Siap Berlari Menuju 2020

Posted on June 14th, 2013

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown)

PAGI ITU saya sedang asyik menikmati sarapan bersama istri di coffee shop hotel. Tiba-tiba mata saya menangkap sebuah pesan pendek di kaos yang dipakai oleh serombongan tamu hotel, berbunyi: Vision 20/20. Lebih kagum lagi karena di bagian punggung kaos itu tertera nama merek sekaligus perusahaan peralatan rumah tangga. Luar biasa, Visi 2020!! Dan saat ini, rasanya bukan mereka satu-satunya yang sedang memikirkan langkah menuju 2020.

Perusahaan yang Tumbuh dan Menguntungkan

Siapakah yang sedang mempersiapkan tahun 2020?? Apakah yang sedang bermasalah?? Ternyata tidak! Mereka yang tumbuh secara menguntungkan pun perlu memikirkan langkah-langkah jitu dalam persaingan yang semakin ketat. Tapi kapan harus dilakukan persiapan itu?? Tahun 2020 khan masih 7 tahun lagi?

Persiapan 2020 harus dimulai dari sekarang, dari tahun 2013 ini, kalau memang belum dimulai.

Bagi bisnis yang sedang tumbuh dan menguntungkan pun, perlu melakukan refleksi dengan pertanyaan pokok:

“Siapkah mereka menghadapi persaingan menuju 2020?”

Salah satu aspek yang tidak kalah pentingnya untuk dipikirkan, sejalan dengan menyusun strategi perusahaan menuju 2020 adalah di bidang Sumber Daya Manusia.

Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan:

  1. Talent seperti apa yang diperlukan bisnis di masa mendatang?
  2. Apakah cukup tersedia talent yang diperlukan, baik dari segi jumlah atau kualitas, setelah mempertimbangkan yang pension dan yang mungkin keluar?
  3. Apakah ada rencana jelas tentang sumber untuk memperoleh talent, baik secara internal maupun secara external.
  4. Apakah kualitas talent yang membawa Perusahaan sukses sampai sejauh ini, masih relevan untuk membawa perusahaan menuju 2020?
  5. Munculnya berbagai generasi dalam Perusahaan, siapkah kita menghadapinya?
  6. Siapkah berbagai Perguruan Tinggi atau sekolah bisnis menelorkan talent yang siap kerja?
  7. Siapkah perusahaan bersaing di pasar menghadapi persaingan talent yang semakin ketat?
  8. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan untuk membantu mempersiapkan diri menuju 2020.

Paparan Hasil Survey yang Mendebarkan

Beruntung mendapatkan undangan dari BCG untuk sebuah paparan berjudul: “Growing Pain, Lasting Advantge: Tackling Indonesia’s Talent Gap” dari studi yang dilakukan oleh BCG sendiri.

Secara jenaka sesi hari itu diawali dengan analogi di dunia sepak bola:

“In the mid 1990s, after the Indonesia football team was eliminated early in a regional tournament, President Suharto lamented: We have more than 200 million people. There must be 11 of them with decent football skills.”

Dan benar terjadi, penduduk Indonesia bertambah 40 juta dalam dua decade terakhir, tapi tidak ditemukan pemain sepakbola yang handal. Dan ini bukan saja terjadi di dunia sepakbola, tetapi juga berkaitan dengan tersedianya talent secara umum.

Data yang paling mendebarkan adalah bahwa di 2020 akan ada kekurangan Supply Talent  Middle Management di pasar sebanyak 56% dibanding demand. Walaupun di entry (fresh graduate) level, kekurangan itu hanya 17%, namun isu kualitas dan kesiapan lulusan untuk bekerja akan tetap menjadi perhatian utama.

Employer Brand dan Training & Development yang Agresif

Menyikapi situasi seperti tersebut di atas, perlu dilakukan refleksi atas kekuatan Employer Brand Perusahaan. Akankah Perusahaan terus mempunyai daya tarik sebagai pilihan pencari kerja di masyarakat?? Bayangkan dengan keterbatasan supply, Perusahaan  harus punya daya tarik unik untuk menjaring pencari kerja dalam memilih, atau setidaknya menempatkan nama perusahaan  di urutan atas bagi yang mencari kerja.

Secara internal, karyawan yang ada pun akan menilai, apakah Perusahaan mempunyai strategy mempersiapkan Leadership Talent dan juga perencanaan tenaga kerja yang memadai. Belum lagi bicara tentang berbagai program SDM lainnya yang membuat karyawan punya konfiden tinggi bahwa Perusahaan ini merupakan perusahaan idaman, sehingga tidak perlu lagi mencari pekerjaan di luar. Ini akan sangat membantu untuk mengurangi karyawan yang keluar.

Sementara itu strategy juga perlu dibuat untuk memberi peluang melakukan akselerasi development untuk pencari kerja yang belum sepenuhnya memenuhi persyaratan, atau juga untuk karyawan yang sudah ada. Dengan demikian upaya pemenuhan kebutuhan menuju 2020 akan bisa dipenuhi sebagian, tanpa harus menggantungkan sepenuhnya pada ketersediaan talent di pasar.

Produktivitas dan Toleransi Low Performance

Sebagai bagian dari menciptakan situasi perusahaan di mana karyawan percaya bahwa Performance Culture sungguh hidup, Management perlu mempertimbangkan dua sisi Performance:

  • Mereka yang memberikan kontribusi dengan tingkat produktivitas tinggi, perlu mendapatkan penghargaan yang memadai dan terukur.
  • Bagi mereka yang tidak memperlihatkan performance yang bagus, dan kalau setelah  diberikan kesempatan dan program coaching dilaksanakan tidak juga memberikan dampak berarti, maka langkah pun perlu dilakukan untuk mendemonstrasikan bahwa Perusahaan tidak mentoleransi Poor Performance.

Kita sangat familier dengan kata bijak:

“We found, instead, that they first got the right people on the bus, the wrong people off the bus, and the right people in the right seats. And then they figure out whre to drive it.” (Jim Collins)

Health Check

Dalam kaitan persiapan ini, perusahaan kami pun tidak tinggal diam. Persiapan menuju 2020 sudah dimulai. Kami awali dengan melakukan check tingkat kesehatan Organisasi dan Process. Kami memang SEHAT, namun untuk lari bersaing menuju 2020, pertanyaannya adalah apakah kami FIT, dan apakah organisasi dan semua perangkat Utama SDM sudah memadai untuk menunjang FITNESS organisasi tersebut. Dalam menelusuri tingkat kesehatan tersebut, inspirasi dari kata-kata bijak berikut ini selalu menyertaiku.

You see things and you say, ‘Why?’ But I dream things that never were; and I say, “Why not?” (George Bernard Shaw)

Bookmark and Share

6 Responses to Siap Berlari Menuju 2020

  1. Arham says:

    visi dan target 2020 suatu perusahaan harus dipersiapkan para bakat bakat muda, jauh jauh sebelum masa itu tiba

    Saya jd teringat urusan sepakbola, pembibitan talent di latih sejak dini guna menatap tantangan kedepan… 2020

    • josef josef says:

      Terima kasih Arham, betul sekali, kesempatan untuk mempersiapkan Visi itu juga harus diberikan juga kepada yang muda, terutama mereka yang akan meneruskan tongkat estafet. Tentang sepak bola, masih banyak faktor yang justru tidak menunjang proses pembibitannya

  2. Damianus Rangga says:

    Saya jadi teringat usaha sampinganku dirumah yg saya pekerjakan sejlh 16 org utk bidang usaha laundry dan air minum isi ulang. Apakah bisa bertahan dgn sumber daya yang tingkat turn overnya tinggi, terus sdm nya mayoritas ndak/tamat SD.Usaha ini pada bln ini tlh memasuki usia 7 thn.usaha berjalan baik, pada awal delivery air dari depot ke rumah dengan saya angkat sendiri saat sblm berangkat kantor dan setelah pulang kantor, kemudian saya memperkerjakan orang. Dari satu motor skrg menjadi 4 motor dari mobil sewa skrg 4 mobil. Dari satu mesin cuci dengan modal 1 seterika listrik skrg jadi 5 mesin cuci lengkap dengan mesin pengiring serta sudah menggunakan seterika up 《boiler). Kurang lebih 6 tahun lalu aku tidak pernah membuat plan. Cuma andalan keberanian dan prinsip “kalau usaha ini, adalah pemberian dari Tuhan maka semua halangan Tuhan akan berikan jalan keluarnya. Ternyata aku masih eksis. Kira-kira usaha seperti ini yg tdk memiliki plan akankah bangkrut/ tutup ya Pak Josef. Mungkin bapa ada refrensi ttg usaha spt ini yg bisa di sharekan, atau ada pembaca lainnya yg bisa menshare pengalamannya. Terima kasih. Maaf Pak Josep mungkin tulisanku ini tdk nyambung dgn topik besar diatas.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus. Tidak usah minta maaf, karena komentar dan ceritamu justru sangat nyambung, karena ada sisi lainyang belum saya sentuh dalam tulisan saya. Mari kita cermati bisnismu. Susahkah mencari tenaga kerjamu ? Tidak. kalau hari ini ada yang keluar, bisakah dicari ganti dengan cepat ? YA ! kalau melihat perkembangan setelah dua atau tiga tahun, tentu terpikir kira2 kedepannya akan tumbuh seperti apa, tempatnya memadai atau tidak, jumlah orang cukup atau tidak dsb. Paling lama berapa. Jauh ke depan ? Dugaan saya 6 bulan sampai satu tahun. kalaupun itu satu tahun, perlukah anda merekrut karyawan sekarang untuk di train ?? Jawabannya: Tidak. Nah dalam konteks ini, kalau bisnis lain bicara tentang persiapan 5-7 tahun kedepan, mungkin Damianus cukup perlu buat rencana (tetap harus ada rencana) dalam jangka yang lebih pendek. Demikian sedikit tanggapan. Pembaca yang lain, silahkan nimbrung komen

  3. Pingback: Siap Berlari Menuju 2020 | Sosialnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET