Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)

Posted on February 6th, 2026

“If you can’t influence people, then they will not follow you. And if people won’t follow, you are not a leader. That’s the Law of Influence.” (John C. Maxwell)

Banyak orang berpikir: “Saya bukan pemimpin karena saya tidak punya jabatan, atau tidak punya anak buah.” Kalimat seperti itu juga sering diucapkan, bahkan dari orang-orang yang setiap hari memengaruhi orang lain.

Padahal, kepemimpinan tidak pernah dimulai dari jabatan. Ia selalu dimulai dari sebuah keputusan. Dan keputusan paling awal dan paling mendasar adalah ini:

Saya memilih untuk menjadi pemimpin.

Bukan ketika promosi datang, bukan ketika kartu nama berubah. Tetapi hari ini, di ruang hidup tempat kita berada sekarang. Karena jika hari ini ada satu orang saja yang terpengaruh oleh sikap, pilihan, atau cara kita bersikap, maka sesungguhnya kita sudah memimpin.

Demikian pembuka sesi webinar yang diselenggarakan oleh Maxwell Leadership Indonesia. Sesi yang saya bawakan dari sebuah hotel di Bandung kepada lebih dari 500 pesrta dari berbagai daerah, merupakan sesi pertama dari rangkaian 6 sesi tentang Thrive To Lead.

 

Leadership Is Influence

John C. Maxwell mengatakan dengan sangat sederhana:

“Leadership is influence, nothing more, nothing less.”

Pengaruh adalah mata uang kepemimpinan. Jabatan bisa memberi wewenang,
tetapi pengaruhlah yang membuat orang mau mengikuti. Itulah sebabnya pertanyaan terpenting dalam kepemimpinan bukan: “Apakah saya seorang pemimpin?” Melainkan: Pengaruh seperti apa yang sedang saya bangun hari ini?

Apakah pengaruh yang menenangkan atau menegangkan? Menguatkan atau melemahkan? Membangun kepercayaan atau justru menggerusnya?

 

Memimpin Diri Sendiri: Titik Awal yang Sering Terlewat

Ada satu kalimat Maxwell yang selalu saya ingat:

“The hardest person to lead is yourself.”

Sering kali kita ingin memimpin orang lain lebih baik, padahal yang paling sulit justru memimpin diri sendiri. Dalam perjalanan kepemimpinan, saya selalu membayangkannya seperti sebuah gunung. Puncaknya adalah influence, pengaruh yang luas dan bermakna. Namun kaki gunungnya adalah modelling, keteladanan.

Orang mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka jarang lupa apa yang kita lakukan. Nilai tidak pernah benar-benar diajarkan. Nilai ditularkan lewat contoh.

Cara kita mendengar, cara kita bersikap saat tertekan, cara kita memperlakukan orang yang tidak punya kuasa,  semuanya adalah pesan kepemimpinan yang sangat kuat.

 

Sebuah Cerita dari Krisis

Izinkan saya berbagi satu cerita lama, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk memberi konteks.

Tahun 1997–1998, Indonesia berada dalam krisis besar. Krisis Asia tidak hanya mengguncang ekonomi, tetapi juga kepercayaan, stabilitas, dan arah banyak organisasi.

Saat itu, saya berada di Unilever Indonesia sebagai GM Human Resources.
Di tengah tekanan besar, perusahaan membentuk sebuah tim khusus lintas fungsi. Kami menyebutnya The A Team. Anggotanya datang dari berbagai fungsi: Finance, Marketing, Supply Chain, Operations, HR.

Yang menarik, Saya diminta memimpin tim itu, bukan karena fungsi HR, tetapi karena organisasi membutuhkan seseorang yang dipercaya untuk menyatukan dan menggerakkan.

Di situ saya belajar satu hal penting: Dalam situasi krisis, strategi bisa menunggu, TRUST tidak bisa.

 

TRUST Datang Sebelum Strategi Bekerja

The A Team mengerjakan sebuah proyek bisnis yang disebut UBEM, Unilever Business Excellence Model. Kami tidak langsung bicara Solusi, kami tidak mulai dengan presentasi rumit atau rencana besar.

Yang kami bangun pertama adalah kepercayaan:

Tidak ada ego fungsi.
Tidak ada agenda tersembunyi.
Tidak ada permainan politik.

Kami sepakat bahwa:

  • Kami berbeda fungsi, tetapi satu tujuan
  • Kami mungkin tidak selalu sepakat, tetapi saling menghormati
  • Kami berani bicara jujur, termasuk tentang hal-hal yang tidak nyaman

Pelan-pelan, ketika TRUST terbangun:

  • diskusi menjadi lebih terbuka
  • keputusan bisa diambil lebih cepat
  • pengaruh mengalir secara alami

 

Rumus Sederhana tentang Trust

Dalam pengalaman saya, trust bisa dirangkum dalam satu rumus sederhana:

Trust = Result × Relationship

Jika hasil ada, tetapi hubungan rusak → orang patuh, tetapi tidak percaya.
Jika hubungan baik, tetapi tidak ada hasil → orang simpati, tetapi ragu.

Di UBEM Team, kami berusaha menjaga keduanya:

  • Deliver hasil nyata di tengah krisis
  • Membangun relasi lintas fungsi yang sehat dan saling menghargai

Ketika hasil dan hubungan sama-sama tinggi, trust tumbuh kuat, dan dari situlah kepemimpinan bekerja.

 

Kepemimpinan yang Menyebar

Dengan trust yang kuat, banyak hal berubah:

  • Kolaborasi tidak perlu dipaksakan
  • Keputusan diambil tanpa drama
  • Eksekusi bergerak lebih cepat

Unilever Indonesia keluar dari krisis lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan. Bukan karena satu pemimpin hebat. Tetapi karena kepemimpinan yang menyebar. Saya belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak pernah tentang naik sendirian, tetapi tentang membawa orang lain naik bersama.

Keberhasilan ini menjadi rujukan Unilever global, dalam menghadapi krisis di tahun2 berikutnya.

 

Tujuan Akhir Kepemimpinan: Melipatgandakan

Modeling memulai perjalanan. Influence membawa kita ke puncak. Namun misi kepemimpinan baru selesai ketika kita sampai pada tahap multiplying.

Pemimpin sejati:

  • Tidak membuat orang bergantung padanya
  • Tidak ingin selalu menjadi pusat
  • Tidak takut melahirkan pemimpin lain

Karena bentuk tertinggi kepemimpinan bukanlah posisi, melainkan reproduksi.

 

Penutup: Mari Berhenti Sejenak

Saya ingin mengajak pembaca semua berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:

  • Siapa yang terpengaruh oleh saya hari ini?
  • Nilai apa yang sedang saya modelkan — sadar atau tidak?
  • Trust seperti apa yang sedang saya bangun?

Lalu ambil satu keputusan sederhana, tetapi sangat menentukan:

I Am A Leader

Bukan karena jabatan. Bukan karena usia. Bukan karena pengalaman. Tetapi karena hari ini, saya memilih untuk hidup dengan kesadaran bahwa sikap dan keputusan saya berdampak bagi orang lain. Dan dari situlah perjalanan kepemimpinan selalu dimulai.

“The higher you want to climb, the more you need leadership. The greater the impact you want to make, the greater your influence needs to be.” (John C. Maxwell)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Uni, karena dua tahun itu singkat, saranku sudah mulai bersiap-siap dari sekarang kalau niatnya...

josef:
Terima kasih Rina, Dampak bagi orang lain harus diniatkan dan dilakukan secara konsisten. Dan dimulai dari...

Unie:
Setuju Pak Josef, masa purna bakti bukan titik akhir tapi adalah fase baru yg harus kita rencanakan dengan...

Rina Ismariati:
Sebagai bagian dari generasi yang masih sedang membangun perjalanan karier, saya merasa banyak...

josef:
Terima kasih sama2 mba Sofia, semoga bermanfaat. Bagi juga inspirasinya kepada teman2 lainnya yang...


Recent Post

  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna
  • Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)
  • Transformasi Ke Level Berikutnya
  • Legacy Pemimpin Yang Berdampak
  • Perjuangan Wisudawan Ulet
  • Apa yang Bisa Saya Bantu?
  • Menjadi Cahaya Bagi Yang Lain