Doing Well by Doing Good

Posted on March 24th, 2015

“The world changes according to the way people see it, and if you can alter, even by a millimeter, the way people look at reality, then you can change the world.” (James Baldwin)

SESI PAGI ITU sungguh menggairahkan. Acara yang awalnya diperuntukkan bagi karyawan Universitas, mengisi sharing rutin mereka, berkembang dengan mengundang mahasiswa jurusan Human Resources Management dan  juga professional/umum dari luar untuk juga turut hadir. Sejauh itu nampaknya skenario tersebut mudah diterima. Dan fliers yang beredarpun begitu menggoda, seperti tampak di bawah ini.

Becoming Inspiring HR PRofessional

Lalu beberapa hari menjelang acara dilaksanakan, datang pesan bahwa ada kelas lain ingin bergabung, mereka yang sedang belajar Teknologi Pangan. Saya pun tersenyum membaca pesan itu. Asumsi saya sementara: “Bahkan orang Teknologi Pangan paham bahwa mereka pun bisa menjalankan peran HR Professional di bidang yang akan mereka tekuni, tanpa perlu harus bekerja di HR Departement, sebuah terobosan pemikiran yang luar biasa.”

Paparan Pengantar: Sebuah Peringatan Dini

Sesi dibuka oleh Pak Taufiq Amir, dengan paparan tentang Doing Well by Doing Good. Pesan itu tentu untuk semua yang hadir, bahwa mengerjakan misi sesuai profesi secara maksimal memang panggilan profesi. Untuk itu kita seharusnya terus belajar untuk bisa menjadi professional handal. Namun di samping itu ada panggilan kemasyarakatan lainnya untuk menebar benih kebaikan kepada yang lain.

Dalam blog Idealist Career (dengan tagline: Helping You Find, Land and Love Social Impact Career) Aaron McCoy menulis:

“Hari Jumat tiba, sebelum mematikan komputermu untuk berakhir-pekan, pertimbangkan beberapa kutipan berikut, tentang mengambil langkah mengubah dunia.”

Saya sajikan tiga di antaranya:

  • “Everybody can be great…because anybody can serve. You don’t have to have a college degree to serve. You don’t have to make your subject and verb agree to serve. You only need a heart full of grace. A soul generated by love.” (Martin Luther King, Jr.)
  • “To serve is beautiful, but only if it is done with joy and a whole heart and a free mind.” (Pearl S. Buck)
  • “You never change things by fighting the existing reality. To change something, build a new model that makes the existing model obsolete.” (Richard Buckminster Fuller)

Paparan itu sekaligus memperingatkan para mahasiswa yang hadir, bahwa setelah lulus nanti, mereka bukan saja menggeluti tugas sesuai profesi masing-masing, tetapi juga panggilan untuk ambil bagian untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Sharing Session Universitas Bakrie

Pesan yang juga dihadirkan di Sosmed

Beberapa butir paparanku hari itu, saya temukan hadir di media sosial:

  • Setiap moment harus dihadapi dengan sepenuh hati, karena itu bagian dari persiapan untuk tugas di masa mendatang.
  • Dalam mengerjakan tugas apapun, Anda sebetulnya sedang manggung. Ada mata yang sedang memperhatikannya. Siapa tahu, di antara mereka ada yang akan membuka pintu peluang untukmu. Karena itu, kerjakanlah dengan sepenuh hati.
  • Sukses seorang pimpinan, adalah bila dia berhasil menelorkan lebih banyak pimpinan, hasil binaannya.
  • Panggilan Tugas seorang pimpinan adalah Melayani, melampaui panggilan formal jobnya, berbagi kebaikan.

Butir-butir tersebut, bisa menjelaskan sukses seorang leader dalam menjalankan tugasnya (doing well) akan maksimal bila dia juga memenuhi panggilan hidup sosialnya (untuk doing good) seperti komentar Pak Taufiq Amir di blogku beberapa saat lalu:

“Pak Josef, tks banyak mau berbagi dan menginspirasi kami di Univ.Bakrie (UB). Saya dan rekan2 di UB suka menyebut bapak Positive Leader. Leader yang “doing well” krn optimal dg fungsinya dalam pekerjaan, tapi juga “doing good”, bersedia selalu menebar manfaat dg apa yg dimilikinya.

Keep on inspiring ya pak …”

Kutipan “Doing Well by Doing Good” berasal dari kata-kata Benyamin Franklin:

“To do well or to get fulfillment from life is the result of doing good deeds and living your life”

Ketika sesi tanya jawab, muncul beberapa pertanyaan yang serius dari para mahasiswa yang ingin mengetahui implementasi di lapangan:

  • Pernakah mengalami kesulitan karena punya tim beda Generasi?
  • Adakah masalah karena dalam tim ada yang hanya bisa saran doang tapi tidak bisa kerja?

Ikuti detail penjelasannya dalam posting berikutnya.

“Start by doing what’s necessary; then do what’s possible; and suddenly you are doing the impossible.” (St. Francis of Assisi)

Bookmark and Share

2 Responses to Doing Well by Doing Good

  1. Robert Affero says:

    Melayani dan berbagi merupakan tugas yang kadang kita lupakan , padahal itu merupakan kewajiban selaku insan yang berada di dunia. Kita sering lupa untuk faktor Bagi dan kurang yang ada Faktor Kali dan Tambah yang lebih kuat. Terima kasih pak Josef semoga kami selalu berbuat baik dan berbagi dalam kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna