Inspirasi dari Pelosok Nusantara

Posted on November 27th, 2020

“If somebody offers you an amazing opportunity but you are not sure you can do it, say yes – then learn how to do it later.” (Richard Branson)

BOLA MegaDigiTalk sudah mulai bergulir dengan sesi pertama pada Sabtu 14 November 2020. Menariknya, sesi dari GNIK (Gerakan Nasional Indonesia Kompeten) ini tidak saja menyajikan paparan dari pemateri di Jakarta, tapi juga mengajak talenta yang ada di daerah untuk turut bercerita. Kali ini yang dihadirkan adalah seorang yang berasal dari desa Tegal Sari Kabupaten Musirawas, bernama Yuni Siti Sholikhah.

Kami hadirkan perjalanan meraih sukses yang bersangkutan, untuk memberikan gambaran bahwa selagi kita berlari mengakselerasi tersedianya Talent Kompeten secara Nasional, kita perlu memberikan perhatian juga kepada daerah-daerah yang masih tertinggal. Mereka perlu disentuh dan diajak lari. Berikut adalah tulisan dari yang bersangkutan. Saya hanya memberikan judul2 dan memberikan catatan di Penutup.

Ayo Bermimpi

Mimpi adalah milik siapa pun. Bermimpi sebanyak-banyaknya, seunik dan seaneh-anehnya, bahkan bermimpi setinggi-tinginya. Bermimpilah sepuasnya sebelum bermimpi itu dilarang. Namun jangan lupa untuk bangun dan mulai mewujudkanya. Mimpi mengantarkan saya pada petualangan yang tidak terbayangkan.

Saya tinggal di daerah cukup terpencil di Kabupaten Musirawas sejak usia 6 tahun. Tegal Sari nama desanya, namun lebih dikenal dengan sebutan Trans Mandala Sp V. Saat ini untuk sampai ke ibu kota kabupaten memakan waktu 2-3 jam, melewati jalan berbatu dengan suguhan pemandangan pohon karet di sepanjang jalan. Sekarang juga sudah ada listrik dan jaringan internet.  Kondisi ini sudah jauh membaik, dibandingkan dulu saat saya masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2009. Jalan akan berubah menjadi kubangan sedalam 7 meter saat hujan, tidak bisa dilalui motor sehingga untuk bisa sampai ke sekolah saya melewati kebun karet samping jalan sejauh 12 km, tak jarang baju putih berubah coklat karena terjatuh saat berkendar akibat jalanan yang licin. Untuk bisa sampai ke ibu kota kabupaten butuh waktu 4-5 jam. Jangankan jaringan internet listrik saja hanya ada saat pukul 18.00-22.00 WIB bersumber dari genset. Namun dari beragam keterbatasan tersebutlah saya mulai bermimpi. Mulanya dari mimpi yang sederhana: Bisa berada di ruangan yang sama dengan mereka yang tinggal di daerah tanpa lumpur merah dan jalan tanpa kubangan air kala hujan melanda.

Petualangan untuk mewujudkan mimpi itu saya mulai lepas SMP tahun 2013. Bermodal nilai Ujian Nasional (UN) yang nyaris tak lolos seleski administrasi dan belajar mandiri, saya mengikuti ujian saringan masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota. Nasib baik, saya dinyatakan lulus di SMA tersebut. Tanpa keluarga dan tanpa teman satu daerah, saya mulai beradaptasi dengan kondisi yang semula serba dibantu kemudian dilakukan sendiri. Pantang pulang sebelum selesai. Saya sudah bisa berada di ruangan yang sama, sekarang giliran saya mengambil ilmu sebanyak-banyaknya.

Peluang Sukses Terus Terbuka

Tiga tahun itu berjalan baik. Walaupun di semester pertama banyak yang memandang sebelah mata akan kemampuan saya. Matematika yang terseok-seok di tahun pertama mulai berlari di tahun kedua dan berakhir di tahun ketiga dengan manis. Momok mata pelajaran IPA yang menyeramkan lainnya pun bisa ditaklukan. Saya mampu berada di posisi 5 besar setiap semesternya, belum terbaik tapi saya selalu berusaha memperbaiki. Keterampilan sastra, seni, dan olahraga saya mulai terasah. Tahun kedua begitu istimewa, banyak kesempatan yang bisa saya coba. Tulisan yang biasanya hanya bermuara dalam buku diary diberi kesempatan menjadi juara di lomba Cerpen sekolah. Bergabung dalam tim tari sekolah dalam perlombaan tingkat kota dan berhasil mendapat Runner Up I. Menjadi paduan suara dalam kegiatan tingkat provinsi. Rupanya anak kota tak banyak yang berani dengan bola, sebagai anak desa yang haram takut bola, saya dipercaya bergabung dalam tim voli sekolah dari tahun pertama.

Mimpi Besar Penuh Rintangan

Bukan sekedar berada dalam satu ruangan, saya banyak diberi bonus-bonus tak terduga dengan bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kota. Penghujung tahun ketiga saya di SMA, mimpi itu kemudian ikut berkembang ingin rasanya bisa berada di perguruan tinggi ternama. Saya memiliki nilai rapot cukup baik, walaupun memang bukan yang terbaik di angkatan tahun itu saya cukup optimis untuk mencoba mendaftar ke perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN. Seleksi ini gratis, hanya perlu mengupload data nilai rapot saja. Namun mulai muncul dilema dalam diri saya, mau pilih jurusan apa, di universitas mana, lalu jika nanti lolos biayanya dari mana. Orang tua sedari awal sudah mendeklarasikan jika tak mampu untuk biaya kuliah. Sebagai sulung dari 2 bersaudara orang tua berharap saya bekerja saja. Semua teman kelas saya sudah memilih jurusan dan universitas mereka, tapi saya belum punya pilihan. Jelas memilih jurusan dengan biaya semester yang tinggi bukan menjadi pilihan. Saya merasa niat, tekat, potensi akan menjadi sia-sia tanpa biaya. Usaha tiga tahun yang sudah dibangun dengan baik agar bisa masuk keperguruan tinggi negeri hanya sebatas hayalan tanpa adanya uang. Saya pernah berfikir begitu. Tapi niat saya tidak mudah padam, tekat saya belum surut, dan saya yakin dengan potensi yang saya miliki.

Saya mulai mencari informasi terkait seleksi SNMPTN, agar berkemungkinan lolos di perguruan tinggi negeri dan bisa kuliah dengan beasiswa. Beruntung karena sering mangkal di Mading (majalah dinding) sekolah, pagi itu ada poster terkait informasi Beasiswa Bidikmsi. Menarik, Beasiswa ini gratiskan biaya kuliah dari pendaftaran hingga wisuda. Setiap bulannya juga diberi uang saku yang cukup untuk kebutuhan kuliah. Tidak mau menyianyiakan, saya mulai mengumpulkan semua berkas persyaratannya. Cukup rumit dan banyak, kala itu bahkan saya harus meminta izin beberapa kali tidak masuk sekolah untuk mempersiapkan berkas. Akses tempat tinggal yang jauh, dan transportasi yang belum ada setiap saat adalah alasannya. Setelah semua berkas lengkap, data harus diupload. Saat itu di daerah saya jarang sekali yang memiliki komputer apa lagi laptop, dan ketika ada belum tentu bisa mengupload karena jaringan yang sulit. Butuh waktu berjam-jam untuk mengupload satu data saja. Baiknya, orang tua dan tetangga saya sangat berbaik hati membantu dan meminjamkan komputernya. Setelah data terupload selanjutnya penentuan jurusan serta perguruan tinggi tujuan. Saya memutuskan pilihan pertama Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian dan pilihan kedua Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan, keduanya di Universitas Sriwijaya (Unsri). Alasannya sederhana, saya begitu menyukai mata pelajaran biologi. Kenapa pertanian? biologi banyak dibahas di pertanian, saya tinggal di daerah perkebunan tentu akan sangat baik jika bisa kembali kedaerah asal saya. Dan Guru, pernah menjadi salah satu cita-cita saya.

Bukan hidup jika tanpa ujian

Proses seleksi cukup panjang, di hari pengumuman saya berada di desa yang saat itu masih belum ada jaringan internet. Hanya tempat tertentu yang bisa mengakses internet, di daerah saya hanya ada satu provider yang bisa digunakan. Heemmm memang sangat sulit. Hasil kelulusan itu diumumkan sore hari, dan saya baru bisa mengakses web saat tengah malam. Terwujudnya mimpi adalah dari hasil usaha, doa, serta campur tangan Tuhan. Saya dinyatakan lolos di Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Unsri melalui jalur SNMPTN Bidikmisi tahun 2015. Baiklah, saya sudah mengamankan satu kursi dan biaya kuliah selama 4 tahun.

Tim veifikasi tidak bisa datang kerumah saya di hari yang sudah dijadwalkan karena akses yang terlampau jauh. Sehingga diputuskan untuk dilakukan verifikasi di kota tempat saya sekolah SMA dengan membawa berkas dan bukti foto-foto pendukung lainnya. Bersama orang tua, saya berangkat kesana secepat mungkin karena hanya diberi waktu hingga sore hari. Verifikasi berjalan lancar. Namun ada hambatan baru ketika akan berangkat untuk Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), orang tua saya tidak yakin bisa membiayai keberangkatan. Beasiswa tersebut tidak mencakup biaya keberangkatan dari daerah asal. Agar mengurangi biaya, saya memutuskan untuk berangkat sendiri. Ini adalah kali pertama saya pergi jauh tanpa ditemani.

Petualangan berikutnya untuk memperjuangkan mimpi itu saya mulai. Butuh waktu 12 jam dari rumah untuk sampai ke ibu kota provinsi, dengan 2 kali berganti transportasi. Sampai di Ibukota Provinsi saya tinggal dua hari di kost kakak kelas saya untuk kemudian menuju ke Universitas untuk mengurus tinggal di asrama. Biaya asrama cukup murah dengan fasilitas yang cukup lengkap. Lagi, saya tinggal diasrama tanpa teman sedaerah atau teman satu sekolah. Proses adaptasi lebih mudah, karena sudah terbiasa dengan lingkungan baru. Saya tinggal di asrama sampai semester 5, kemudian pindah dari satu kos ke kos lainnya.

Membangun Network

Selama kuliah saya mulai memperbanyak kenalan dengan mulai mengikuti organisasi di tahun kedua. Cukup terlambat, dari pada tidak sama sekali. Karena di tahun pertama saya lebih banyak fokus belajar akademik, mengikuti kegiatan jurusan, salah satunya bergabung dalam tim voli jurusan dan fakultas dalam lomba tingkat Universitas. Tahun kedua, saya bergabung dengan 2 organisasi sekaligus Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tingkat fakultas, dan UKM Teater Gabi’91, tahun ketiga saya juga mulai bergabung menjadi Asisten Dosen. Kemampuan komunikasi, dan berpendapat saya banyak terasah di DPM fakultas serta bergabung dengan Asisten Dosen. Saya begabung di DPM selama 1 tahun, jaringan pertemanan saya makin luas mulai mengenal teman-teman dari jurusan berbeda di lingkup fakultas. Memilih UKM Teater Gabi’91 menjadi wadah berkembang dan menggali potensi bukan tanpa alasan. Seni sudah menjadi bagian dari saya, jurusan kuliah yang berbeda tidak menyurutkan akan kesukaan saya terhadap seni. Teater adalah seni yang kompleks karena mencakup beberapa cabang seni. Selain seni peran, kemampuan menulis, analisis sastra, seni tari, seni rupa, dan musik juga saya peroleh disana.

Melalui teater banyak sekali kesempatan yang tercipta, 1 tahun pertama saya diberi kesempatan untuk bisa bergabung dalam Tim Pentas Kolaborasi Teater Gabi ’91 Unsri dan UKMBS Universitas Lampung tahun 2017. Pementassan dilaksanakan selama 2 hari di Gedung Teater Tertutup Lampung. Ini adalah kali pertama saya berpetualang melalui hobi, rupanya asik dan menyenangkan. Di tahun berikutnya kami mengikuti lomba parade teater tingkat Kota Palembang mewakili Unsri, saya diberi kesempatan terlibat sebagai aktor lagi. Ini menjadi lomba pertama yang saya ikuti selama menjadi mahasiswa. Kami berhasil mendapat tiga dari empat kategori lomba, naskah terbaik, aktor terbaik, dan pementasan terbaik.

Melirik Pentas Nasional

Lagi, mimpi-mimpi lain makin tumbuh dengan subur. Ada keinginan dalam diri bisa membawa nama Institusi di level nasional. Mimpi mulai terjawab dengan bergabungnya saya dengan Tim Monolog Festival Monolog Nasional 5 (STIGMA) Malang, diselenggarakan oleh Teater Hampa Universita Malang tahun 2018. Kali ini bukan sebagai aktor, saya dipercaya untuk menjadi tim penata rias dan kostum, serta tugas tambahan menjadi asisten sutradara. Luar biasa, semua menjadi pengalaman baru karena semua adalah kali pertama bagi saya. Saya banyak belajar dalam kerja sama tim, kemudian belajar untuk memahami orang lain. Biasanya saya menjadi pemeran yang segala hal sudah disiapkan dan sesuaikan oleh tim, kali ini giliran saya. Ini menjadi pengalaman pertama saya pergi mewakili institusi di lomba tingkat nasional bertemu 16 peserta dari universitas berbeda. Beban cukup berat namun ada hal yang makin ringan, balas budi kepada institusi yang sudah memberikan saya wadah dengan gratis untuk bisa mengenyam bangku kuliah. Kami berhasil masuk dalam nominasi penata rias dan busana, serta penata panggung. Cukup baik capaian di STIGMA ke 5 ini. Ahhh ada fakta menarik lain, ini juga menjadi kali pertama saya bisa pergi naik pesawat. Mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi menjadi luar biasa dan sangat bersejarah bagi saya. Banyak peluh, pikiran, dan waktu yang dicurahkan untuk berada di titik ini.

Pulang harus menang, menjadi motto lanjutan saya. Di tahun yang sama, saya dipercaya untuk menjadi aktor monolog dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) dan juga diberi amanah menjadi Ketua Umum satu periode kedepan. Tahun ini cukup berat, karena saya sudah di semester akhir dan sudah mulai menjalankan tugas akhir. Untuk bisa mengikuti Peksiminas ke XIV di Yogyakarta, kami melalui tahap seleksi tingakat Universitas dan tingkat provinsi. Nasib baik, kami berhasil mewakili Unsri serta Sumatera Selatan bersama 29 provinsi lainnya. Kami menjadi penampil pembuka. Besar harapan bisa pulang membawa piala, karena Unsri sudah 2 kali absen membawa piala di ajang Peksiminas. Proses tidak ada yang menghianati hasil, kami berhasil pulang sebagai juara harapan II. Walapun belum sebagai yang pertama, tapi kami sudah bisa pulang sebagai pemenang.

Cum Laude dalam 3 Tahun 10 Bulan

Tanpa melupakan kewajiban utama sebagai mahasiswa, saya melanjutkan tugas akhir saya setelah menyelesaikan Peksiminas. Di sela-sela kesibukan tugas akhir, saya berusaha tetap melaksanakan tanggungjawab sebagai Ketua Umum, dengan tetap menjalankan beberapa pentas dan membersamai dalam seleksi kurasi Festival Teater Mahasiswa Nasional 9 di Medan. Saya menyelesaikan studi S1 dalam 3 tahun 10 bulan, dan menyelesiakkan periode kepungurusan di UKM Teater Gabi ’91 tepat 2 hari sebulum upacara wisuda di bulan Agustus 2019, serta mendapatkan predikat cumlaude dan mahasiswa aktif berorganisasi. Tidak ada yang terhambat kecuali kita yang menghambat, tidak ada alasan kuliah 4 tahun tidak bisa mengembangkan potensi diri, tidak alasan jurusan kuliah dan hobi yang bersebrangan sehingga tidak bisa dijalankan. Dan rupanya uang juga bukan menjadi hambatan. Semua kembali kepada kita yang mau atau tidak memperjuangkan mimpi tersebut. Berikut senyum lebar Iik bersama orang tua tercinta.

Setelah lulus saya di beri kesempatan Internship di UPT Pusat Pengembangan Karakter dan Karir Mahasiswa biasa dikenal CDC Unsri. Saat ini saya sedang dalam proses pelatihan untuk menjadi Pengajar Muda XX di Yayasan Indonesia Mengajar, proses ini sempat tertunda akibat Pandemi Covid-19 yang semula di bulan Juni sudah penempatan kemudian ditunda menjadi Februari tahun 2021. Mengapa Indonesia Mengajar? saya ingin mewujudkan mimpi saya yang tertuda, menjadi guru. Mengabdi kepada negara yang sudah banyak memberi kesemptan dan mewujudkan mimpi saya. Semoga satu tahun mengabdi ini mampu selamanya menginspirasi, tak usah banyak minimal satu atau paling tidak diri saya sendiri.

Penutup

Sambil mengucapkan terima kasih kepada Iik, panggilan akrab Yuni Siti Sholikhah untuk kisah perjuangan yang menginspirasi, cerita ini juga kami sajikan untuk menginspirai yang lainnya bahwa keterbatasan bukan menjadi hambatan, kalau kita mempunyai kemauan besar. Berbagai pintu peluang bisa terbuka, asalkan kita berani bermimpi dan mulai melangkah untuk meraih mimpi.

“Don’t wait for the right opportunity: create it.” (George Bernard Shaw)

Bookmark and Share

4 Responses to Inspirasi dari Pelosok Nusantara

  1. retno dwiyanti says:

    pak Josef, terima kasih sdh sharing tulisan ini…hiburan yg sangat bermanfaat ditengah situasi saya yg terbaring di RS bersama suami karena covid….doakan kami segera sembuh ya pak…

  2. dimy says:

    Sangat inspiratif pak, ijin belajar banyak di blog ini ya pak!!

    terima kasih

    • josef josef says:

      Terima kasih Dimy, silahkan menyimak 748 artikel yang ada di blog ini dari berbagai kategori, semoga bermanfaat. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Mudji, semoga sehat selalu. Kalau bisa bicara pasti bisa menulis. Yang diucapkan kalau dituangkan...

Mudji:
Masyā Allāh, bahagia sekali baca tulisan Pak JOS & semua sharingnya… Ternyata ketidak-pedean menulis...

josef:
Terima kasih Abu Azzam sudah menyimak cerita di blog ini. Saya sudah email link untuk pesanan buku online...

-:
Coach, saya dari papua barat, saya sangat berminat untuk memiliki bukunya “leader as meaning maker”....

josef:
Terima kasih Tasha untuk kunjungannya ke blog ini dan menyimak tulisan2 yang saya hadirkan disini. Bila terasa...


Recent Post

  • Terima Kasih Pintuku Dibuka
  • VALUES Landasan Sukses
  • BERMAKNA Bagi Orang Lain
  • Berani Bersuara
  • Saya Belajar Bersyukur dari Murid SD
  • Mengukir Positive Legacy
  • Coaching for Student’s Resilience
  • Mengasah Intuisi Menginterpretasi Simbol
  • Jeli Saat Menjadi Andalan
  • Banyak Cara Saling Menyapa