Menyikapi Kesenjangan Talent dari Sumbernya

Posted on June 18th, 2013

“A little knowledge that acts is worth infinitely more than much knowledge that is idle.” (Kahlil Gibran)

MASIH BERLANJUT. Pembahasan tentang persiapan menuju tahun 2020 mempunyai banyak sudut pandang. Dalam posting yang lalu kami sampaikan bahwa survey memperlihatkan bahwa akan ada kesenjangan di level fresh graduate yang memasuki dunia industry sebanyak 17%. Issue ini akan bertambah serius kalau kita menambahkan lagi elemen kualitas lulusan dan kesiapan mereka memasuki dunia industry.

Dalam waktu yang relatif singkat, mampukah perguruan tinggi kita mencetak talent untuk mengisi kesenjangan itu? Kita bisa saja mengajukan berbagai pertanyaan kepada Perguruan Tinggi, tetapi kesenjangan di atas, bukan dialami oleh Perguruan Tinggi, tetapi oleh masyarakat industri.

Jadi barangkali, masuk akal kalau kita juga bertanya, apa yang dilakukan industry untuk mengisi kesenjangan tersebut??

Proaktif Membantu Mahasiswa

Jumat, 14 Juni 2013, hari yang penting, di mana 51 mahasiswa yang mewakili 22 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menerima bantuan dana penelitian dari PT Indofood Riset Nugraha (IRN), dengan tema: “Penganekaragaman Pangan Melalui Pemanfaatan Aneka Tepung Komposit dengan Memaksimalkan Komoditas Lokal.

Sebanyak 19 orang akan mengikuti acara ini di Jakarta, sementara 32 lainnya akan menerimanya di Yogyakarta. Adik-adik ini patut berbangga, karena mereka telah lolos seleksi dari 235 proposal yang masuk. Dan Tim Pakar yang menilai pun tidak tanggung-tanggung: ada Prof Dr. FG Winarno, pakar teknologi pangan bertaraf internasional, Prof Dr. Ir. Purwiyatno Haryadi (IPB), Prof Bustanul Arifin (UNILA), Prof. Budi Prasetyo (UGM), Prof Eko Handayanto (Brawijaya), Dr. dr. Wijaya Lukito (UI), Dr. Fenny Martha Dwifany (ITB), Ir. Winarti (Indofood).

Krisis 1998 Juga Krisis Mahasiswa

Krisis yang melanda Indonesia di tahun 1998, ternyata berdampak pada banyaknya mahasiswa yang tidak bisa menyelesaikan studinya karena kesulitan keuangan, termasuk dalam menyelesaikan tugas akhir. Indofood yang mempunyai program bantuan untuk penelitian, segera menyodorkan bantuan untuk para mahasiswa yang akan melakukan penelitian untuk tugas akhir.

Program ini awalnya bernama Bogasari Nugraha, merupakan kerja sama segitiga Bogasari, Kantor Mentri Negara Urusan Pangan & Holtikultura dan Institut Pertanian Bogor. Dan kegiatannya dirancang dalam bentuk Lomba Karya Penelitian Terbaik di bidang gandum dan tepung terigu, selama 10 tahun 1988 – 1998. Selanjutnya, format sayembara diganti menjadi bantuan dana penelitian bagi para akademisi. Sejak 2006, Bogasari Nugraha berubah menjadi Indofood Riset Nugraha (IRN).

Suara Penerima Bantuan

Adalah Rena Carissa, dari FT UI,  Dept Teknik Kimia, jurusan Teknik Bioprocess, penerima bantuan tahun lalu. Bantuan itu dimanfaatkan untuk melakukan penelitian dengan judul: “Pembuatan Food Grade Packaging dari Serat Batang Pisang yang Dimodifikasi dengan Selulosa Bakteri dan Pati Jagung yang Diplastisasi Demham Gliserol.

Rena hadir hari ini untuk sharing pengalaman, bagaimana dia memanfaatkan bantuan tersebut untuk penelitian.

Bantuan ini memang membuat dia sangat excited dalam melakukan penelitian. Dan bantuan ini juga yang ikut menunjang Rena untuk menyelesaikan studinya dalam tempo relatif singkat, yakni 3.5 tahun. Rena mengaku beruntung, karena masih ada teman-teman lain yang terhambat menyelesaikan studinya karena dana penelitian. Karena itu, dia berharap agar program ini diteruskan di masa mendatang.

Dengan tingkat kecerdasan seperti Rena, masyarakat industry akan berlomba untuk menawarkan kesempatan kerja. Dan memang saat ini dia sudah bergabung dengan sebuah perusahaan multi nasional, yang sangat agresif mempersiapkan lulusan unggul untuk menjadi Pimpinan Perusahaan masa depan.

Cerita ini merupakan contoh estafet yang mengalir mulus, dari Universitas yang mempersiapkan mahasiswa-mahasiswanya, di etape terakhir perusahaan tampil membantu untuk mengesampingkan rintangan dana penelitian, dan begitu selesai Perusahaan pun  membawa para lulusan ke etape berikutnya, mempersiapkan mereka sebagai pimpinan masa depan.

Pribadi Intelektual yang Bermoral

IRN (Indofood Riset Nugraha) bukan satu-satunya program untuk membantu mahasiswa. Dalam posting 25 Januari 2013, berjudul: “Membangun Karakter Sejak Dini” (baca Di Sini) saya memaparkan program lainnya di mana kami membawa 124 mahasiswa-mahasiswi penerima beasiswa Indofood, yang berasal dari 13 Perguruan Tinggi di Indonesia untuk mengikuti program di Training Center Cibodas.

Selama seminggu, mereka  dibekali dengan berbagai materi pembelajaran tentang Leadership, termasuk  tentang pengenalan diri dan pembangunan karakter. Untuk apa semua ini dilakukan?

Saya mengingatkan juga mahasiswa yang hadir di program RNI ini, bahwa sebagian dari generasi ini adalah mereka yang paling vokal berteriak “Potong Satu Generasi” ketika melihat Integritas Pemimpin dewasa ini. Pertanyaannya, di kemudian hari, ketika mereka menduduki posisi pimpinan, akankah mereka mengulang perilaku pimpinan yang ada sekarang, atau mereka akan tampil beda??

Karena itu pada kesempatan ini, tidak lupa saya garis-bawahi:

“Belajarlah untuk menjadi Pemimpin Masa depan, yang dimulai dari memimpin pemikiran dan perilaku diri sendiri secara arif. Kembangkan dirimu menjadi pribadi unggul yang berwawasan luas serta berintegritas tinggi. Latihlah diri untuk menjadi pemimpin masa depan yang berguna bagi banyak orang.”

The difference between school and life ? In school, you’re taught a lesson and then given a test. In life, you’re given a test that teaches you a lesson. (Tom Bodett)

Bookmark and Share

4 Responses to Menyikapi Kesenjangan Talent dari Sumbernya

  1. Terima kasih atas post-nya, Pak Josef. Saya sependapat bahwa kesenjangan talent (khususnya dari segi kualitas meskipun secara kuantitas diperkirakan akan semakin besar) di entry level harus direspon secara proaktif oleh organisasi.

    Yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana perguruan tinggi bisa memenuhi demand talent tersebut, sementara pencarian talent muda dikonsentrasikan di beberapa perguruan tinggi negeri unggulan saja. Di samping perguruan tinggi lain mesti meningkatkan kualitas pendidikannya, saya rasa organisasi juga perlu melihat bahwa talent tidak hanya tersedia di PTN unggulan, tetapi ada dan bisa dikembangkan di perguruan-perguruan tinggi lainnya.

    Dengan demikian, skala dan variasi program rekrutmen pun dapat disesuaikan kembali, tidak hanya menimba dari sumur yang sama terus.

    Bagaimana menurut Bapak?

    • josef josef says:

      Terima kasih Marvin. Pasti ada orgaisasi yang mencoba berbagai perguruan Tinggi, dan pengalaman mereka akan bericara tentang candidat dari perguruan Tinggi tersebut. Contoh dari program IRN, banyak proposal dari Mahasiswa luar Jawa yang belum memenuhi syarat. Kami sepakat untuk tidak mengkatrol nilai, tetapi yang kami lakukan adalah, mereka diberi edukasi tentang Bagaimana mengajukan proposal riset yang benar dan melakukan riset itu sendiri. Mudah2an tahun depan, diantara mereka ada yang bisa lolos.

  2. Hendra says:

    Great articel Pak Josef. Dimana ada kemauan, disana akan ada sebuah hasil ataupun output yang fantastis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Roy, pasti ada waktunya untuk masing-masing kita, sesuai kebutuhan. Salam sukses

roy:
Senang sekali bila malam itu saya bisa ikut bergabung, berbagi cerita, dan bersilaturahmi dengan pak Jos dan...

josef:
Terima kasih Denitri, pa Pungki sudah mulai membangun dialog untuk menemukan jalan agar CHRP bisa mendapat...

josef:
Selalu sehat dan jangan lupa olahraga rutin, serta ajak teman2 lainnya untuk ikut bersama2. Terima kasih Ratih

josef:
Terima kasih Ratih, kontribusi nyata bisa diberikan ditempat kerja, membuat diri kompeten karena terus...


Recent Post

  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat
  • Leading with Love
  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong