Langkah Meningkatkan Retention

Posted on February 28th, 2017

“Create the kind of workplace and company culture that will attract great talent. If you hire brilliant people, they will make work feel more like play.” (Sir Richard Branson)

TIDAK BERLEBIHAN bila orang berpaling ke Divisi Human Resources bila issue Retention sudah mulai mencuat ke permukaan. Bagi perusahaan yang lebih siap, mereka tahu persis kapan saat yang tepat berbicara tentang Retention. Namun belakangan ini berbagai issue tampil dengan intensitas semakin tinggi, terutama berkaitan dengan generasi yang namanya Millenials. Akhirnya kita harus bijak menyikapi agar tidak salah menyentuh problem.

Akhir pekan itu, saya mengajak alumni ICHRP (Indonesian Certified Human Resources Professionals) untuk memotret issue Retention dengan beberapa pertanyaan sederhana.

Saat Karyawan di Persimpangan Jalan1

Apakah Itu Issue Generasi Tertentu?

Teramat sering Millennials menjadi korban dengan mendapat label tidak betah bertahan lama dalam perusahaan atau pekerjaan tertentu, suka-pindah-pindah. Pernyataan tersebut boleh jadi betul, namun menurut saya tidak sempurna.

Perlu dilengkapi dengan beberapa catatan tambahan biar adil. Menurut sebuah survey, mereka akan bertahan lama di perusahaan atau job tertentu kalau “They are fulfilled by their job.” Dan fulfilled artinya mereka mencintai pekerjaannya karena mereka menemukan makna hidup di perusahaan ini yang sesuai dengan tujuan hidup yang dicari.

Demikian hasil survey yang di lakukan iOpener Institute di tahun 2012. Bahkan survey lainnya juga mengangkat keinginan graduates untuk bekerja lebih lama di perusahaan bila mereka mendapatkan perlakuan berikut ini:

  • Respect and valued as individuals             
  • Being trusted and given autonomy         
  • Supported in their career progression    
  • Well Communicated                                      

Dengan keterbukaan informasi dewasa ini, tentu saja Gen X dan juga boomers terbuka matanya untuk melihat berbagai kesempatan untuk diraih di luar sana. Dan kenyataan juga memperlihatkan bahwa Gen X dan Boomers yang pindah kerja pun semakin banyak. Dengan demikian, issue retention bukan spesifik issue Gen Y tapi lintas generasi.

Apakah Itu Issue Leadership atau Organisasi?

Pertanyaan ini perlu mendapatkan klarifikasi supaya jangan sampai kita berkutat pada generalisasi tentang Gen tertentu, tapi sebenarnya issue-nya ada di tempat lain. Karyawan yang memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan tertentu karena menilai bahwa budaya organisasinya dan juga management system-nya akan memberikan dia peluang untuk tumbuh berkembang. Langkah untuk mencapai mimpi pribadinya sangat dimungkinkan karena nilai-nilai yang dianut oleh organisasi ini sejalan dengan nilai-nilai pribadinya.

Karyawan juga akan terus mencermati interaksi para leaders di perusahaan tersebut, bagaimana mereka memperlakukan karyawan, bagaimana mereka menghargai ide-ide yang berbeda, kedekatan mereka dengan karyawan. Budaya perusahaan itu apakah ada atau tidak budaya saling menyalahkan atau budaya mencari kambing hitam.

Juga dipelajari bagaimana komitmen leaders untuk pengembangan anak buahnya. Dengan demikian, akan terang benderang apakah solusi yang harus dicari terletak pada organisasi atau leadership tertentu. Foto berikut bersama pegiat alumni ICHRP yang menyelenggarakan program hari itu.

Saat Karyawan di Persimpangan Jalan2

Apakah Itu Issue Comben?

Sering benar kita terjebak dalam konklusi cepat ketika seseorang mau minta keluar, kemudian ditawarkan tambahan gaji yang lebih tinggi. Ada yang berhasil, tapi lebih banyak yang gagal atau sekedar menunda keputusan karyawan tersebut.

Lebih gawat lagi, karyawan yang mau keluar itu menggunakan tawaran tambahan gaji itu untuk memperkuat posisi tawar dia di perusahaan baru, dan sering sekali karyawan itu berhasil. Perlu analisa lebih mendalam, apa sebetulnya alasan di balik keputusan untuk meninggalkan perusahaan ini.

Kalaupun alasannya tidak terkait issue nomer satu dan dua di atas, dan berkaitan dengan ComBen (compensation and benefit), sangat boleh jadi bukan berkaitan dengan jumlah besaran tapi berkaitan dengan persepsinya tentang ComBen. Apakah karyawan diperlakukan secara adil, dalam artian yang punya performance lebih bagus akan dihargai lebih?

Dan bisa saja masih ada kemungkinan lain yang perlu dicermati. Dan yang paling tahu tentang kemungkinan penyebab, sebetulnya leader atasannya sendiri. Pihak lain, termasuk HR bisa saja terlibat menggali penyebabnya (melalui exit interview), siapa tahu penyebabnya ada di dalam pribadi leader-nya sendiri.

Manapun itu, diskusi hari itu bukanlah untuk mencari siapa yang salah, tapi terutama untuk mengajak para leader untuk cermat obyektif menilai situasi, agar solusinya bisa tepat.

“Everyone enjoys doing the kind of work for which he is best suited.” (Napoleon Hill)

Catatan: Karena akhir pekan ini ada kesibukan ke luar kota, tidak akan ada posting baru pada Jumat, 3 Maret 2017. Posting baru akan hadir kembali Selasa, 7 Maret 2017.

Bookmark and Share

4 Responses to Langkah Meningkatkan Retention

  1. Agustinus Dolle says:

    Sangat menarik pak Josef.saya selaku area supv dan leader buat team saya memaknai postingan ini sangat baik dan menarik.Ada pertanyaan utk kasus di area Prop.NTT,yang mana rata rata minta keluar krn menerima job atau mendapat job baru sebagai honorer di instansi tertentu yang cukup menjanjikan buat generasi milenials.

    • josef josef says:

      Terima kasih Agustinus, walaupun kenyataannya honor di instansi lain lebih tinggi, saya masih percaya bahwa kedekatan atasan mereka akan membantu utk memahami lebih jauh millennials tersebut dan mengambil langkah yang tepat.

  2. dolle agustinus says:

    Thanks pak Josef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life