Coaching Mengantar Cita Teman Tuli

Posted on November 19th, 2021

“Coaching is a profession of LOVE. You can’t coach people unless you LOVE them.” (Eddie Robinson)

PROFESI PENUH KASIH. Mungkin itu merupakan makna petikan di awal tulisan ini dari Eddie Robinson. Dan sayapun tak bosan-bosannya mengangkat kutipan ini setiap bicara atau menulis tentang coaching. Kalimat pendek itu juga memberikan kita beberapa indikator situasi dalam organisasi: seberapa baik tingkat engagement atau hubungan atasan bawahan. Ini juga menjadi tanda seberapa tulus para leader mau luangkan waktu untuk turun dan berdialog dengan teamnya. Seberapa besar keseriusan para pemimpin untuk menumbuh-kembangkan bawahannya. Dan tentu saja, bisa menjadi indikator keterbukaan komunikasi para pihak di perusahaan itu.

Openness dan TRUST sebagai Penentu

Saya sengaja mengangkat pengalaman, saat perusahaan membangun ambisi untuk menggandakan bisnis dalam 5 tahun. Untuk menunjang hal tersebut, pertanyaannya adalah, apakah Kepemimpinan dan Budaya kerja seperti saat itu bisa mendukung ambisi tersebut. Sebuah studi dilakukan, dan penemuan utamanya adalah, terdapat kesenjangan dalam hubungan di level manager tertentu, yaitu tingkat openness tidak memadai dalam menunjang engagement pada level tersebut. Dan kunci utamanya dapat dijelaskan dengan model ini.

Untuk meraih ambisi tersebut, maka level of contribution dan level of alignment harus berada diatas sumbu X. Dan yang menentukan kondisi itu adalah OPENESS. Karena semakin tinggi keterbukaan, semakin tinggi pula TRUST dan RESPECT diantara semua yang terlibat. Dalam situasi seperti itu, engagement akan meningkat dan mereka semua akan dengan leluasa mengeksplore berbagai peluang demi mencapai target tersebut. Karena itu proyek transformasi dirancang seputar Generative Leadership and Coaching Culture. Proyek ini menyasar semua leader termasuk BOD, dan progress perbaikannya dimonitor secara ketat. Ambisi tersebut tercapai, namun hasil jangka panjang yang diperoleh adalah:

  1. Effective institutionalization of ‘generative engagement practices’ and ‘growth learning & coaching practices’ with clear value-add experiences for most participants.
  2. Peningkatan employee engagement levels, yang diukur dengan the Generative Audit
  3. Peningkatan leadership bandwidth: jumlah individu di setiap team/group yang mendemonstasikan kemampuan untuk memimpin “growth challenges.”
  4. Peningkatan extra-ordinary achievements setiap tahun (fit to enter the organization hall of fame)

 

 

Dengan terus melakukan pengukuran dan inisiatif perbaikan berkelanjutan, terutama dengan implementasi pendekatan coaching, maka perusahaan dapat menikmati hasil jangka panjang, bahkan setelah periode pencapaian target lima tahun tersebut.

 

Heart to Heart

Kesempatan saya berbagi di forum International Coaching Summit 2021, dengan judul, Coaching Habit for Corporate and Beyond: Precious Learning from Coaching  Deaf Friends. Bagian yang dirasakan paling menyentuh, adalah saat saya bercerita tentang inisiatif 5TemanDengar yang melakukan coaching untuk Teman Tuli. Berikut adalah pesan yang kami sampaikan kepada Teman Tuli yang akan mendapatkan coaching, yang dilakukan oleh 5TemanDengar (lihat di foto berikut):

Program itu kami lakukan setelah sharing via webinar dengan Judul Be Yourself but Better Everyday, webinar yang kami dedikasikan bagi Teman2 Tuli, Relawan Komunitas Tuli dan Juru Bahasa Isyarat Seluruh Indonesia. Tak lupa juga kami memberikan paparan tentang apa itu coaching, dan prosesnya. Coaching ini kami lakukan via zoom, dan didampingi seorang juru Bahasa isyarat yang mereka pilih sendiri.

Dalam komennya di kolom chat, coach Gina Rahmalia Ginandjar menuliskan:

Coaching, touch their heart with our heart, ketulusan, selaras antara pemikiran perkataan perbuatan, walk the talk, makasih banyak coach Josef.

 

Berbagi dan Menginspirasi

Langkah yang diambil oleh panitia International Coaching Summit 2021 ini boleh kita acungkan jempol. Kita berkesempatan belajar dari pengalaman banyak orang. Selain inisiatif coaching seperti yang diceritakan diatas, saya mengajak peserta untuk memanfaatkan pendekatan coaching dalam keseharian, misalnya:

  • Belajar Listening, tidak hanya dalam coaching, tapi sebagai gaya kepemimpinan
  • Biasakan bertanya: AWE, And What Else, apa lagi….
  • Self coaching, agar menjadi pribadi yang lebih baik
  • Jadilah contoh untuk semua pendekatan dalam coaching, di luar sesi coaching

Dan tak kalah pentingnya adalah seorang Leader hendaknya membantu team untuk menemukan MEANING dibalik apapun yang dikerjakan, melalui pendekatan coaching. Rekaman Sebagian peserta:

Kami Semua Belajar Bersama

Dalam sesiku kami semua belajar, termasuk saya sendiri juga belajar dari berbagai komen dan pertanyaan yang diajukan. Berikut, saya sajikan beberapa saja komen yang disampaikan melalui chat:

  1. Tidak pernah terbayangkan bahwa Coaching dapat dilakukan untuk Teman Tuli. Luar Biasa Coach Josef. (Inge Halim)
  2. Terinspirasi sekali dengan initiative “Teman Dengar Berbagi Mimpi Mengantar Cita Teman Tuli Melalui Coaching”… Semakin yakin menjadi Coach sebagai profesi cinta…(Vera Marpaung)
  3. Sungguh mulia yang dijalankan Pak Josef dan teman teman yang membuat terobosan baru melakukan coaching ke teman tuli. Very insightfull Pak Josef. (Canisius Soriton)
  4. Luar Biasa Coach Josef, selalu menginspirasi dengan value membantu berguna bagi banyak orang, selalu menjadi sinar, better everyday. terimakasih coach josef telah berbagi hari ini, menggugah dan menyentuh hati. (Gina Rahmalia Ginandjar)
  5. Terima kasih Pak Josef yang tidak pernah Lelah memberi inspirasi dan sharing cerita tentang coaching dan kehidupan. Sehat selalu ya Bapak. (Rini Haerinnisya)
  6. Terima kasih banyak pak Josef, bapak sangat menginspirasi sampai buat terharu tentang kisahnya bapak. (Nur Rahmah Abdullah)
  7. Terima kasih pak Josef atas jawabannya. Pasti ada reason kami bisa berkesempatan dipertemukan dengan bapak hari ini. (Tjandra L)

Tentu saja sesi coaching Teman Tuli ini bisa terjadi karena partisipasi positif coaches 5TemanDengar: Rina Prasetyawaty, Anita Untoro, Dian Eva Agustina, Herry Windawaty, Josef Bataona. Juga dibantu oleh Puji Prabowo, founder dari Kejar Aurora di Bandung, yang menjadi penghubung berbagai komunitas Teman Tuli se Indonesia.

Perjalanan kita masih panjang untuk memperkenalkan coaching secara lebih luas, serta menerapkannya di berbagai sektor kehidupan. Semua kita terpanggil untuk ambil bagian, demi Pengembangan SDM Indonesia Unggul.

“Probably my best quality as a coach is I ask a lot of questions and let the person come up with the answers.” (Phil Dixon)

Bookmark and Share

2 Responses to Coaching Mengantar Cita Teman Tuli

  1. Helda Tan says:

    Mantap Pak Josef…

    Suka dan kagum dengan semangat Blessed to Blessed nya Pak Josef…

    • josef josef says:

      Terima kasih coach Helda, mereka juga menginginkan kesetaraan, dan berjuang untuk meraihnya. Bersama tim, kami mencoba menyentuh mereka. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 coach Helda. Ikuti semua ceritanya secara utuh, total ada 7 artikel. Semoga ini bisa...

josef:
Terima kasih coach Helda, mereka juga menginginkan kesetaraan, dan berjuang untuk meraihnya. Bersama tim, kami...

Helda Tan:
Mantap Pak Josef… Suka dan kagum dengan semangat Blessed to Blessed nya Pak Josef…

Helda Tan:
Thanks sdh membagikan sepenggal cerita petualangan di Labuan Bajo Pak…Sebenarnya tahun ini kami mau...

josef:
Terima kasih Imel, setuju Sangat Indah mengundang decak kagum. Ikuti rangkaian tulisan di blog ini tentang...


Recent Post

  • Memberdayakan Artinya Mengakui dan Mengapresiasi
  • Menemukan MAKNA di Labuan Bajo
  • Jejaring Dan Bangun Kebersamaan
  • Komodo Terus Memukau
  • Sensasi Pulau Padar
  • Phinisi Terus Berjaya
  • Gembira Menyaksikan Senyum Mereka
  • Labuan Bajo Ratusan Pulau
  • Siapa Yang Anda Apresiasi Hari Ini?
  • Berapa Nilai Sejam Waktumu?