AVATAR dan Growth Mindset

Posted on December 7th, 2012

BANYAK dari kita masih ingat akan film berjudul Avatar, karya James Cameron. Persiapan pembuatan film ini sebetulnya sudah sudah disiapkan di tahun 1994, dengan planning bisa segera tayang setelah film Titanic yang hadir di 1997. Dengan kata lain, film Avatar, diharapkan bisa di-release pada 1999.

Namun rencana Cameron ini sempat terhenti, karena teknologi saat itu belum menunjang. Toh begitu, dia percaya bahwa suatu saat nanti akan hadir teknologi yang akan menunjang pembuatan film tersebut. Prakiraan Cameron benar, teknologi yang diharapkan pada akhirnya hadir. Film Avatar pun kemudian digarap dan muncul di Premier di London 10 Desember 2009, dan diluncurkan secara internasional pada 16 Desember 2009.

Kehadiran Avatar ini, sekaligus memecahkan berbagai “box office records” dan sekaligus menjadi “the highest-grossing film of all time,” melampaui record Titanic yang telah memegang record tersebut selama 12 tahun. Avatar telah 9 kali masuk nominasi Academy Awards, dan memenangkan 3 (tiga) award: The Best Cinematography, Best Visual Effects dan Best Art Direction.

Avatar mungkin tidak akan memberikan dampak luar biasa, kalau terus dipaksakan hadir di 1999. Dan nalar Cameron mengatakan bahwa, akan tiba saatnya hadir sebuah Teknologi yang menunjang ide gemilang dari cerita Avatar.

Inspirasi Avatar untuk “Growth Mindset”

Salah satu dari elemen Standard of Leadership Behaviour Unilever saat itu adalah Growth Mindset. Dalam buku panduan, kita temukan beberapa butir pemahamannya yang berbunyi:

  • Perilaku kepemimpinan yang kompetitif, selalu memimpin dalam persaingan di pasar, dan bukan sekedar menjadi pengikut (follower).
  • Perilaku positif dalam menyikapi masa depan perusahaan.
  • Passion for winning, passion untuk meraih pangsa pasar.
  • Mengutamakan inovasi dan senantiasa mempertanyakan “statusquo.”

Perilaku Growth Mindset ini, yang dijadikan tema ketika perusahaan mengagendakan rencana untuk menggandakan bisnis dalam 5 tahun berikutnya.

“Menggandakan?, tanya beberapa senior managers. “Sejarah menunjukkan bahwa kita membutuhkan lebih dari 70 tahun untuk meraih bisnis sampai dengan tingkat ini, dan sekarang kita harus menggandakannya hanya dalam lima tahun??”

Memang sepintas ini adalah ide gila. Namun analisa “strength” yang dimiliki perusahaan, termasuk “Growth Mindset” yang melandasi. Semuanya mengarah ke tingkat keyakinan tinggi, bahwa target ini bisa diraih.

Presentasi Growth Mindset

Tantangan muncul, ketika kami harus mempresentasikan ide tersebut di atas, dalam forum pertemuan para Chairmen dari Unilever di negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa Tengah & Timur. Judul presentasi: “Growth Mindset: Indonesia Readiness on. Talent, Organization, Skill & Culture to Deliver Business Ambition

Foto kiri-bawah memperlihatkan Saya sendiri dan Irma yang siap menyampaikan presentasi dengan dandanan ala Avatar. Sementara itu dua foto lainnya memperlihatkan bagaimana peserta begitu surprise dan excited mengambil foto dengan menggunakan BB begitu saya muncul di depan dan hanya dalam sekejap foto tersebut sudah diterima para HR Directors di Unilever di negara-negara tersebut di atas.

Apa yang saya harapkan dari acting seperti ini??

  1. Setelah peristiwa ini, para tamu akan terus percaya bahwa sukses di Unilever Indonesia juga karena pimpinannya konsisten berperi-laku sesuai standard perilaku (Standard of Leadership Behaviour) yang disyaratkan.
  2. Begitu tetamu ini ingat Growth Mindset, mereka akan ingat sebuah contoh implementasi yang gemilang di Unilever Indonesia
  3. Begitu mereka ingat Growth Mindset, mereka ingat akan Tim Human Resources di Indonesia, yang mampu menyajikan secara inspiratif konsep yang sangat sulit dipahami. Ini merupakan bagian dari Kesiapan Unilever Indonesia di bidang Talent, Organisasi, Skill dan Budaya untuk menunjang ambisi bisnis.

Usai tampil di pentas penting ini, di luar ball room, sudah ada penggemar yang meminta foto bersama. Seorang ibu guru yang sedang mengantar anak didiknya untuk sebuah acara di hotel yang sama, meminta untuk berfoto bersama dengan murid-nya (foto atas).

Dan foto bawah memperlihatkan Laksmi Tobing, yang senantiasa cermat menyikapi keinginan saya untuk selalu muncul dengan ide-ide kreatif. Avatar ini hanya salah satu dari ide-ide kreatif yang dia munculkan selama bergabung dalam timku. Terima kasih Lala.

“Everyone has talent. What is rare is the courage to follow the talent to the dark place where it leads.” (Erica Jong)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan