Sikapi Dengan Hati Yang Jujur

Posted on September 11th, 2020

“A bird sitting on a tree is never afraid of the branch breaking because her trust is not on the branch but on it’s own wings. Always believe in yourself.” (Unknown)

WEBINAR sudah usai, dengan kesan dan pembelajaran diambil oleh masing-masing peserta. Namun karena keterbatasan waktu, tidak semua pertanyaan di chat bisa dijawabi semua. Namun kami memang menjanjikan kepada semua peserta, bahwa semua pertanyaan akan kami jawabi tertulis dan dikirimkan ke email masing-masing. Karena saya merasa semua pertanyaan ini bagus terkait dengan webinar ini, maka setelah semua peserta memperoleh jawaban tertulis, saya merasa perlu untuk menyimpannya secara rapih di blog ini untuk dokumentasi pribadi dan juga bisa disimak semua pembaca. Jawaban berikut ini berkaitn dengan webinar yang saya sudah paparkan di blog ini:

https://www.josefbataona.com/leadership-2/tim-membutuhkan-trust/

 

Secara umum menjawabi pertanyaan tentang trust:

  1. Selalu mulai dari melihat diri sendiri, apakah saya adalah pribadi yang layak dipercaya atau tidak. Apakah saya adalah pemimpin yang layak dipercaya atau tidak. Kalau belum lakukan koreksi
  2. Tugas utamamu adalah membangun kepercayaan secara horizontal (dengan rekan kerja) dan vertical: dipercaya atasan dan dipercaya bawahan
  3. Hasil ini tidak akan diraih dalam sehari, namun harus dimulai dari hari ini
  4. Semua potret kejadian yang dipertanyakan dibawah ini, hendaknya dilihat dengan hati yang jujur, bahwa ada niat baik untuk memperbaiki situasi, bukan untuk untuk menyalahkan orang lain.
  5. Saya sangat menyarankan agar setiap leader dilengkapi dengan coaching skill.

TRUST ini akan menjadi pra-syarat seorang Leader tampil apa adanya dalam membantu teamnya untuk menemukan MAKNA penting di balik apa yang mereka kerjakan. Simak juga buku Leader as MEANING MAKER, oleh Josef Bataona, yang bisa dipesan melalui link: Link Pesanan: https://bit.ly/bukuJB3 Atau hubungi WA Meisia 0818111620.

Menyikapi secara Positif

Dalam menyimak berbagai pertanyaan dan jawaban berikut ini, hendaknya dibawah dalam refleksi untuk pembelajaran diri sendiri. Seandainya saya seorang leader, apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik, terutama dalam membantu team. Bila saya adalah individu, apakah ini bisa menjadi cermin untuk melihat wajah saya, untuk bisa meniatkan perbaikan kedepan:

 

  1. Bagaimana mengembalikan kepercayaan anggota team yang sudah hilang? Kemudian bagaimana membuat trust secara cepat kepada team yang baru saja kita berkomunikasi/bertemu:

Kalau yang dimaksud adalah kepercayaan anggota team kepada anda sebagai leader, maka anda harus mulai dengan mencari tahu mengapa anggota teammu tidak mempercayaimu. Kejadian apa yang membuat mereka yakin, anda tidak layak dipercaya? Mulai niatkan bahwa anda akan berubah, dan ajak teammu untuk berbicara terbuka, dan rutin memberikanmu feed-back. Berikan apresiasi kepada mereka yang berani memberikan feed-back secara jujur.

Bagi yang baru bertemu, tunjukan secara gamblang perilaku yang sejalan dengan apa yang anda sampaikan kepada mereka. Berikan berbagai contoh perilakumu dalam keseharian agar mereka cepat percaya. Perbuatan berbicara lebih lantang dari perkataan.

  1. Bagaimana cara menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri dan menumbuhkan kepecayaan orang lain terhadap diri kita sendiri… Sementara dalam sebuah tim secara stratifikasi kita secara pribadi termasuk klas yang terbawah…

Percaya diri ditempat kerja bisa dikembangkan karena kita terus belajar untuk bisa bekerja dan berkontribusi. Banyak bergaul dan belajar dari teman2mu atau siapa saja, tentang cara mereka membangun percaya dirinya. Selama anda bisa mengerjakan apa yang menjadi tanggung-jawabmu secara baik, dan belajar untuk mengerjakan lebih dari sekedar job descriptionmu, anda sedang membangun rasa percaya diri, bahwa anda bisa.

  1. Bagaimana cara mudah membuat atasan sadar bahwa ybs mulai tidak dipercaya dengan Teamnya?
  • Seberapa terbuka hubungan anda dengan atasan. Bila anda mau menyampaikan ini, anda harus mempunyai hubungan yang baik, raport yang baik, sehingga atasan mau mendengarkanmu.
  • Cara membangun hubungan baik dan mendapat respek dari atasan adalah dengan memberikan performance yang bagus, dan ini bisa menjadi sarana untuk berbicara terbuka dengan atasan
  • Sebelum itu dilakukan, yakinlah dulu kalau atasan anda type orang yang mau menerima feed-back
  • Selagi mencari jalan yang terbaik, satu hal yang harus anda lakukan adalah: berbuat sebaik mungkin dalam kerja sama dengan teammu, agar anda bisa mendapatkan respek dan kepercayaan penuh dari anak buahmu. Dengan demikian anda tidak mengulangi hal yang sama yang terjadi pada atasanmu.

4. Bagaimana cara membangun trust terhadap orang yang bersebrangan pendapat dengan kita?

  • Anda harus mulai secara proaktif membuka diri dan mengajak dialog dengan yang bersangkutan
  • Dalam dialog itu, anda harus mulai dengan menghargai perbedaan pendapat antara kalian berdua
  • Bilamana demi kepentingan bersama yang lebih besar diperlukan pembahasan lebih lanjut, ajak diskusi secara terbuka. Karena belum tentu pendapatmu sepenuhnya benar, atau pendapatnya sepenuhnya salah.
  • Dengan cara seperti ini, anda sudah membangun hubungan pertemanan yang lebih baik, tapi juga mulai mendapatkan kepercayaan orang lain itu, karena dia merasa didengarkan dan pendapatnya dihargai.

5. Kita sudah memulai untuk membangun kebersamaan dengan tim, memulai dari yang sederhana untuk berkerjasama, namun ada saja salah satu di antara anggota tim yang TETAP lebih senang kerja sendiri, yang penting pekerjaannya sesuai JOBNYA selesai, dia kurang peduli dengan timnya. Bagaimana cara atau tips meyakinkan anggota tim tersebut bahwa kerjasama tim hasilnya jauh lebih baik dibandingkan dengan kerja sendiri.

  • Sebagai atasan, ajak diskusi yang bersangkutan dengan memberikan gambaran tugas Bersama yang lebih besar.
  • Ajak dia untuk bekerja dalam proyek yang keberhasilannya dinilai berdasarkan hasil tim.
  • Teknik coaching juga bisa digunakan untuk ini. Karena itu setiap leader hendaknya mempunyai coaching skill.

6. Dalam kondisi/situasi yang sangat cepat berubah, sekarang ini, bagaimana sebaiknya melakukan branding leadership yang sesuai?

  • Anda yang memilih, saya mau dikenal teamku sebagai pemimpin seperti apa?
  • Setiap hari, semua interaksi kita dengan tim, semua yang dikerjakan atau yang disampaikan kepada team harus bisa memperlihatkan konsistensi itu.
  • Contoh: saya ingin dikenal sebagai pemimpin yang tegas tapi juga mau mendengarkan dan melibatkan team dalam menggali berbagai ide2 bagus dalam tugas. Bila demikian halnya, saya harus bisa mendemonstrasikan dalam keseharian kerja.

7. Bagaimana jika saya sudah membuat empowerment etos kerja dan lingkungan yang asik tetapi staf yang lain masih suka malas-malasan karena pimpinan utama saya belum memiliki job management yang baik sehingga sering jobless, apa yang sebaiknya saya lakukan?

  • Tidak jelas disini, apa yang dimaksud dengan empowerment etos kerja. Apakah yang dimaksudkan adalah mengimplementasikan?
  • Perlu diperjelas, mengapa etos kerja itu baru diberlakukan? Cara mensosialisasikan apakah sudah benar? Seberapa besar komitmen para leader sampai ke pimpinan puncak untuk hidup sesuai etos kerja yang dimaksud? Kalau belum, tugas pertama adalah mendapatkan kesepakatan para pemimpin untuk etos kerja tersebut, sebelum karyawan diminta untuk menerapkan etos kerja dimaksud. Karena materi sosialisasimu hanya berdampak 10%, selebihnya mereka akan belajar dari perilaku para pemimpinnya.
  1. Saya pernah baca buku, agar mampu bekerja secara maksimal selain trust yg perlu diberikan jg authority (wewenang). Bagaimana menurut Bapak?

Sangat setuju. Authority tergambar dalam empowerment. Dan empowerment tanpa trust, tidak akan memberikan hasil memadai

  1. Apakah produktifitas yang menurun dari karyawan itu juga mampu dipengaruhi oleh sikap atasan yang kurang empati terhadap bawahannya dan banyak memberikan tekanan dan beban kerja lebih? Karena kata dia ini demi kebaikan tapi sebagai bawahan menjadi beban dan produktifitas kurang maksimal.

Menyimak kalimatmu, saya berasumsi anda memberikan gambaran situasi orang lain, dalam hubungan kerja atasan dan bawahan. Pertanyaanku, seberapa banyak fakta yang anda ketahui untuk memberikan penilaian? Situasi seperti itu harus dicermati dari dua arah, dari sudut atasan dan bawahan. Dan kita perlu data yang valid untuk bisa memberikan penilaian, tapi yang lebih penting agar bisa mencari solusi.

  1. Bagaimana cara menghadapi atasan yg selalu meremehkan bawahan? Selalu memandang bawahan tidak capable.. Karena kesalahan masa lalu.

Mindset atasan tersebut harus berubah. Semua orang bisa berubah menjadi lebih baik. Bilamana leader sadar bahwa panggilan profesionalnya adalah untuk memaju-kembangkan anakbuahnya, maka dia akan berusaha untuk membuat mereka maju.
Pertanyaannya adalah, apakah anda yang pada posisi untuk mengubah pimpinan yang bersangkutan? Bila iya, coaching orang itu.

  1. Bagaimana agar trust bisa selalu melekat dalam diri kita supaya kondisi lebih nyaman dalam berkarya

TRUST itu diraih. Dan anda sendiri yang bertanggung-jawab menjadikan dirimu layak dipercaya, karena setiap hari semua unsur di organisasi atau masyarakat menyaksikan bahwa apa yang anda rasakan, yang dipikirkan, diucapkan senantiasa selaras dengan apa yang dikerjakan.

  1. Apakah ada gaya kepemimpinan tertentu yang lebih adaptif menghadapi perubahan kondisi yang begitu cepat sperti situasi pandemic ini?

Anda sendiri sudah menyebutkan: ADAPTIF. Artinya, gaya kepemimpinan kita hendaknya fleksibel disesuaikan dengan situasi. Dalam situasi seperti sekarang ini. Pemimpin yang mempunyai Growth Mindset dan senantiasa mengajak anggota team untuk terus mencari ide2 baru yang inovatif, akan bisa survive.

  1. Branding Leader seperti apa yang kita perlukan ketika terjadi conflik internal dalam sebuah tim. Dimana kita melihat adanya group deadwood dan group star…

Begitu anda membuat dua kelompok itu, deadwood dan star, anda sudah menempatkan diri pada keyakinan bahwa yang deadwood sudah harus dibuang. Itu sama dengan anda mendemonstrasikan bahwa saya sudah gagal dalam membuat teamku tumbuh berkembang. Bukan mereka yang gagal tapi anda sebagai pimpinan yang gagal. Cermati Kembali Langkah apa yang sudah anda lakukan untuk memperbaiki mereka: dibidang knowledge, skill, attitude?

  1. Bagaimana kiat terbaik u/ menyelaraskan dlm team antara generasi ‘old’ dgn ‘youth’/melenial?. Karena perbedaan ini menimbulkan 2 ‘kubu’

Kubu itu anda yang menciptakan. Semua unsur dalam organisasi perlu dibuat paham bahwa sepanjang waktu, kita akan mempunyai karyawan yang berbeda-beda, entah latar belakang ekonomi, sosial, Pendidikan dan lain2. Dan kita membutuhkan mereka dengan keragaman itu. Selama kita dekat dengan tim, kita akan bisa memahami berbagai dinamika yang terjadi, dan kita bisa ajak mereka untuk ikut serta mencari solusi, cara terbaik untuk bekerja dengan ragam manusia dalam kelompok itu. Intinya adalah keterbukaan semua pihak untuk melihat dan menghargai kehadiran semua insan dalam organisasi.

  1. Bagaimana dengan kondisi membangun trust kerja tim antara generasi millenial sbgai bawahan yg sering mempertanyakan keputusan atau memberi kritik/saran pd pemimpin. Namun setelah diberi kritik atau mempertanyakan keputusan, pada akhirnya mutasi atau pembunuhan karier jadi ancaman dari pimpinan. Apa yg salah menurut bapak? Apakah krena ide/kritik/saran generasi millenial kurang dipercaya atau pemimpin yg tdk open-minded sudah tidak sesuai lagi memimpin dalam era generasi milenial saat ini? Terima kasih
  • Siapapun kita, dari generasi manapun, atau dari latarbelakang apapun, sebelum kita masuk kedalam lingkungan tertentu, kita harus belajar tentang kebiasaan-kebiasaan, pola komunikasi atau budaya di lingkungan itu. Dengan demikian keputusan untuk bergabung disana adalah keputusan yang saya ambil dengan penuh tanggung jawab atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Termasuk didalamnya adalah bahwa pimpinan yang sudah ada disana tidak mau menerima kritik (seperti yang diceritakan disini).
  • Kalaupun mereka mau menerima kritik, kita juga perlu belajar tatacaranya untuk memberi kritik kepada orang lain, kepada yang lebih senior, atau juga yang lebih junior tapi lebih pandai dari kita.
  • Perlu diperjelas, budaya diperusahaan itu seperti apa. Kalau memang mereka tidak suka dikritik, dan enggan berubah, PR besarmu adalah untuk mengajak para pimpinan itu untuk melangkah maju menuju perubahan yang lebih baik. Ada banyak program untuk itu.

16. Bagaimana cara memimpin bawahan yg secara usia ataupun waktu kerja lebih senior dan lebih pengalaman dari kita? Apa yg sebaiknya dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan?

  • Saya pernah punya bawahan yang bukan saja lebih senior tapi juga pernah jadi atasan saya.
  • Bila kita kerja secara professional, kita tak perlu sungkan dalam situasi seperti itu
  • Bawahan seperti itu ingin mendapat pengakuan dari kita bahwa dia lebih senior dan berpengalaman.
  • Hargai dan ajak dia memberikan kontribusi dalam diskusi atau proyek, sesuai dengan pengalaman yang dia punya.
  • Langkah tersebut diatas bisa membangun trust diantara kalian berdua

17. Bagaimana cara kita agar team kita merasa saling peduli dan saling percaya dalam meningkatkan produktivitas kerja kita. Terimakasih Pak Josef

  • Ajak mereka melihat perspektif yang lebih besar dari tugas dan tanggung-jawab mereka secara individu maupun secara tim
  • Dalam setiap momen, misalnya dalam setting target di awal tahun, progress review atau evaluasi akhir, hendaknya anda sebagai pimpinan terus menggaris bawahi pentingnya Kerjasama tim dan pentingnya hasil kerja tim secara menyeluruh.
  • Tentu saja performance individu akan tetap mendapatkan perhatian dan penghargaan sesuai system
  • Sebagai pemimpin, anda adalah conductor orchestra

18. Jika leader sudah melakukan hal seperti menawarkan bantuan untuk karyawan saat merasa kesulitan, dan sudah membantu tetapi karyawan tetap melakukan kesalahan yg sama. Bagaimana mengatasi hal tsb?

  • Yang pernah kami lakukan adalah kami memberikan program/target yang terukur untuk menjadi pijakan untuk diskusi tentang progress
  • Kami merancang program setahun, dengan tiga periode. Bila dalam periode 4 bulan pertama yang bersangkutan tidak memperlihatkan kemajuan, maka dia akan dimasukan dalam Z list: ODPP, Orang Dalam pemantauan Performance
  • Bila dalam 4 bulan kedua, setelah diberikan pengarahan, dan bantuan yang diperlukan, tidak juga membuahkan hasil, maka dalam diskusi dengan yang bersangkutan, kita katakan bahwa dia akan dimasukkan dalam Y list, list mereka yang diberi kesempatan terakhir.
  • Dan dalam 4 bulan terakhir (berarti sudah setahun) ternyata tidak membuahkan hasil, dia dimasukan dalam X list, artinya list orang yang harus diminta mencari kesempatan karier di luar
  • Proses diatas hendaknya dilakukan dengan jujur, bukan karena kita memang mau keluarkan dia.
  • Bila saatnya dia harus pergi, kita harus membantu dia untuk bisa pergi dengan kepala tegap.

Semoga rekaman tanya jawab diatas bisa memberikan tambahan insight berkaitan dengan tema webinar: TRUST First Empowerment will follow.

“How do you build trust? Trust is earned when everyone’s interests are considered and respected. Communication is the key to do this.” (Sheri Levit)

Bookmark and Share

2 Responses to Sikapi Dengan Hati Yang Jujur

  1. Terima kasih pak Josef yang setiap saat memberikan pandangan, arahan dan tentunya bimbingan yang baik, baik sebagai atasan, pears maupun bawahan.
    Salam sehat selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih untuk kunjungan dan sapaan walau jauh di Medan. Ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang kita...

Rolin:
Terima kasih Pak Josef. Setiap tulisan Bapak adalah tulisan hidup yang sesungguhnya dapat dikerjakan oleh...

josef:
Terima kasih sama2 Suster Marietta untuk kata-kata memotivasi. Saya juga percaya bahwa semua yang tergabung...

Sr.Marietta:
Terima Kasih, saya telah menerima KASIH dari Sang Maha Pengasih, melalui tulisan di Blog Pak Yosep....

josef:
Terima kasih Lia untuk kata2 memotivasi. Saya akan terus belajar, menulis dan membagi berbagai pembelajaran...


Recent Post

  • Produktivitas Tanggung Jawab Semua Pemimpin
  • Terima Kasih Boleh Melayanimu
  • Tidak Semudah Itu Ferguso
  • Self Coaching for Better Tomorrow
  • Manusia Seutuhnya
  • Shani Yang Memberdayakan
  • Meraih Trust dan Respect
  • Learn Unlearn Relearn
  • Panggilan Mengubah Paradigma
  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER