Membangun Karir Global: Nurtured Locally, Build A Career Globally

Posted on May 2nd, 2017

“Good timber does not grow with ease; the stronger the wind, the stronger the trees.” (J. Willard Marriott)

PERJALANAN LIBURAN KELUARGA baru-baru ini, tidak hanya menempatkan obyek wisata sebagai bagian dari jadual, tapi juga bertemu kawan atau siapa saja yang dihadirkan universe di hadapan kita. Menariknya, ada yang hadirnya secara surprise, yang akan saya sajikan dalam tulisan lain.

Selain bertemu, saya juga meminta Akhmad Saeful, salah seorang young talent yang sedang berkiprah di pentas global untuk memberikan beberapa tips bagi kawan-kawan yang sedang mempersiapkan diri untuk Go Global. Tulisan Akhmad Saeful tersebut saya terima usai sarapan begitu tiba di rumah, dan saya akan memuat tulisan tersebut seutuhnya dengan judul dan isi sebagai berikut.

Membangun Karir Global: Nurtured Locally, Build A Career Globally

Tulisan ini dihaturkan untuk Bapak Josef Bataona, seorang sosok guru, mentor dan motivator yang saya kagumi dan hormati. Saya mengenal beliau sejak 16 tahun yang lalu sebagai mahasiswa tingkat akhir yang berpartisipasi dalam pelatihan dan simulasi bisnis yang diadakan oleh salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia, di mana beliau saat itu menjabat sebagai Direktur HR.

Setelah bertemu kembali beberapa waktu yang lalu di UK, atas permintaan beliau dengan segala kerendahan hati saya mencoba untuk menuangkan buah pikiran dan berbagi pengalaman sebagai salah satu talent Indonesia yang sedang memiliki kesempatan untuk membangun karir global.

2 Mei 2017_Membangun Karir Global-Nurtured Locally, Build A Career Globally

Konteks

Tak bisa dipungkiri Indonesia adalah salah satu negara dengan potensi ekonomi yang sangat besar dengan track record pertumbuhan ekonomi yang konsisten dan potensi pasar yang menjanjikan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menarik dan dijadikan tumpuan ekspansi dan pertumbuhan perusahaan, baik bagi perusahaan lokal apalagi bagi perusahaan multinasional yang mengandalkan pasar emerging markets sebagai basisnya.

Hal ini membuka kesempatan bagi sumber daya manusia Indonesia untuk dapat berkompetisi dalam konteks global. Tidak hanya talent asing yang memiliki kesempatan untuk berkarir di Indonesia, talent Indonesia pun memiliki kesempatan untuk berkarir di luar negeri dengan akses dan visibility yang semakin terbuka. Saya yakin sudah lumayan banyak dari kita yang memiliki kesempatan ini … namun masih belum cukup banyak untuk dapat membuat share of voice Indonesia terdengar lebih lantang di kancah global.

Untuk membangun karir global (dan juga karir secara umum) pada dasarnya bergantung pada 3 faktor; Kemauan, Kemampuan dan Kesempatan. Dan jika kita memiliki minat ke arah tersebut tentu sebagai konsekuensi logis harus mempersiapkannya, terutama dua faktor awal yang berada dalam kendali kita. Sedangkan faktor terakhir bisa dipersiapkan dengan networking dan membangun supporting environment yang mendukung seperti bekerja atau membangun akses bisnis yang memiliki jangkauan global.

3 Hal yang Diperlukan untuk Berkompetisi dalam Lingkup Global

Hal yang sering mengawali diskusi tentang membangun karir global adalah faktor apa saja yang perlu dipersiapkan dan akan membantu kita dalam berkompetisi dalam lingkup global. Sebenarnya semua kembali pada aspek yang mendasar dan tidak ada formula khusus. It’s not a rocket science …

Menurut pandangan saya pribadi setidaknya ada 3 hal sebagai berikut [3C]:

  1. Content

Terlepas dalam bidang apapun kita bekerja, kita harus memiliki pengetahuan yang memadai atas bidang yang kita tekuni. Ini adalah modal dasar yang berlaku universal. Tentu saja tidak mungkin kita bisa mengetahui semua hal secara detil karena sifat luasnya ilmu, tapi minimal kita harus bisa mengidentifikasi kunci-kunci skills & competencies di bidang kita dan menguasainya semaksimal mungkin. Dan yang juga penting adalah harus tahu kemana mencari jawaban, rujukan atau referensi jika kita belum tahu secara mendetil atas permasalahan yang sedang dihadapi. Hal ini harus pula kita iringi dengan tetap mengembangkan diri secara berkelanjutan dan menjaga sikap haus atas pengetahuan.

  1. Communication

Aspek klasik, namun sangat penting. Dalam segala aspek hubungan sosial, termasuk karir, komunikasi memegang peranan penting. Sungguh disayangkan jika kita memiliki banyak ide, bekerja dengan keras dan tekun namun belum dapat mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi. Komunikasi dalam hal ini adalah kemampuan untuk berinteraksi, meyakinkan dan mempengaruhi orang lain secara positif dalam sebuah pengambilan keputusan, baik secara lisan ataupun tulisan. Di sinilah terletak nilai tambah kita sebagai individu, yang tidak hanya menguasai aspek teknis tapi juga mampu mengkomunikasikannya secara efektif.

Bahasa bisnis dan bahasa asing yang relevan seperti bahasa Inggris tentunya menjadi hal yang penting untuk dikuasai. Terlihat sangat mendasar, tapi sering kali saya masih mendengar dan membaca diskusi mengenai hal ini di berbagai forum tentang mengapa kita harus menguasai bahasa asing padahal seharusnya kita bangga sebagai bangsa Indonesia dan berbahasa Indonesia. Pandangan saya sederhana dan realistis, untuk membuat Indonesia lebih terdengar di dunia, tentu harus menguasai bahasa yang sedang umum digunakan di dunia. Justru jika kita mencintai bangsa ini, kita harus berani terbuka dan berkembang secara positif. Pada saat bangsa kita menjadi dominan di kancah global dengan kemampuan teknis dan komunikasi yang efektif, barulah kita dapat mempengaruhi dunia lebih jauh.

  1. Confidence

Percayalah bahwa setiap kita diberkahi dan memiliki peluang yang sama untuk berkembang sebagai individu. Semuanya berpulang kepada diri kita apakah mau dan mampu mengasah skills dan competencies yang kita miliki secara berkelanjutan. Kita sebagai bangsa Indonesia diwariskan dan dibesarkan dengan banyak nilai-nilai luhur yang justru bisa menjadikan proposisi individu yang unik dan berbeda ketika kita berkompetisi di lingkup global. Kita harus pahami dan antisipasi bahwa sudah tentu kita akan menghadapi budaya dan nilai-nilai yang berbeda di luar sana dan dalam hal ini kita harus cermat ketika harus menempatkan diri dalam konteks profesional tanpa harus kehilangan jati diri. Kita harus tetap rendah hati tapi tidak boleh rendah diri. Percaya diri sangat penting, karena kalau kita saja kurang atau tidak percaya pada diri kita sendiri bagaimana kita bisa membuat orang lain percaya pada kita?

2 Kebiasaan yang Perlu Disesuaikan

Tanpa bermaksud men-generalisir, menurut hemat saya dan juga berdasarkan pengalaman pribadi ada beberapa kebiasaan umum dalam bekerja yang perlu disesuaikan ketika kita berada dalam lingkup global, sebagai berikut [2S]:

  1. Sungkan

Bagi orang Indonesia, pada umumnya sungkan didasari rasa hormat terhadap orang yang lebih senior baik dari sisi jabatan atau umur dan dipandang memiliki pengalaman yang lebih banyak. Hal ini sebenarnya berawal dari niat dan kebiasaan yang baik asalkan dalam kadar dan tempat yang sesuai. Namun dalam lingkup pekerjaan global kita perlu menyesuaikan pendekatan ini karena kita berada dalam situasi multi-kultur, relatif tidak birokratis dan seringkali berada dalam ritme kerja yang serba cepat.

Merujuk kepada pengalaman pribadi, tidak jarang saya harus membuat suatu analisa atau nota formal yang berisi proposal dan rekomendasi atas sebuah keputusan yang ditujukan untuk persetujuan baik Chief Financial Officer (CFO), Chief HR Officer (CHRO) ataupun Chief Executive Officer (CEO) Global. Dan tidak jarang pula saya harus memberikan klarifikasi lebih lanjut, menjawab pertanyaan ataupun menjelaskan secara langsung kepada CFO dan CHRO atas analisa atau nota yang diajukan tanpa sempat berkoordinasi secara menyeluruh dengan Vice President ataupun Executive Vice President sebagai atasan langsung saya.

Dalam situasi normal tentu saja koordinasi dengan atasan bisa dilakukan dan merupakan hal yang penting. Namun dalam situasi tertentu, dalam hal pekerjaan yang memang merupakan otoritas kita dan atasan kita memberikan kepercayaan untuk langsung berinteraksi dengan level yang beberapa tingkat lebih tinggi, kita tidak perlu merasa sungkan. Hal ini berlaku pula dalam menyatakan pendapat, kita bisa menyatakan pendapat yang berbeda dan tidak setuju dengan atasan kita asalkan dilengkapi dengan logika dan argumen pendukung. Memang pada akhirnya keputusan akan diambil oleh level yang berwenang, tapi bukan berarti kita harus sungkan dalam memberikan pendapat yang berbeda sepanjang dilengkapi dengan penjelasan pendukung.

  1. Sedikit Bicara, Banyak Bekerja

Lagi-lagi hal ini sebenarnya didasari niat dan kebiasaan baik di mana kita lebih baik fokus pada pekerjaan tanpa terlalu banyak bicara. Namun dalam konteks global di mana komunikasi yang efektif dan share of voice berperan penting dalam sebuah pengambilan keputusan, kita harus menyesuaikan pendekatan ini. Jika kita sedikit bicara hal itu akan memperkecil kemungkinan pendapat kita didengar dan kontribusi kita menjadi kurang optimal. Banyak Bekerja, Banyak Bicara Yang Bermanfaat merupakan pendekatan yang lebih tepat.

Dalam meeting atau diskusi kita harus bisa memberikan pendapat secara langsung, efektif dan disertai logika pendukung, tentunya dengan prasyarat hal yang kita sampaikan harus merupakan hal yang bermanfaat dan tidak asal bicara untuk sekedar menunjukkan eksistensi kita.

Last but not least, adalah hal yang positif jika kita memiliki aspirasi untuk bekerja dalam lingkup global, namun perlu diingat hal ini bukanlah merupakan suatu tujuan. Ini hanya merupakan salah satu jalan di antara banyak jalan lainnya untuk menjadi individu yang lebih baik. Di manapun kita bekerja yang penting adalah didasari dengan niat tulus untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain serta berkontribusi dengan cara kita masing-masing untuk kemajuan bangsa dan negara. (Tautan lain yang berkaitan: 6Ps in Building a Career)

Sekilas tentang penulis: Akhmad Saeful, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 2002, selama hampir dua tahun ini bekerja sebagai Finance Director – Global Performance Management di kantor pusat Unilever Global, United Kingdom. Sebelumnya berkarir di Unilever Indonesia selama 13 tahun dan menduduki berbagai posisi finance baik di kantor pusat, Jakarta dan Pabrik Cikarang (lebih jauh tentang saya: Transforming Limitations into Inspirations).

“It is not what happens to you that determines how far you go in life; it is what you do with what happens to you.”  (Zig Ziglar)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life