Kontribusi HR terhadap Nilai Bisnis

Posted on May 14th, 2013

(One Team One Mission, Part 2)

“Years from now, will you be able to look back and say that you “added something to the flow? (Jonathan Byrnes)

DI SEKITAR kita ada saja yang bisa menginspirasi untuk dijadikan bahan komunikasi. Pagi itu, selagi banyak anggota tim tertidur lelap, saya sudah bangun dan mulai menjalankan komitmen harian saya untuk “bergerak” (dengan ukuran pada pedometer). Kali ini dengan berjalan kaki dari hotel ke Pantai Losari, yang berjarak sekitar 1500 steps.

Bekal saya hanya sebuah iPad untuk merekam berbagai moment yang hadir pagi itu, dan ternyata inspirasi itu datang, sehingga materi presentasi pagi itu agak berubah format seperti yang saya sampaikan di bawah ini. Di samping itu, kebiasan saya untuk posting 3 inspirational quotes setiap pagi, bisa saya tayangkan sambil duduk santai di pinggir pantai.

AIM High

Dalam posting sebelumnya (di sini), saya utarakan tentang  HR Value itu diawali di Bisnis, dan Ultimate Value dari Bisnis tersebut akan dinikmati oleh Pelanggan dan Konsumen di Market Place. W. Clement Stone menyodorkan tips:

“Aim for the moon. If you miss, you may hit a star.”

Karena itu, butir pertama pengantar diskusi pagi itu adalah AIM High, dengan ilustrasi yang saya temukan di pantai Losari. Karena dengan situasi di pasar seperti yang dipaparkan di artikel lalu, tantangan semakin besar, sekaligus harapan dari rekan-rekan bisnis sangat tinggi terhadap kontribusi HR.

Dalam konteks aiming high, sering Developing and Retaining Talent tidak dilaksanakan secara serius, dengan alasan sederhana: SIBUK!! “Kami di bisnis, sangat sibuk, jadi itu adalah tugas HR untuk memanage!”

Demikian pernyataan yang sering kita dengar dari rekan-rekan pelaku bisnis. Ini tidak spesifik perusahaan tertentu. Ownership dari semua pimpinan di semua level sangat menentukan dalam me-manage Talent. Kurangnya perhatian, waktu yang diluangkan dan kesungguhan dalam mengelola talent, ibarat pohon kering yang saya temukan di pantai Losari, penuh semangat pada waktu ditanam, tapi terlalu sibuk untuk menyiramnya.

Namun demikian, begitu memandang wajah penuh semangat dari semua anggota tim yang hadir di Makassar, saya mempunyai konfiden tinggi. Kebersamaan dalam tim yang solid akan memberikan hasil maksimal. Komitmen dari setiap anggota tim, akan membuat tugas yang nampak berat menjadi ringan. Dan kalau semuanya kompak dan mengatakan; “YA kita BISA,” maka perjalanan selanjutnya akan menyenangkan.

Belajar Jualan di Pasar

Menyadari bahwa apapun kontribusi yang diberikan HR kepada bisnis, nilai akhirnya akan dinikmati oleh para pelanggan dan konsumen, maka HR perlu memahami moment di mana karyawan kita diujung tombak membawa produk kita dan berinteraksi dengan mereka yang akan mengapresiasi produk kita. Karena itu sebagai bagian dari program HR Consolidation Meeting di Makassar, kami meminta tim Sales di sana untuk menyusun sebuah program untuk memberikan kami kesempatan untuk memainkan peran karyawan ujung tombak kami. Sabtu pagi kami terjun ke pasar untuk  berjualan.

Kami dibagi dalam tim kecil terdiri dari empat orang. Dibekali dengan produk, kami pergi ke pasar, bertemu dengan konsumen untuk melakukan “Direct Selling.” Berbagai pengalaman menarik dalam berjualan termasuk di tolak atau dicuekin, tapi dengan semangat tinggi produk demi produk kami jual. Bahkan dapat kami jual tanpa mengeluarkan satu pun hadiah yang sudah disiapkan sebagai back-up, seandainya diperlukan.

Ini hasil yang luar biasa, karena ada tim yang bisa kembali dan laporan ke hotel dalam tempo hanya sejam. Tapi yang lainnya yang datang kemudian, bukan karena lama berinteraksi di pasar, tapi karena mereka lebih memilih action, foto-foto dengan konsumen.

Kombinasi Bermimpi dan Aksi Nyata

Berbagai topik diskusi dalam Consolidation Meeting, akan mempersiapkan tim HR menghadapi berbagai tantangan ke depan. Bermimpi melalui rencana besar itu diperlukan. Namun langkah nyata juga menjadi syarat mutlak. Pengalaman di pasar, akan membuka wawasan HR tentang moment di mana karyawan kita di ujung tombak berinteraksi dengan para pelanggan atau  konsumen.

Dengan demikian bisa membuka mata kita tentang profil pelaku bisnis di ujung tombak itu seperti apa, tapi juga tentang kualifikasi HR yang dibutuhkan itu seperti apa untuk bisa mengimbangi dinamika bisnis menuju ke masa mendatang. Meeting di Makassar sekaligus menjadikan moment untuk mendapatkan komitmen seluruh tim untuk melangkah maju.

“There’s a difference between interest and commitment. When you’re interested in doing something, you do it only when it’s convenient. When you’re committed to something, you accept no excuses – only results.”
(Kenneth H. Blanchard)

Bookmark and Share

12 Responses to Kontribusi HR terhadap Nilai Bisnis

  1. uray ali says:

    Bagus dan Inspirational. Nampaknya lebih enjoy jualan product lagi ya? Pf. !!!

  2. Veronica wilda says:

    Setuju pajk josef,keberhasilan bisnis adalah keberhasilan orang yang menjalankannya,keberhasilan orang adalah peran dan kontribusi HR juga. Marilah kita sebagai HR passionate ikut terlibat dalam berkontribusi melahirkan,mendevelop dan menjaga orang orang kita untuk menjadi ‘roda’ yang optimal untuk bisnisnya

    • josef josef says:

      Terima kasih Wilda, semua unsur dalam perusahaan itu penting dan memberikan kontribusi sesuai peran masing2. Luangkan waktu untuk pengembangan manusia dalam bisnis akan menentukan kesungguhan para pimpinan untuk investasi pada PEOPLE. Terima kasih Wilda untuk kunjungannya ke blog ini.

  3. Syarifuddin says:

    Luar biasa Pak Joseph. Bapak membangun HR Culuture ke semua lini. Sangat luar biasa.

  4. ratih says:

    Ini pertama kalinya saya merasakan berjualan produk di pasar. syukurlah produk Indofood sudah sangat melekat di masyarakat, sampai penjual singkong pun memanggil kami untuk membeli 1 dus Supermi dan seorang suami membantu kami meyakinkan istrinya bahwa produk Indofood adalah produk yg OK setelah saya bercerita bahwa Indofood mengekspor produknya ke manca negara. Jadi ingat artikel Pak Joseph bahwa setiap karyawan dapat menjadi duta bagi perusahaan 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, teman2 lainpun memberikan feed-back serupa, mereka enjoy jualan di pasar di Makasar, sebagai bagian dari usaha memahami sepak terjang teman2 di ujung tombak. Terima kasih untuk sharing pengalamannya

  5. Amalia says:

    Benar Pak Joseph, terkadang ketika ada permasalahan yang berhubungan dengan pegawai atau ketika dihadapkan pada talent Perusahaan, biasanya yang ditunjuk langsung HR dan diserahkan pada HR yang menyelesaikannya. Dimana ketika diinvestigasi lebih jauh ternyata itu adalah salah satu aksi protes yang diberikan pegawai karena Leadernya tidak cukup memberikan perhatian, komunikasi dan kepercayaan.
    Untuk kasus-kasus yang berhubungan dengan pegawai menurut Pak Joseph, peran serta HR sampai sejauh mana dan juga peran serta seorang Leader dalam menyikapi permasalahan anak buahnya, bukankah Every Manager are HRD Manager ya Pak?:D

    • josef josef says:

      Terima kasih Amalia. Komunikasi perlu terus dibangun untuk saling memahami fungsi masing2, untuk tidak lempar tanggung jawab, dan yang terpenting untuk saling menghargai dengan peran masing2. Betul sekali bahwa setiap leader punya tanggung jawab untuk menangani employee di unit masing2.

  6. Damianus Rangga says:

    Saya teringat dalam tulisan Pak Yosep, kalau ndak salah ingat bahwa org HR itu Harus tau bisnis. Apakah itu bagian dari sessie pembelajaran bisnis sehingga orang HR diminta jualan saat itu? Inspirasi buat saya bahwa memang sebagai HR perlu mengerti bisnis, seperti saja ada penolakan dan mudah diterima apa yang kita jual.Cukup senang membaca kegiatan itu walau ndak hadir tapi bisa merasakan atmosfirnya, apalagi gaya penyampaian Pak Yosep yang khas. Terima kasih Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus, betul sekali bahwa Value dari HR ini ada di Bisnis bukan di HR Department. Karena itu orang HR perlu mengerti bisnis untuk bisa membuat semua inisiatif HR relevan dengan bisnis. Terima kasih Damianus untuk terus mengikuti cerita2 di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan