Posted on September 10th, 2021
“We do not grow by knowing all of the answers, but rather by living with the questions.” (Max De Pree)
KESEMPATAN BELAJAR yang menggairahkan, saat berbagi di sesi CHRP (Certified Human Resource Professional Program) Universitas Katolik Atma Jaya. Situasi pandemic memungkinkan peserta belajar menggunakan Zoom, dan bisa berlokasi di mana saja. Sabtu pagi itu ada sekitar 80 peserta hadir untuk belajar bersama. Disamping paparan dari saya, saya juga senang mengajak diskusi atau tanya jawab, dimana kesempatan untuk kami semua belajar dari situasi nyata yang dialami peserta. Berikut foto sebagian peserta CHRP #60.

Berkiprah di Pentas Internasional
Menyimak perjalanan karier yang saya ceritakan, seorang peserta bertanya:
Saya ingin punya pengalaman HR di perusahaan internasional, tapi saya lulusan local dan pengalaman di perusahaan local. Apa tipsnya?
Saya juga lulusan lokal, jawabku. Setiap pekerjaan, yang diperoleh hendaknya dikerjakan dengan sungguh2 dan berhasil. Pekerjaan itu diberikan karena anda dipercaya, dan sukses itu bisa menjadi kunci pembuka kesempatan sukses berikutnya.
Perusahaan dan atasan punya peran untuk membuat kita sukses. Tetapi tanggung jawab utama untuk sukses seseorang ada di tangan yang bersangkutan. Terus belajar melengkapi diri dengan berbagai ilmu, pengetahuan dan pengalaman, termasuk yang unik yang bisa jadi faktor diferensiasimu dibanding dengan yang lain. Semoga di saat kesempatan karier internasional seperti yang dikehendaki itu hadir di depan matamu, anda juga sudah siap untuk meraihnya
Masukan Paling Berkesan
Tidak pernah kuduga, ada sebuah pertanyaan unik seperti ini dari peserta:
Apa satu feedback yang paling berkesan buat bapa?
Tanpa berpikir panjang, saya ceritakan momen dimana saya diberi masukan oleh team dua level dibawahku, bahwa saya kurang menyapa level dibawah direct report. Mereka mengakui bahwa pesan-pesan dari saya nyampe pada mereka. Ada pertemuan yang mengajak mereka, tapi itu lebih formal. Mereka mau juga bertemu dan disapa langsung, berdialog dan saling berbagi cerita dalam situasi yang lebih informal. Apakah saya tersinggung? Samasekali tidak, Sebaliknya saya sambut masukan itu dengan senang hati dan menindak-lanjuti. Bagian terpenting disini adalah mendengarkan dan menindak-lanjuti
Jadilah kami mulai menjalankan program Skip Level, program yang menjadi payung seorang pimpinan bisa langsung turun dan menyapa team di dua atau lebih level di bawahnya, dan anggota team di level manapun berkesempatan untuk bisa langsung menemuiku. Apakah direct reportku bisa menerima ini? Hanya sebentar muncul ketidak-nyamanan, karena dengan demikian semua informasi dari bawah bisa mengalir ke atas tanpa saringan apapun. Namun mereka perlu diyakinkan akan manfaat skip level ini, dan merekapun bisa menerima dan melakukannya untuk tim dibawah mereka.
Pemimpin yang Tulus
Sementara itu, peserta lain bertanya penuh penasaran:
Saya mendengarkan paparan bapa seperti cerita biografi, tapi disana banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Cerita tentang seorang leader yang bisa deliver ketulusan kepada team. Wajar kalau dicintai karyawan. Apakah sukses bapa bermodal satu mantra yang diberi ayahnya, atau sudah lama kenal Dave Ulrich? Bagaimana cara bapa untuk mengatasi penolakan, saat masuk ke lingkungan baru?
Jawaban pertama sudah ada dalam pertanyaan itu. Tampil apa adanya, sesuai moto hidupku: Be Yourself. Saya juga terus mengingatkan diri untuk: Be Genuine. Dan anda benar, pesan ayahku tentang menjaga kepercayaan yang diberikan, senantiasa kupegang teguh, sementara itu, Dave Ulrich dan pemikirannya, banyak menginspirasi saya dalam berkarya.
Jawaban kedua tentang memasuki lingkungan baru, saya lebih cenderung mengubah pertanyaan menjadi: bagaimana agar bisa diterima saat masuk ke lingkungan baru. Dengan demikian fokus kita lebih positif, diterima. Jawabanku: Know WHOM, selanjutnya Know WHAT dan kemudian know HOW. Mengenal siapa yang ada di lingkungan kerja baru, pribadi yang akan kita kerja bersama, baik atasan bawahan ataupun rekan kerja. Kemudian apa saja yang layak diketahui selain detail pekerjaan. Dan berikutnya adalah bagaimana saya menempatkan diri dalam ecosystem baru dan cepat beradaptasi, berkontribusi dan tunjukan performance.
Pertanyaan masih berlanjut, bahkan melalui wa langsung sesudah sesi berlalu. Dan saya senang untuk menjawabinya, terutama karena pertanyaan mereka penuh keinginan untuk belajar.
“Just being available and attentive is a great way to use listening as a management tool. Some employees will come in, talk for twenty minutes, and leave having solved their problems entirely by themselves.” (Nicholas V. Luppa)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...