Mengapresiasi Keunikan Generasi Yang Berbeda

Posted on August 4th, 2023

“Building a better future will depend on our ability to appreciate generational differences.” (Mal Fletcher)

BEDA GENERASI merupakan kenyataan yang sudah ada di tengah kita. Mereka hadir di perusahaan karena mereka direcruit sesuai pengetahuan dan kemampuannya yang dibutuhkan perusahaan. Di dalam perusahaan mereka bergabung dengan karyawan lainnya dari generasi yang berbeda, dengan pengalaman di perusahaan yang juga berbeda. Mereka semua dibutuhkan, untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Kami berkesempatan untuk berbagi cerita di forum AHCA Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, tentang buku LEADING ACROSS GENERATION, yang ditulis 13 HR Directors anggota HRDF (Human Resources Directors Forum). Dua pembicara lainnya yang hadir bersama adalah mba Adriani Sukmoro dan mba Ripy Mangkoesoebroto, difasilitasi oleh pa Irvandi Ferizal. Kami berempat termasuk penulis buku ini.

Belajar dari Junior

Kehadiran generasi yang berbeda hendaknya untuk saling melengkapi. Apakah ada contoh Senior leader belajar dari yang junior, terutama berkaitan dengan program HR yang sifatnya strategis?

Pernyataan dan pertanyaan yang sangat pas dari salah seorang peserta. Dari dulu, sekarang dan di masa mendatang, semua karyawan, apapun generasinya akan saling melengkapi. Untuk itu dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menerima semua orang dengan perbedaan itu dan memberdayakannya untuk tujuan bersama yang lebih besar.

Saat merancang HR Strategic Plan, prosesnya hendaknya dua arah. Tim HR diajak untuk sama-sama memikirkan apa kontribusi penting yang bisa diberikan demi mencapai tujuan strategis perusahaan tersebut. Dalam proses ini hendaknya tidak menunggu disuapi, tapi justru proaktif berkolaborasi. Bila kesempatan ini diberikan, maka para senior bisa belajar dari para junior dalam proses penting ini.

Saat saya mau mulai aktif di sosmed, saya mempunyai seorang mentor dari generasi muda, yang mengajar dan membimbing saya di saat awal. Saat saya menjalankan program Area Adoption, mengunjungi pimpinan dan karyawan di daerah, saya selalu mengajak serta timku dan juga tim lintas divisi. Disamping kesempatan kami semua untuk belajar tentang bisnis di lapangan, pengamatan mereka di lapangan sering memberikan saya perspektif yang berbeda untuk saya belajar tentang bisnis dan merancang program HR yang menyentuh karyawan luas.

Ada juga praktek di beberapa perusahaan, dimana mereka melakukan reverse coaching, memberikan kesempatan junior melakukan coaching untuk seniornya.

 

Komunikasi dan Listening

Keterkaitan balancing wellbeing and productivity serta bagaimana para leader mengkomunikasikannya secara bijak, juga menjadi aspek yang ditanyakan peserta. Banyak perusahaan yang sudah meluncurkan berbagai program wellbeing, yang juga menyertakan generasi muda untuk turut memikirkannya. Fokusnya bukan saja pada kepentingan perusahaan tapi juga keleluasaan  mengexplore tema atas dasar interest, hobi dan lain2, disamping tema2 umum yang sudah ditawarkan perusahaan untuk mental dan physical wellbeing. Pendekatan seperti ini memberikan signal  bahwa leaders siap mendengarkan dan mengakomodasi ide-ide brilian dari karyawan. Ini akan meningkatkan motivasi kerja, yang pada gilirannya produktivitas akan meningkat.

Peserta lain menggaris-bawahi pentingnya listening skill para leader, apakah ada training khusus untuk itu? Training di kelas memang perlu, tapi menurut saya ketulusan leader untuk mau meluangkan waktu pentingnya untuk dialog dengan tim justru lebih penting. Dialog dengan tim dengan fokus pada mendengarkan dan menciptakan suasana dimana karyawan merasa leluasa untuk berbicara, bertanya, mengusulkan, menyampaikan pendapat yang berbeda. Berapa sering ini dilakukan? Sesering mungkin.

Saya sendiri bahkan sempatkan mengajak diskusi follower twitter saya selama sejam setiap kamis selama 6 bulan, dengan pertanyaan sederhana: boss yang asyik itu seperti apa? Hasil diskusi saya sajikan dalam buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan bagi Para Pemimpin, buka kedua dari empat buku yang sudah diterbitkan.

 

Beda Generasi Senantiasa Ada

Pemateri juga menggaris-bawahi pentingnya coaching dan mentoring, untuk siapa saja yang membutuhkan, termasuk untuk Gen Y dan Gen Z. Ide ini kemudian dichallenge seorang peserta: seberapa efektifkah coaching/mentoring ini untuk retain Gen Y dan Gen Z? Apakah tidak sebaiknya perusahaan melakukan perubahan/transformasi, bila perlu menyesuaikan kembali visi-misi-value-nya?

Pertama-tama, untuk melakukan transformasi, apa lagi kalau harus mengubah Visi-misi-value, tentu ada tuntutan bisnis di masa mendatang, bukan sekedar  mengakomodasi kepentingan generasi muda.

Bagi yang sudah menjalankan program coaching, mereka akan berusaha  membawanya dalam keseharian, menciptakan coaching conversation dalam dialog dengan tim, tanpa harus jadualkan waktu khusus untuk coaching. Saya sendiri sangat menyarankan untuk program ini dilakukan di perusahaan, tanpa menunggu ada masalah, karena coaching bukan hanya untuk mereka yang bermasalah, seperti pemahaman banyak orang. Mereka yang berprestasi bagus dan ingin terus tumbuh dan berkembang, juga membutuhkan coaching.

Sementara itu peserta lain juga mengedepankan pentingnya melihat perbedaan generasi sebagai peluang atau kesempatan untuk berkembangnya perusahaan, melalui tumbuh berkembangnya talenta beda generasi. Kami para pembicara tentu saja mengamini ini. Dan itu alasan mengapa perusahaan terus mencari talenta baru dari luar.

“I refuse to allow any man-made differences to separate me from any other human beings.” (Maya Angelou)

Catatan: Karena ada kegiatan ke luar kota, tidak ada postingan di Jumat 11 Agustus. Postingan baru akan hadir 18 Agustus 2023

Bookmark and Share

2 Responses to Mengapresiasi Keunikan Generasi Yang Berbeda

  1. sofia says:

    Saluut buat pak Josef dan rekan2 HR Leader bapak..
    belajar dari generasi lain, itu kata kunci yang menarik, kalau para suhu saja willing untuk mendengarkan dan menciptakan suasana keterbukaan, semoga generasi muda juga bisa memanfaatkan banyaknya asam garam para senior di tempat kerja.

    • josef josef says:

      Terima kasih mba Sofia, itulah harapan kita semua untuk saling menghargai dan berusaha memahami satu sama lain, apapun generasinya. Salam

Leave a Reply to sofia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna