Sejenak Bersama Handry Satriago

Posted on June 4th, 2013

“A single conversation with a wise man is better than ten years of study. (Chinese proverb)

Pagi yang Cerah untuk Belajar

Via twitter @josefbataona, dengan antusias saya berkicau: “Pagi yang cerah, akan lebih ceria dengan hadirnya pak @HandryGE untuk sharing di Perusahaan kami.”

Dalam memperkenalkan beliau, saya berani mengungkapkan bahwa dia datang dari keluarga perantau Minang sederhana, sebuah atribut  yang dia sendiri bangga untuk diutarakan. Karena walaupun saat ini dia duduk di kursi CEO perusahaan global bernama GE Indonesia, namun tetap humble, tampil sederhana, iklas membagi pengetahuan dan pengalaman dalam berbagai forum inspirasi.

Dan ini adalah bagian dari komitmen dia yang tercantum di bawah akun twitternya:

“Love Learning and Sharing. Passion to see more Indonesia’s young talents become global leaders.

Bahkan twit terakhir malam jelang sesi ini masih tentang leadership, di mana @HandryGE mengatakan:

“Leader will lead their team to accomplish the job… manager many times, over manage..”

CEO dengan Talent Agenda yang Jelas

Begitu diberi kepercayaan untuk memimpin perusahaan yang sudah lebih dari 70 tahun di Indonesia, dia langsung melihat ada potensi yang selama ini belum disentuh secara serius, yakni: “Mengembangkan Talent Lokal untuk menjadi Global Leaders.

Jangankan untuk menjadi talent global, bersaing untuk meraih posisi lokal saja kita masih kalah. “Masa, area sales manager di tengah Kalimantan adalah expatriate. Memangnya dia lebih mengerti customer lokal di sana dibanding manager lokal?,” ungkapnya sebagai salah satu contoh.

Tapi apa penyebabnya?? Apa yang salah dari manager lokal kita, padahal prestasi mereka sangat gemilang? Dalam usaha mencari jawaban, dia berani menanyakan kepada pimpinan Global yang sedang berkunjung ke Indonesia.

Jawaban yang diperoleh:

Talent-talent Indonesia sangat bagus dalam eksekusi. Sangat boleh dalam Say YES but  lack of Capability to say NO.Tentu saja ada tekniknya untuk SAY NO, dengan alasan 1,2,3.. Kemudian memberikan alternative  solusi 1,2,3… dan meminta support dari atasan atau organisasi 1,2,3….

Keberanian untuk SAY NO juga akan memunculkan kemampuan untuk bertanya: WHY dan WHY not? Dan pemikiran seperti ini yang mengawalnya untuk memulai pertanyaan untuk memformulasikan VISION, dengan pertanyaan: Apa yang membuat kita BANGGA bekerja di perusahaan ini?

Selanjutnya langkahnya tidak dapat dibendung lagi. Dan ketika dia munculkan ide cemerlang untuk membangun Learning Center di Indonesia, tempat Customer Belajar tentang pengalaman 130 tahun GE, banyak kalangan semakin yakin bahwa Pak Handry sungguh seorang Believer in Talent.

Dalam konteks ini akan relevan menghadirkan Steve Jobs dengan “Connecting the dots”, menghubungkan points of intelligence, wisdom, desire and ability, yang berada dalam setiap individu. Ini membutuhkan intuisi yang tajam untuk menghubungkan bukan saja titik-titik masa lalu tapi juga kemungkinan yang belum ada.

Dan ini hanya terjadi kalau dimulai dengan “Trust Yourself”, yakin bahwa kita bisa think big, make a difference dan memberikan dampak pada apa saja yang kita kerjakan demi dunia yang lebih baik. Hal ini tidak bisa dilakukan sendirian, tapi melalui berbagai keahlian yang dikumpulkan, dihubungkan, disatukan untuk menciptakan kesempatan memupuk benih inovasi.

Dan dalam perjalanan ke depan, kita hanya bisa connect the dots kalau kita bisa create the dots. Demikian papar Pak Handry.

Handry Menghubungkan Titik-titik Penting Masa Lalu

Dalam suratnya kepada para Pemimpin Indonesia Masa Depan, Handry menulis: (saya kutipkan hanya sepenggal surat itu)

“Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yang dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang yang berkecamuk.

Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta. Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya? Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda. Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu.

Keterbatasan menghadang di banyak hal. Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan.

Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap.

“Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terus menerus dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak! Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival-nya di muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… melawannya!.

Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing back-daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang General Electric International Operations Company, Inc. asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya takut.

Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi menghujami saya.

Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya tempuh. Dan ketika perangkat perang-semangat untuk memantul, saya gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh ribuan pasukan-keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan saya.

Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.

Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta-lah yang pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika mereka melihat Anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu Anda dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan Anda.”

Inspirasi dan Pembelajaran

Waktu kami memang tidak banyak untuk bersama Pak Handry. Tetapi waktu yang hanya sebentar telah menggugah peserta untuk berani bermimpi. Sesi yang memukau dari pengalaman pribadi yang penuh tantangan, membangkitkan percaya diri siapa saja, bahwa kalau Pak Handry bisa, seharusnya kita semua juga BISA.

Dan 2 (dua) rekor dunia yang diraihnya:

  • Pertama, lulusan universitas dalam negeri pertama yang menduduki posisi CEO GE.
  • Kedua, pemimpin termuda dalam sejarah GE Global.

Semua ini mempertebal keyakinan kita bahwa kita pun BISA. Dan upayah dia sebagai CEO dalam men-drive BOD untuk talent agenda dalam rangka mempersiapkan local talent menjadi Global Leaders, merupakan langkah yang patut dicontoh.

Terima kasih Pak Handry Satriago. Engkau telah meninggalkan gedung kantor kami, tapi semangat dan inspirasimu masih tinggal di tengah kami. (*)

Bookmark and Share

10 Responses to Sejenak Bersama Handry Satriago

  1. devi says:

    Luar biasa tokoh yg bapak angkat sebagai inspirasi pagi ini. Rupanya fisik tdk lah menjadi halangan untuk berhasil, dengan mimpi, keinginan yang luar biasa membuktikan senjata perang paling ampuh untuk melumpuhkan “musuh” rintangan yg menghalangi jalan terang didepan. Salam saya buat Pak Handry pak Josef

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi. Saya sendiri juga kagum dan selalu terinspirasi mendengar paparannya. Mudah2an ini bisa menjadi cermin, seberapa tulus kita menanggapi panggilan tugas kita masing2. Akan saya sampaikan salamnya kepada pak Handry

  2. Dwi Aryssandhy says:

    menarik pak ketika talent di Indonesia belum bisa “say NO” dan memberikan solusi…

    padahal banyak talent di perusahaan – perusahaan yang sudah bisa berkata “No” dab memberikan solusi, namun seringkali mereka berada bukan pada posisi manajemen yang pada akhirnya mereka membangun bisnis sendiri 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Dwi, kasus yang Dwi ketengahkan juga ada. Pak Handry coba mengangkat pengalaman nyata yang dia hadapi untuk menjadi pembelajaran kita semua. Dengan persaingan yang semakin ketat, persyaratan untuk meraih posisi kunci di perusahaan akan semakin banyak, walau bukannya tidak mungkin. terima kasih Dwi untuk kunjungannya ke blog ini

  3. Silo says:

    Sangat luar biasa kisahnya, inspiratif dan.menggugah…Thanks Pak Josef sharingnya..

  4. Tita says:

    Figur2 spt p Jofef dan p Handry adalah figur2 yg perlu diteladani oleh generasi muda penerus bangsa. Semoga kisah inspiratif ini bisa menghasilkan leader2 spt p Josef n p Handry…

    • josef josef says:

      Terima kasih Tita, seperti yang Tita lihat, saya masih terus belajar dari inspirator lainnya. Semoga tulisan ini menambah manfaat

  5. Cecep says:

    Luar biasa Pak kisah inspirasinya kali ini. Salut! Bahkan seorang pak Josef sekalipun masih mau belajar dari yang lainnya. Memang kita semua sampai kapan pun tidak akan pernah berhenti untuk belajar! Semoga kita semua selalu diberikan kemudahan dalam menggapai mimpi-mimpi yang ada. Terima kasih Pak untuk berbagi! 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Cecep. Banyak sekali orang2 hebat disekitar kita yang mau berbagi dan bisa jadi sumber pembelajaran kita. Yang penting kita membuka diri untuk belajar, sampai kapanpun. Mari kita terus melangkah menggapai mimpi kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan