Jeli Saat Menjadi Andalan

Posted on February 5th, 2021

“Patience is the calm acceptance that things can happen in a different order than the one you have in your mind.” (David G. Allen)

MEMOTRET obyek dari sudut yang tepat bisa menghasilkan karya yang spektakuler. Ini membutuhkan ketajaman, bukan saja mata tapi juga seluruh perasaan dan pikiran, dalam melihat obyek tersebut. Begitu juga dalam mengenali talenta, dibutuhkan ketajaman insani dalam mencermati kesehariannya, pola kerja, pikiran dan perilakunya. Ketrampilan seperti itu akan bisa diraih dari pengalaman, berkat latihan terus menerus. Tanpa disadari, pada suatu titik, karyawan tersebut sudah berada dalam radar sang pemimpin sebagai karyawan andalan, karyawan yang layak dipercaya.

Sukses Membangun Trust

Sering saya sampaikan melalui tulisan, bahwa TRUST itu tidak datang begitu saja saat kita menyodorkan ijazah/sertifikat atau sudah mendapatkan posisi tertentu. Kita harus berusaha meraihnya.

Ada seorang karyawan yang dalam waktu singkat berhasil meraih TRUST, bukan saja dari atasannya, tapi juga dari rekan kerja, bawahan dan juga pimpinan dari unit yang berbeda. Awalnya tentu dia bahagia, termotivasi. Kerjaan demi kerjaan diberikan kepadanya di luar job-descnya, termasuk pekerjaan yang seharusnya ditangani rekan kerjanya. Dia merasa ini kesempatan untuk belajar dan tak akan dia lewatkan.

Selanjutnya jam kerjanya semakin bertambah untuk menyelesaikan pekerjaan, weekendnya juga tersita, bahkan saat liburnyapun dia dedikasikan untuk menyelesaikan berbagai penugasan, akhirnya dia mulai berpikir, apakah ini kehidupan sesungguhnya? Overloaded tak teratasi. Dia merasa ada yang salah, tapi apa? Dia mulai demotivasi, merasa kewalahan dan akhirnya dia bertanya pada diri sendiri, apakah dia sudah menjadi korban dari system.

Kesempatan sesi CHRP (Certified Human Resource Professional) dengan 80 peserta dari berbagai bisnis, kami coba diskusikan kasus ini. Apa tanggapan peserta CHRP, yang sebagian fotonya kami tampilkan berikut ini?

Sisi Positif dibalik Perasaan Sebagai Victim

Umumnya peserta berpendapat bahwa selalu ada sisi positif atau manfaat dari situasi seperti itu, yang perlu digali.

  • Walau susah sekarang tapi bisa dapatkan pelajaran banyak.
  • Siapkan diri untuk masa depan, buahnya ada di depan.

Tapi itu sudah disadari oleh yang bersangkutan, sampai titik dia merasa overloaded, dimana dia membutuhkan jalan keluar. Kita bisa mendorongnya untuk terus mencari jalan, seperti saran Thomas A. Edison: “There’s a way to do it better – find it.”

  • Yang lain sharing pengalaman yang dialami, dimana mereka menyarankan yang bersangkutan juga berbicara dengan atasannya secara terbuka. Dan hasilnya, setelah diskusi dengan atasan dia diberi tambahan satu bawahan.
  • Sementara sahabat lainnya yang punya kasus serupa, selain menyarankan karyawan itu untuk berbicara dengan atasannya, sebagai HR dia juga secara parallel berbicara dengan atasan yang bersangkutan. Dan ternyata isunya adalah kurang transparan, dimana atasan kurang menjelaskan kenapa banyak pekerjaan itu muncul. Ternyata hanya sementara, karena system eror

Dari komentar itu, ada muncul isu komunikasi yang transparan. Luangkan waktu untuk dialog dengan bawahan, bertanya dan mendengarkan, agar bisa membantu di saat mereka membutuhkannya.

Disamping itu, ada tantangan yang lebih besar lagi, saat seorang sahabat mengemukakan kasus lain, dimana atasan karyawan tersebut juga turut mendesak menyelesaikan pekerjaan di luar jam normal yang ternyata sama seperti kisah diatas. Ini seakan menjadi norma baru, hanya karena atasan ingin menyenangkan atasan lagi. Tipe atasan  seperti itu tidak bisa diandalkan untuk membela anak buah. Dalam situasi seperti itu, bawahan harus berjuang sendiri, termasuk mencoba menerapkan lima saran berikut ini.

Growth Mindset Menunjang Kesuksesan Karier

Karena diskusi itu mengarah ke pendapat bahwa selalu ada sisi positif dibalik setiap pengalaman, menarik juga untuk menyimak tulisan Caroline Castrillon di Forbes, berjudul Why A Growth Mindset Is Essential For Career Success, yang diawali dengan pernyataannya: “Having a successful career depends on cultivating a growth mindset.”

Selanjutnya dia menjelaskan:

“A growth mindset is based on the idea that your essential qualities are things you can cultivate through your efforts. It assumes that everyone can change and grow through experience and practice. A growth mentality sees failure not as a detriment, but as a springboard to success. Failing is actually a form of learning.”

Kembali ke sahabat yang merasa sebagai victim walau menjadi andalan, kita mungkin perlu membantu dia untuk menyikapi situasi penuh tantangan itu secara positif. Mungkin coaching bisa membantu dia dengan beberapa pertanyaan berikut:

  • Bagaimana dia menyikapi situasi yang dihadapi itu secara positif?
  • Apa makna pengalaman ini untuk pengembangan dirinya?
  • Adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk meringankan pekerjaan itu?
  • Siapakah orang (atasan, rekan kerja, atau kalau perlu bawahan) yang bisa diajak diskusi untuk menggali ide2 untuk membantu meringankan pekerjaannya?

Pertanyaan tersebut membantu dia untuk mencoba melihat beban kerja saat ini secara lebih positif, sambil membangun keyakinan bahwa ada cara yang lebih baik, yang belum dia temukan, tapi pasti bisa dia temukan.

Saya Pemegang Kendali Hidupku

Selanjutnya, Caroline Castrillon menawarkan lima cara memegang kendali atas perilaku kita dalam memperkuat Growth Mindset;

  1. Embrace failure

Langkah awal membangun Growth Mentality adalah berusaha melihat sisi positif dari sebuah kegagalan atau situasi yang nampak tidak mungkin. Semua orang pernah mengalami kemunduran atau kegagalan, tetapi yang penting adalah apa yang dipelajari dari pengalaman itu? Orang2 besar yang kita kenal saat ini sebagai orang sukses, pernah gagal, tapi mereka memetik pelajaran dari kegagalan itu dan terus melangkah.

 

  1. Become a lifelong learner

Mereka dengan Growth mindset aktif mencari kesempatan belajar, sehingga bisa lebih sukses. Pupuk rasa ingin tahu. Riset menunjukan bahwa 85% orang sukses membaca dua  atau lebih buku tentang pengembangan diri dalam sebulan. Bahkan 30% eksekutif mengatakan bahwa keinginan untuk terus belajar merupakan karakteristik yang paling diperlukan seorang karyawan untuk sukses.

 

  1. Seek out challenge

Tantangan merupakan kesempatan untuk mempercepat pengembangan diri dan pencapaian tujuan, seperti kata C.S. Lewis:  “Hardships often prepare ordinary people for an extraordinary destiny.”

Jangan meremehkan kemampuanmu untuk mengatasi hambatan. Apakah anda merasa nyaman di karier sekarang ini? Mungkin itu merupakan indikasi bahwa sudah saatnya mencari tantangan baru di luar zona nyaman

 

  1. Go beyond your limits

Cara lain untuk memperkuat growth mentality adalah dengan memaksa diri melewati batas yang diyakini sebagai batas kemampuan diri. Sebuah studi menarik, periset meminta peserta untuk mengayuh sepedanya sebisa mereka sejauh 4 km. Selanjutnya, mereka diberi instruksi yang sama, tetapi bertanding dengan seorang avatar yang juga bersama mereka di putaran sebelumnya. Mereka tidak tahu bahwa Avatar ini mengayu sepeda lebih cepat dari sebelumnya. Hasilnya, peserta mengikuti kecepatan Avatar, menempuh jarak yang lebih jauh. Jadi kalau kita bisa memaksa diri, kita bisa melampaui harapan kita sendiri.

 

  1. Ask for feedback
    Orang yang mempunyai growth mindset ingin terus men-challenge dan mengembangkan diri mereka. Karena itu mereka membutuhkan umpan balik. Mereka tidak takut dengan kritik. Begitu kita paham bahwa kita bertanggung jawab atas pengembangan diri sendiri, kita tidak takut akan feedback dan justru belajar dari itu.

Dunia berubah cepat. Laporan McKinsey mengatakan bahwa sampai dengan 2030 ada 375 juta pekerja sedunia yang perlu mengubah perannya atau perlu belajar skill baru. Masing-masing kita jeli mencermati sambil terus Learning, Unlearning dan Relearning agar tetap eksis. Semoga sahabat yang mengalami situasi sulit diatas bisa menemukan jalan untuk mengatasinya.

“Learning patience can be a difficult experience, but once conquered, you will find life is easier.” (Catherine Pulsifer)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Mudji, semoga sehat selalu. Kalau bisa bicara pasti bisa menulis. Yang diucapkan kalau dituangkan...

Mudji:
Masyā Allāh, bahagia sekali baca tulisan Pak JOS & semua sharingnya… Ternyata ketidak-pedean menulis...

josef:
Terima kasih Abu Azzam sudah menyimak cerita di blog ini. Saya sudah email link untuk pesanan buku online...

-:
Coach, saya dari papua barat, saya sangat berminat untuk memiliki bukunya “leader as meaning maker”....

josef:
Terima kasih Tasha untuk kunjungannya ke blog ini dan menyimak tulisan2 yang saya hadirkan disini. Bila terasa...


Recent Post

  • Terima Kasih Pintuku Dibuka
  • VALUES Landasan Sukses
  • BERMAKNA Bagi Orang Lain
  • Berani Bersuara
  • Saya Belajar Bersyukur dari Murid SD
  • Mengukir Positive Legacy
  • Coaching for Student’s Resilience
  • Mengasah Intuisi Menginterpretasi Simbol
  • Jeli Saat Menjadi Andalan
  • Banyak Cara Saling Menyapa