Pemimpin Yang Dirindukan

Posted on September 29th, 2017

SEBAGAI BAGIAN dari penerbitan buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan Bagi Para Pemimpin, Ibu Lyra Puspa berkenan mempersiapkan dua tulisan, di tengah kesibukannya yang luar biasa. Tulisan pertama kami sertakan sebagai Kata Pengantar di dalam buku itu. Sementara itu tulisan kedua kami sajikan melalui blog ini, sebagai bagian tak terpisahkan dari terbitnya buku tersebut. Untuk itu kami mengucapkan sekali lagi, limpah terima kasih. Berikut ini, selengkapnya tulisan beliau.

29 September_Pemimpin Yang dirindukan

Pemimpin Yang Dirindukan

Jabatan menjadi sebuah impian sekaligus kebanggaan. Banyak orang mengejar peningkatan karir untuk mencapai jenjang demi jenjang jabatan profesional di tempat mereka bekerja. Namun banyak yang lupa bahwa memegang jabatan belum tentu serta merta menjadi pemimpin, karena Atasan dan Pemimpin itu berbeda.

Apa Bedanya Atasan dan Pemimpin?

Atasan membangun kejayaan dirinya. Pemimpin membangun kekuatan timnya. Atasan menganggap kekuasaan sebagai tujuan, dan karenanya bertindak mengamankan jabatan dengan seluruh kekuatan. Pemimpin menganggap jabatan sebagai amanah dan kekuasaan sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu Atasan lebih ingin dituruti dan didengarkan, sedangkan Pemimpin lebih banyak mendorong dan mendengarkan.

Menjadi pemimpin yang mendengar, berarti menjadi pemimpin yang perlu memiliki kemampuan coaching. Coaching pada dasarnya keterampilan untuk menggali dengan pertanyaan yang memprovokasi pikiran. Mendengarnya seorang pemimpin yang juga berperan sebagai coach adalah mendengar untuk memahami dan memberdayakan anggota timnya agar lebih baik lagi, bukan mendengar hanya untuk menjawab dan mendebat demi membuktikan dirinya yang paling benar.

Pemimpin yang memiliki kemampuan coaching dan menerapkan coaching dalam percakapan sehari-hari kepada anggota timnya, adalah pemimpin yang menghargai bahwa setiap aspirasi dari anak buahnya berharga. Pemimpin yang berkomitmen membangun budaya coaching di tempat kerja, adalah pemimpin yang peduli pada pengembangan potensi sumberdaya manusia seutuhnya demi pencapaian kinerja yang optimal, dan di saat yang sama membangun engagement tim dan mencetak pemimpin berikutnya.

Mari kita evaluasi, sudah seberapa banyak pemimpin yang betul-betul mendengar dan memberdayakan? Sudah seberapa banyak manajer yang merengkuh kemampuan coaching dan menerapkannya dalam keseharian memimpin timnya?

Jangan-jangan di negeri ini kita berpikir sedang membangun lapisan pemimpin profesional yang kuat, namun tindakan kita di lapangan justru lebih banyak mengangkat atasan. Melalui buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan Bagi Para Pemimpin,  Bapak Josef Bataona mengajak kita berkaca.

Saya mengenal penulis di kelas sertifikasi coaching Erickson Coaching International yang diselenggarakan oleh Vanaya Coaching Institute. Semangat belajar yang tinggi serta keterbukaan untuk mengosongkan diri dari seorang eksekutif senior seperti beliau merupakan sebuah bentuk kerendahhatian dan kebijaksanaan pemimpin sejati. Terus belajar di usia berapapun, dan siap belajar dari siapapun.

Namun sosok Josef Bataona bukan hanya contoh seorang pemimpin yang tak henti belajar dan mendengar, tetapi juga tak henti menginspirasi. Inspirasi dari refleksi atas setiap pengalamannya tak lagi terbatas pada lingkungan kerjanya, tetapi menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Buku ini menjadi bagian dari perjalanan inspirasi beliau bagi para pemimpin dan calon pemimpin Indonesia. Catatan #CURHATSTAF merupakan sebuah refleksi betapa sesungguhnya bangsa kita mendambakan pemimpin, bukan hanya bos atau atasan. Menyimak dan merenungkan ungkapan spontan di media sosial sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, mengundang kita dalam ruang luas kesadaran tentang sejauh mana kualitas kepemimpinan kita telah selaras dengan harapan tim kita.

Mereka yang berkicau di Twitter adalah gambaran mereka yang kita pimpin sehari-hari di tempat kerja. Ungkapan hati di media sosial, boleh jadi adalah ungkapan hati yang tersembunyi dari tim kita. Karenanya, insight dari buku ini pada dasarnya adalah sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang betul-betul ingin menjadi pemimpin sejati.

Pemimpin sejati seperti apa yang didambakan para talenta profesional Indonesia? Silakan simak halaman demi halaman buku inspiratif ini. Setiap lembarnya begitu berharga. Maka setiap membalik menuju lembar berikutnya, mungkin kita perlu tak henti untuk bertanya:

“Sudahkah kita menjadi sosok pemimpin yang dirindukan?”

Jakarta, Juni 2017

Lyra Puspa

(President Vanaya Coaching Institute, #1 Ericksonian, Positive Psychology, and Neuroscience – Based Master Coach)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih, bahkan hanya lima menit saja sudah lebih dari cukup, namun dilakukan secara rutin dan di...

josef:
Terima kasih Ratih, saya boleh mengangkat kembali komennya untuk postingan ini. Terima kasih juga untuk rutin...

Ratih Hapsari:
Sudah beberapa waktu ngga baca blog-nya Pak Josef, sekalinya baca saat di MRT eh ada nama saya di...

Ratih Hapsari:
Wah keren sudah sampai kawah Ijen Pak. Benar sekali yang Pak Josef sampaikan, perlu ada momen penting...

josef:
Terima kasih juga karena Santi senantiasa meluangkan waktu untuk menyimak tulisan2 ini, dan membagi manfaatnya...


Recent Post

  • Mengukir Kebahagiaan Bersama
  • Bersyukur di Tepi Kawah Ijen
  • Sewindu Membagi Cerita
  • Sentuhan Tangan Yang Diberkati
  • Tempat Kerja Idaman
  • Momen Mendengarkan Milenial
  • Memacu Gairah Belajar
  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas