3S: Say Stay and Strive

Posted on August 16th, 2019

“It’s about getting the best people, retaining them, nurturing a creative environment & helping to find a way to innovate.” (Marissa Mayer)

Banyak pimpinan yang sadar betul kalau perusahaannya membutuhkan lingkungan yang memungkinkan semua bisa berkarya, saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Banyak juga yang terus berusaha menciptakan suasana kerja terbarukan, disesuaikan dengan hadirnya berbagai generasi, terutama generasi milenial yang mempunyai gaya kerja berbeda. Tidak sedikit survey yang dilakukan untuk memonitor working climate, untuk bisa mencari solusi bilamana ada masukan untuk melakukan perbaikan. Sementara itu, Melissa Daimler, dalam tulisannya di Harvard Business Review, dengan tegas mempertanyakan: Bilamana Budaya Kerja Perusahaannya sudah bagus, mengapa masih saja ada karyawan andalan pergi meninggalkan perusahaan tersebut? (Source: https://hbr.org/2018/05/why-great-employees-leave-great-cultures)

Corporate Culture

Kata budaya atau Culture sering kita sebut atau bahkan sering kita dengar, sangat familiar. Saat mendengar kata Corporate Culture, pikiran orang akan tertuju ke  the shared values, vision, mission, attitudes, standards, dan beliefs yang dianut dan membentuk karakter dari anggota organisasi tersebut. Ini akan terbaca dari pola interaksi para anggota organisasi.

Dalam tulisannya tersebut diatas, Melissa Daimler mengedepankan tiga elemen penting dari sebuah culture: behaviors, systems dan practices, dan dipandu oleh values.

“A great culture is what you get when all three of these are aligned, and line up with the organization’s espoused values.”

Sebaliknya juga, bila terjadi gap, maka akan muncul problem dan saatnya talent meninggalkan perusahaan. Gap umumnya terjadi karena ketiganya tidak sejalan dalam prakteknya, lain kata lain perbuatan. Misalnya, perusahaan tertentu katanya mempunyai nilai pembelajaran (Learning Organization), tapi kenyataannya Perusahaan hanya membolehkan karyawan belajar di luar jam kerja. Untuk bisa dibayarkan perusahaan, persyaratannya sulit banget.

Buku kami #CURHATSTAF, Seni Mendengarkan bagi Para Pemimpin, menyajikan hasil diskusi kami dengan follower twiter, dimana dapat disimak ungkapan isi hati banyak karyawan, karena tidak tersedia sarana untuk bisa menyampaikannya di tempat Kerja.

Keselarasan Perilaku, System dan Praktek

Banyak pernyataan values yang dibingkai cantik dan tergantung di dinding2 seputar perusahaan untuk mengingatkan karyawan. Dengan berjalannya waktu, banyak pimpinan yang lupa kalau perilaku mereka setiap hari terus diamati oleh karyawan, apakah sejalan dengan values tersebut. Bila pimpinan tidak memperlihatkan perilaku positif tersebut, maka values yang tergantung di dinding itu hanya sekedar pajangan tak berarti. Keseharian pimpinan diharapkan akan menjadi role model hidup sesuai values: apakah senantiasa tepat waktu memulai meeting? Apakah mereka respek pada karyawan? Apakah mereka sering berkunjung dan berdialog dengan customer di lapangan?

System apapun yang diterapkan di perusahaan tentunya akan berdampak pada upaya memperkuat atau sebaliknya merusak budaya perusahaan. Teknologi apapun yang diterapkan, system apapun yang mau diberlakukan, proses apapun yang diperkenalkan, struktur apapun yang disusun hendaknya menunjang atau memperkuat kehadiran values dalam keseharian.

Sebut saja system penilaian kinerja, yang dirancang untuk membantu karyawan melihat apakah target yang telah disepakati tercapai atau tidak. System ini mengatur bagaimana target ditentukan dan bagaimana berlangsungnya proses penilaian itu. Disana ada dialog yang hendaknya terbuka penuh trust, berdasarkan pemahaman bahwa ini merupakan suatu moment penting untuk pengembangan anak buah. Karena itu saya sendiri lebih cenderung memberikan nama proses ini Performance Development, daripada Performance Appraisal. Target boleh jadi tercapai atau tidak tercapai. Tapi manapun itu, pembicaraannya adalah seputar usaha pengembangan dan bagaimana seorang leader bisa membantu timnya untuk bisa lebih baik lagi.

Sementara itu, banyak sekali corporate events yang bisa dimanfaatkan untuk tidak saja mensosialisasi tapi juga untuk merayakan implementasi value tertentu. Dalam perjalanan karier saya sebagai HR Director, kami di BOD sering sepakat untuk event perusahaan digunakan untuk memperkuat pemahaman akan values. Sebut saja quarterly meeting dengan Senior Leaders, monthly meeting dengan team sales, Town hall meeting saat BOD member bertatap muka dengan karyawan, dan lain-lain.  Ini merupakan moment penting untuk reinforce karyawan untuk hidup sesuai values, kesempatan untuk memberikan klarifikai atas apa yang masih menjadi tanda tanya di hati karyawan dan lain-lain. Tapi tidak kalah pentingnya adalah untuk mendemonstrasikan kepada karyawan tentang ketulusan BOD dan para leaders untuk mau turun dan mendengarkan mereka.

3S: Say Stay and Strive

Bilamana ketiga elemen tersebut diatas, behaviors, systems dan practices dari para leaders sudah selaras dengan values perusahaan, kita boleh juga cermati ketiga S ini, Say, Stay dan Strive:

Say, tanyakan kepada karyawan tentang perusahaan mereka, akan ada banyak cerita positif menggembirakan yang kita dengar. Simak social media mereka, banyak pengalaman memotivasi yang mereka bagi kepada teman-teman mereka. Dan itu merupakan ungkapan jujur dari hati, tanpa melibatkan Lembaga survey.

Stay, banyak karyawan yang yakin, tinggal diperusahaan ini akan membuat mereka maju dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan perusahaan. Kenapa harus pindah?

Strive, mereka tidak saja tinggal tapi juga berjuang untuk suksesnya perusahaan, karena mereka percaya, sukses perusahaan akan memberi sukses bagi karyawan juga.

Mudah-mudhan dengan cara seperti ini, tak ada lagi yang berkata: “I know it’s a great culture, but I am leaving.” Sebaliknya akan banyak great talent yang berkata, ini adalah tempat kerja dengan budaya yang saya rindukan. Saya akan tinggal dan berjuang untuk maju dan berkembang bersama perusahaan ini.

“If you are lucky enough to be someone’s employer, then you have a moral obligation to make sure people do look forward to coming to work in the morning.” (John Mackey)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih juga karena Santi senantiasa meluangkan waktu untuk menyimak tulisan2 ini, dan membagi manfaatnya...

Santi Sumiyati:
Terima kasih Pak Josef untuk sewindu memberikan kami lentera melalui tulisan tulisan Bapak..sehingga...

josef:
Terima kasih sama2, sayapun berbahagia karena inspirasi yang Helda dapatkan dibagi lagi kepada yang lain....

helda Manuhutu:
An honour buat sy pribadi bisa mempunyai kesempatan melihat dan mengalami journey sewindu...

josef:
Terima kasih mba Meisia, kontribusi mba Meisia dan teman2 yang telah mempersiapkan kelahiran blog ini dan...


Recent Post

  • Sewindu Membagi Cerita
  • Sentuhan Tangan Yang Diberkati
  • Tempat Kerja Idaman
  • Momen Mendengarkan Milenial
  • Memacu Gairah Belajar
  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat