Apakah Saya Harus Menolak Promosi?

Posted on April 8th, 2014

“The price of success is hard work, dedication to the job at hand, and the determination that whether we win or lose, we have applied the best of ourselves to the task at hand.” (Vince Lombardi)

YANG PUNYA CERITA ini sebut saja Titi. Dia diterima bekerja di sebuah perusahaan Amerika yang punya network mendunia. Kantornya di Seattle, Amerika. Suatu kebanggaan yang sulit dia ungkapkan. Seorang Indonesia dipercayakan untuk sebuah posisi penting di perusahaan ini. Secara berkala dia masih sering meminta pendapat saya, entah melalui SMS atau email.

Sejauh ini, dia sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran yang saya berikan, termasuk dalam hal menempatkan diri dalam lingkungan dengan budaya yang berbeda. Apalagi berkaitan dengan cara mengekspresikan pendapat. Keterus-terangan mereka dalam konteks “straight talk”, terkadang bisa membuat kita salah paham, kalau tidak kita berusaha untuk memahaminya.

Sharing of Joy

Minggu lalu, dia baru mendapat kunjungan Ibu dan kakaknya dari Jakarta. Kegembiraan luar biasa, setelah tidak ketemu sekitar sepuluh tahun. Apalagi yang dilakukan oleh seorang yang baru berusia 30-an tahun, dengan pekerjaan yang sudah mapan, dan mampu membeli rumah sendiri. Perpindahan ke rumah sendiri sengaja dibuat bertepatan dengan kedatangan keluarga dari Jakarta. Sebuah upaya untuk membagi kegembiraan. SMS, MMS dan email kepadaku penuh dengan warna-warni kegembiraan, sekaligus mensyukuri apa yang dia peroleh.

Promosi yang Menghebohkan

Rencana Yang Maha Kuasa sering tidak kita duga. Dalam perjalanan ke tempat gym pagi itu, ada SMS dari Seattle berbunyi: (waktu US adalah sore hari sebelumnya)

“Puji Tuhan, Kak Josef. Saya barusan dipanggil boss ke kantornya dan diberitahu bahwa saya dipromosikan dan diberikan kenaikan gaji yang sangat lumayan. Nggak sabar untuk pulang ke rumah dan beritahu kabar baik ini ke mama dan kakak. I feel very blessed. Belum juga setahun sudah dipromosikan, tapi boss bilang, “You does an excellent  job and totally deserve it.’ It’s a big compliment for me.

Dan tentu saja response saya penuh dengan bahasa menyemangati:

Congratulation Titi. Saya juga pikir Titi deserves it. Perjuangan seriusmu membuahkan hasil. Pulang cium mamamu dan ucapkan terima kasih, berkat doa dia dan almarhum papamu, Titi bisa menjadi seperti ini. Sekali lagi Selamat!”

Promosi by josefbataona dotcom

Dua hari setelah pemberitahun itu, pengumuman resmi tentang promosi tersebut dilakukan oleh boss-nya. Reaksi teman-temannya beragam. Banyak yang tulus mengucapkan selamat, ada yang nanya kapan ditraktir, tapi ada saja yang kaget tidak menerima, “Kok dia yang dipromosi?” dan ada juga yang terus terang berujar, “Bagaimana mungkin kamu yang masih baru sudah dipromosi, padahal saya sudah lebih lama dari kamu.”

Peran Management untuk Klarifikasi

Dalam kontemplasinya yang dia share, Titi juga menemukan:

  • Management tahu kredibilitas saya dan pengalaman saya, tapi orang lain belum tentu tahu.
  • Saya sendiri bukan type orang yang suka gembar gembor achievement saya, jadi yang lain belum tentu tahu.
  • Saya sendiri tidak terlalu ingin di bawah spotlight. Cuma ingin kerja dan do my best, apresiasi seperti ini akan datang sendiri.
  • Tanpa promosi ini pun saya bahagia, karena saya hanya ingin melakukan yang terbaik.

Bila system Performance Management berjalan baik, masing-masing karyawan akan bisa paham tingkat prestasi masing-masing, dan tentunya juga bisa lebih mudah menerima bahwa ada kawan lain yang lebih berprestasi dari mereka. (saya sengaja kesampingkan kemungkinan bahwa reaksi tersebut karena kebetulan yang dipromosi adalah orang Indonesia, bukan orang Amerika)

Dalam kisah seperti ini, peran management dalam melakukan komunikasi yang tepat juga sangat diharapkan. Keterbukaan informasi memang perlu, tapi juga perlu bijaksana untuk merangkai kata-kata dalam pengumuman tersebut. Contoh di atas telah memperlihatkan bahwa management telah membuat keputusan yang tepat tentang promosi tersebut, tapi belum sempurna menyampaikan esensi berita secara tepat. Atau mungkin situasi seperti itu dianggap biasa di sana, karena itu Titi tidak perlu terlalu sensitive menanggapinya.

Haruskah Saya Menolak

Masih di kantornya, sebelum pulang ke rumah, Titi mengirim SMS meminta pendapat saya. Dan ini nampak serius:

“Apakah Titi menolak saja promosi ini, karena Titi juga melihat banyak yang sudah lama di unit Titi dan tidak dipromosikan. Titi tidak ingin punya banyak musuh. Apakah sebaiknya Titi turn down the promotion?”

Saya langsung menanggapinya:

“Promosi ini adalah berkat yang Titi dapatkan karena prestasi Titi. Dan Titi juga tidak tahu apa alasan management bahwa  orang lain belum dipromosikan. Tapi menurut saya, management tahu siapa yang berprestasi dan siapa yang tidak. Siapa yang perlu di-maintain jangka panjang, siapa yang bakal kontribusi maksimal. Karena itu jangan turn down your promotion, karena ini akan membuat management kecewa dan sakit hati. Terima promosi itu, tetap low profile dan terus tunjukkan prestasimu.”

Pengalaman Titi bisa saja terjadi di sekitar kita atau pada diri kita. Tapi pengalaman ini juga memberikan kita pelajaran bila kita berada pada posisi Management, agar bisa mengambil langkah yang tepat dan bijaksana.

“No matter what you are experiencing in life right now, trust that all is unfolding in your best interest.” (Robin Sharma)

Bookmark and Share

2 Responses to Apakah Saya Harus Menolak Promosi?

  1. Ratih says:

    Beberapa hal yang tidak boleh dilupakan dalam bekerja adalah selalu tulus dan bekerja dgn hati (mengutip moto-nya PT Indolakto ^_^ ), karena jika 2 hal itu kita lakukan maka otomatis kita akan selalu berupaya memberikan yg terbaik… Begitu ya Pak?

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, dengan memberikan penekanan pada elemen penting, bekerja dengan tulus dan sepenuh hati. Hasilnya bisa kita lihat sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan