Bisa Bercerita Bisa Menulis

Posted on September 3rd, 2021

“Everybody walks past a thousand story ideas every day. The good writers are the ones who see five or six of them. Most people don’t see any.” (Orson Scott)

DI KEPALAKU BANYAK CERITA dan saya mau menuangkan dalam tulisan. Bagaimana memulainya? Bahkan ada teman yang juga sudah ikut kursus menulis buku, dengan target sekian bulan harus jadi sebuah buku siap diterbitkan. Tapi tetap saja masih belum berhasil. Dan masih banyak lagi komen teman2 yang pada akhirnya berhasil untuk memulai program sharing tentang Menulis dan Menerbitkan Buku.

Berawal dari sebuah inspirasi

Sharing yang diinisiasi oleh komunitas FTHR (Future HR) menghadirkan pa Pambudi Soenarsihanto (Episode 1), yang dengan tegas mengatakan bahwa dia tak pernah menulis buku. Dia menulis satu artikel setiap hari yang dibagi di WA group.

Bermula dari sebuah sharing, dimana pa Pambudi menyimak paparan ku tentang moto hidup, Be Yourself but Better Everyday. Disana dia juga terinspirasi dengan konsistensi saya menulis dua artikel setiap minggu dan juga disiplin berolahraga. Diapun membuat tekad: “Saya akan mulai menulis secara konsisten seperti pa Josef, tapi saya akan kalahkan dia. Kalau dia menulis dua artikel setiap minggu, saya akan menulis satu artikel setiap hari.” Dan itu ditepati sampai dengan hari ini.

Kemudian saat saya menerbitkan buku, diapun membuat tekad lainnya, untuk menerbitkan buku dan “Saya akan akan kalahkan pa Josef.” Saat ini saya telah menerbitkan 3 buku, pa Pambudi sudah menghadirkan 5 buku, bahkan yang terakhir adalah sebuah novel.

Saya tidak mengajarkan apa-apa secara langsung kepada pa Pambudi terutama berkaitan dengan menulis, tapi praktek yang saya terapkan dalam hidup ini menjadi inspirasi beliau. Karena itu, tidak berlebihan kalau dia tampilkan juga slide berikut ini di sesi sharingnya, sebagai ucapan terima kasih atas inspirasi yang mendorong dia menulis dan menerbitkan buku, yang menurutnya bisa menjadi Legacy bermanfaat.

Membuka Mata Saya

Saat menjelang pensiun, saya diskusi dengan teman2 tentang aktivitas yang bisa dilakukan. Dan salah satu yang dibahas adalah menulis, dengan beberapa opsi: Menulis untuk majalah, mengelola kolom di majalah, menerbitkan buku atau menulis di blog sendiri. Pilihan akhirnya jatuh pada menulis blog, disaat mana saya belum pernah menulis dan tidak paham tentang ngeblog. Tapi diskusi itu membuka mata saya untuk beberapa hal:

  1. Saya punya banyak cerita pengalaman dan juga pandai bercerita
  2. Saya belum tahu menulis cerita/artikel dan juga belum tahu menulis di blog
  3. Saya bisa menerima bahwa pengalaman hidup perlu ditulis untuk dibagi
  4. Saya harus belajar menulis, terutama menulis artikel untuk blog
  5. Saya mengakui bahwa saya masih perlu dukungan.

Di artikel blog sebelumnya saya sudah menulis tentang bagaimana langkah awalnya, karena itu simak  di link yang saya cantumkan di akhir tulisan ini.

Saya semakin teguh berkeyakinan, bahwa kalau saya bisa melihat hal penting dan menarik dalam perjalanan hidup ini untuk jadi bahan tulisan, maka siapa saja termasuk anda yang membaca tulisan ini pasti bisa. Berikut foto di Episode 2 selama sesi  berbagi:

 

Menulis dari Hati

Dalam tulisan  berjudul: https://www.josefbataona.com/inspirasi/anda-juga-punya-cerita-inspiratif/ saya memberikan beberapa tips sederhana kepada teman, saat menulis:

  1. Menulis dari hati, biarkan ide2 itu mengalir
  2. Layaknya sedang bercerita
  3. Banyak berlatih
  4. Biarkan ide mengalir, hindari judgement, koreksi belakangan
  5. Minta feed-back

Menarik untuk menyimak pertanyaan peserta: Pak Josef, VOCABULARY !! Bagaimana agar bisa seperti pak Josef dan mas Pam…kaya sekali vocab nya …?

Saran saya sederhana: banyak baca dan berlatih menulis. Petikan berikut juga seakan meneguhkan:

“Read a thousand books, and your words will flow like a river.” (Lisa See)

Dan untuk meneguhkan bahwa kuncinya adalah mulai menulis dan koreksi belakangan, pendapat berikut juga layak disimak:

“You can always edit a bad page. You can’t edit a blank page.” (Jodi Picoult)

Tulisan-tulisan lepas di blogku, kemudian kami pilih yang relevan untuk dijadikan buku dengan tema tertentu. Judul buku seperti pada foto 1 diatas. Jadi saya juga tidak pernah menulis buku, tapi menulis artikel di blogku.

Seperti halnya pa Pambudi, sahabat HR dan blogger dari Bandung ini, Herva Yulyanti, juga berkesempatan untuk mendapatkan coaching dari saya, dan setelah itu komitmen menulis meningkat drastic sampai mendapatkan banyak penghargaan. Tapi perlu saya sampaikan bahwa saya tidak memberikannya coaching tentang menulis, tetapi tentang membangun komitmen pribadi, termasuk didalamnya komitmen untuk menulis secara disiplin. Berikut salah satu slide yang juga dijelaskan oleh Herva secara live:

Bagaimana Membangun Network

Menulis merupakan bagian dari komitmen untuk membagi berbagai pengalaman positif untuk pembelajaran banyak orang. Tapi siapakah yang akan menjadi calon pembaca? Bagaimana mereka tahu tentang kehadiran sebuah buku? Bagaimana mereka tertarik untuk mengintip isi buku ini? Semuanya tergantung pada berapa banyak orang yang mengenal anda sebagai penulisnya. Saya sendiri membangun jejaring sebagai berikut:

  1. Saya hadir di masyarakat, terutama komunitas HR melalui berbagai kesempatan sharing, saling berkunjung untuk belajar
  2. Saat saya mulai punya sosmed, saya manfaatkan maksimal untuk networking
  3. Sampai saat ini saya masih berkesempatan untuk sharing di public, kampus, perusahaan
  4. Word of Mouth
  5. Mereka yang membaca bukuku atau pesan di sosmed, kemudian memberikan komen atau menyebarkan lagi melalui sosmed mereka
  6. Publikasi penerbit
  7. Bedah buku, belajar Bersama tentang buku yang saya tulis.

Dan selagi calon2 penulis terus berpikir tentang apakah buku yang mereka tulis itu laris atau tidak, saya mempunyai pendapat sendiri:

“Larisnya buku yang diterbitkan, diukur dari berapa banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari buku tersebut.” (Josef Bataona)

Sambil memotivasi teman2 untuk mulai menulis, petikan di akhir tulisan ini semoga bisa terus mengingatkan.

“Don’t forget, while you’re busy doubting yourself, someone else is admiring your strength.” (Kristen Butler)

Tulisan sebelumnya di blog yang relevan disimak:

  1. Mempertanggung-jawabkan sebuah janji: https://www.josefbataona.com/my-book/mempertanggung-jawabkan-sebuah-janji/
  2. Terima kasih pintuku dibuka: https://www.josefbataona.com/inspirasi/terima-kasih-pintuku-dibuka/
  3. Terima kasih boleh melayanimu: https://www.josefbataona.com/inspirasi/terima-kasih-boleh-melayanimu/

 

Bookmark and Share

2 Responses to Bisa Bercerita Bisa Menulis

  1. Santi Sumiyati says:

    Selamat pagi Pak Josef, terima kasih banyak atas ilmunya yang sangat bermanfaat. Bapak dan tulisan – tulisan Bapak selalu menjadi inspirasi dalam banyak hal baik bagi saya. Terima kasih Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, yang kita tuliskan dimanapun tempatnya, siapa tahu berkontribusi dalam membagi pengalaman positif untuk banyak orang. Dan Santipun bisa melakukannya. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna