohon dijelaskan bagaimana caranya.

  1. Kalau kita percaya konsep Infinite Mindset, kita hendaknya juga percaya, bahwa semua yang kita alami ini mempersiapkan kita untuk masa depan yang lebih baik.
  2. Jauh sebelum pandemi, kita sudah banyak bicara tentang disruption, digitalisasi dan Industry 4.0. Tapi apa yang dilakukan sejauh ini? Saat pandemi, kalau kita belum sepenuhnya siap, bagaimana kita menyikapi ini? (Bukan bertanya siapa yang salah)
  3. Pengalaman ini boleh jadi memacu kita untuk bergerak cepat. Dan ternyata banyak perusahaan yang mempercepat proses transformasi/digitalisasi. Karyawan dipacu untuk belajar dan implementasi teknologi baru. Dan ternyata bisa.
  4. Saya dan beberapa teman Coach, mencoba melakukan coaching untuk guru2 di daerah melalui zoom untuk membantu menegakkan resilience mereka. Juga coaching untuk Teman Tuli yang juga memerlukan perhatian selama pandemi. Mereka menjadi alasan kami terus melayani, tapi tangan kami juga digunakan oleh Tuhan untuk membantu mereka, pada waktunya, demi tugas mereka di kemudian hari.
  5. Dalam konteks mempertahankan budaya organisasi: apa yang terjadi sebelum pandemi, akan berlanjut selama pandemi. Kalau pola engagement sebelum pandemi kurang harmonis, akan berlanjut selama pandemi. Namun pandemi bisa membuka mata kita untuk memperbaiki situasi demi masa depan, di saat next normal.
  6. Teknologi tidak bisa menggantikan semuanya. Masih ada Values, Heart, Passion, Kindness, Meaning, yang tidak bisa digantikan mesin.

Satu jam ternyata tidak cukup untuk obrolan kami, karena masih banyak yang sebetulnya mau ditanyakan terutama dalam kaitan konsep Infinite Mindset. Dan masih banyak pula yang mau diceritakan. Semoga masih ada kesempatan obrolan berikutnya lagi.

 

“The only discipline that lasts is self-discipline.” (Bum Philips)

 

Catatan:

Karena liburan akhir/awal tahun, postingan baru tidak hadir di blog tanggal 24, 31/12 2021 dan 07/01 2022. Postingan baru akan hadir Kembali 14/01/2022

 

Bookmark and Share

2 Responses to Disiplin Membangun Kebiasaan Positif

  1. Terima kasih pak Joseph atas tulisan dengan tema Disiplin yang dibangun dengan butuh waktu. Tdk lahir begitu saja namun sebuah habit.
    Disiplin waktu, disiplin belajar mengembangkan diri, disiplin dalam mempedulikan pengembangan karyawan, disiplin untuk bersyukur. Bila semua itu dilakukan secara rutin maka akan menjadi kebiasaan.
    Disiplin memiliki cakupan yang sangat luas yang tentunya di dalamnya ada Proses dan Komitmen.
    Senang membaca artikel Disiplin Membangun Kebiasaan Positif. Orang sukses pasti melakukan ini.
    Sekali lagi terima kasih atas buah karya ini yang tentunya semua lapisan posisi pasti sangat membutuhkannya.

    Salam

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 Tromol. Keberhasilan membangun satu disiplin, akan berdampak pada disiplin untuk aspek lainnya lagi. Ini akan terus bergulir ke bidang kehidupan atau profesi yang lain lagi. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna