Posted on November 20th, 2020
“When you care about people’s happiness and productivity, you give them what brings out the best in them and their creativity.” (Tim Cook)
ORIENTASI pada Manusia atau Pekerjaan. Orang boleh saja memperdebatkan ini, namun bagi saya jawabannya sangat jelas dan tegas, terutama dalam masa pandemi ini: MANUSIA adalah yang utama. Hari itu, bersama komunitas HR yang diprakarsai oleh UMN (Universitas Multi Media Nusantara), saya hadir memaparkan topik: How To Ensure Productivity during CoronaVirus Pandemic. Berikut screen zoom pertama dari peserta yang berasal dari sekitar 250 Perusahaan.

Prasyarat untuk Productivity
Saya mengajak peserta untuk menggunakan momen pandemi ini justru untuk refleksi berkaitan dengan hal yang sangat fundamental untuk menunjang Produktivitas:
Apapun level ketiga aspek itu saat ini, kesempatan baik untuk kita simak dan melakukan perbaikan. Yang penting adalah kita harus keluar dari pandemi dengan pola kerja yang lebih baik, dengan tingkat produktivitas yang juga lebih baik.
Prasarana Fisik
Kita semua memang menginginkan agar karyawan kita tetap produktif selama Pandemi. Namun saat ini ada sebuah perubahan besar dan mendadak yang tidak pernah diprediksi sebelumnya, dan karyawan harus bekerja dari rumah dengan menggunakan sarana yang ada, yang belum tentu memadai. Sebut saja, apakah wifie tersedia atau harus menggunakan paket data internet pribadi? Apakah mereka dibekali dengan laptop atau desktop atau bahkan hanya dengan HP? Apakah dia harus duduk berbagi tempat di meja makan dengan keluarganya, atau tersedia ruang kerja yang memadai? Dan masih banyak lagi. Itu baru prasarana fisik. Sehubungan dengan ini, saya mempunyai contoh perusahaan yang membolehkan karyawan membawa desktop/laptop ke rumah, bahkan juga kursi yang memang ergonomis yang dipakai di kantor boleh dipinjam dan dibawa ke rumah. Kalau kita rajin membuka mata dan telinga, kita akan mendengar banyak contoh lain yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
People Oriented vs Job Oriented
Contoh yang disebutkan diatas memperlihatkan bahwa hal utama yang dipikirkan oleh organisasi yang bertanggung jawab, adalah bagaimana menyelamatkan karyawannya dahulu. Para pimpinan dipacu untuk membuka telinga dan hatinya untuk mendengarkan suara karyawan, yang bisa digunakan untuk pengambilan keputusan. Faktor LISTENING Skill menjadi penting, tidak hanya mendengar dengan telinga tapi dengan hati
Tetapi, di masa pandemi saat ini saat karyawan bekerja dari rumah, sebagai HR terkadang tidak bisa mengontrol pekerjaan karyawan secara detail, adakah solusi dari bapak agar HR bisa tetap mengontrol pekerjaan karyawan dengan rinci ? Demikian tanya seorang peserta.
Pertanyaan ini agak membuat saya sedih. Mengapa HR harus dijadikan polisi untuk mengontrol kerjaan karyawan di rumah? Dimana peran para leader? Penanya ini tidak seorang diri. Saya juga sering mendengar cerita dari beberapa teman dari perusahaan yang berbeda, dimana mereka memang malakukan kontrol secara ketat bahwa karyawannya memang bekerja. Sangat boleh jadi, mereka masih bergumul dengan TRUST level. Dan suasana kurang percaya seperti itu bukan baru muncul tapi sudah terbawa sejak sebelum Covid. Namun demikian saya ingin memberikan beberapa catatan penting sehubungan dengan pertanyaan tersebut:
Dengan memberikan perhatian utama kepada People, bukan berarti pekerjaan dikesampingkan. Pekerjaan itu akan bisa dilaksanakan secara lebih produktif bila karyawan merasakan bahwa para Pemimpin peduli akan kepentingan mereka dalam menghadapi pandemi.
Manusia ditengah Kejenuhan dan Stress
Saat ini WFH membuat jam kerja menjadi lebih panjang, packed dan stressful, bisa menimbulkan kejenuhan dan situasi stress. Bagaimana sikap kita sebagai HR untuk menghadapi hal ini? Demikian tanya seorang peserta.
Saya melemparkan kembali pertanyaan untuk menanggapi pertanyaan itu:
Sengaja saya menyampaikan ini untuk membantu kita berpikir bahwa dalam situasi krisis, tanggung jawab seorang leader untuk membantu teamnya menjadi prioritas. Karena itu dia sendiri harus tetap tegak berdiri dan berpikiran jerni, tidak panik.
Saya tahu ada perusahaan yang sejak Pandemi awal, memutuskan agar karyawannya harus bekerja dari rumah dan sampai sekarang masih demikian. Melalui Crisis Management Teamnya, mereka menyiapkan berbagai panduan bagi karyawan dan keluarganya. Bukan itu saja, mereka terus memonitor situasi karyawannya di rumah, termasuk mental health mereka. Setiap hari karyawan harus melapor secara online tentang situasi kesehatannya. Dan laporan-laporan ini dimonitor oleh dokter yang ditunjuk, yang akan segera menghubungi individu yang kelihatannya perlu bantuan. Perusahaan yang saya maksud bahkan baru2 ini mengeluarkan peraturan untuk melarang meeting online sebelum jam 09:00, sesudah jam 18:00 dan selama jam makan siang. Belum cukup dengan ini, mereka melarang mengirim email selama akhir pekan.
Semua penjelasan diatas untuk menggarisbawahi betapa pentingnya tanggung jawab para pemimpin, terutama selama pandemi ini. Tanggung jawab tertinggi untuk produktivitas karyawan bukan ditangan karyawan tetapi di tangan managernya, seperti petikan di akhir tulisan ini.
“The productivity of work is not the responsibility of the worker but of the manager.” (Peter Drucker)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...