Development Dialogue

Posted on December 16th, 2022

“Organisational culture nudging is a concept where we can alter people’s behaviour in a predictable way without forbidding them to choose other options.” (Finn Majlergaard)

GEMBIRA SEKALI saat menuliskan beberapa key words di Ipadku. Butir-butir tersebut saya petik dari paparan beberapa pembicara di acara PEACE HR Society, dengan tema Driving Performance & Talent Transformation with AI & Behavioral Science. Hadir juga Bersama kami, Billy Mambrasar, Staf Khusus Presiden RI. Butir-butir yang saya catat antara lain: engaged and productive, employee experience matter, listen to employees, outward looking/benchmarking, development dialogue, nudging. Nampaknya kata-kata yang dicatat biasa saja, kita semua kenal. Lalu apa istimewanya? Pertama-tama, saya hadirkan senyum di wajah-wajah sahabat yang hadir, membuat suasana tambah ceria.

 

Development Dialogue

Menarik untuk belajar dari milenial. Mba Nela yang bercerita tentang Human Capital di Bank Mandiri. Human Capital 3 – 3 – 1 Strategy menarik perhatian saya. Detailnya bisa di lihat di slide berikut.

Goalnya dibuat sederhana, hanya satu: Engaged and productive employees who drive growth, sustainable business and develop new leaders.

Di selah-selah paparannya, ada yang di high-light yang justru membuat saya lebih tersenyum: Development Dialogue. Yang dimaksud sebetulnya adalah Coaching. Apakah itu sekedar nama lain? Tidak! Mereka sengaja melakukan re-branding terhadap Coaching. Alasannya sederhana. Coaching yang sudah lama mereka kenal dan implementasi, masih punya konotasi menakutkan, hanya untuk yang bermasalah, sekedar butir yang di-tick oleh atasan karena sudah dilaksanakan, terpaksa/dipaksa, dan lain-lain. Mereka ingin mengangkat coaching ke level dimana coaching mempunyai peran penting untuk development karyawan. Formalitas coaching ingin dikikis, sehingga yang dirasakan adalah dialog atasan dan bawahan. Pertanyaan coaching kalau perlu dibawa dalam percakapan keseharian, dalam suasana informal. Menurut saya ini merupakan langkah yang sangat bagus.

 

Listen to Employees dan Outward Looking

Pemateri ini bekerja di HC Bank Mandiri, Bank besar dengan banyak pengalaman, termasuk dalam development talentnya. Karena besar, sukses dan berpengalaman, mereka merasa bahwa semua yang dibutuhkan ada di dalam, tidak perlu belajar dari luar. Namun ada sumber belajar yang sangat penting yang muncul ke permukaan kesadaran adalah: Mendengarkan suara karyawan. Mereka ingin memanfaatkan survey internal secara sungguh-sungguh dalam merancang program untuk karyawan, terutama karena banyak milenial yang sudah hadir diatas pentas.

Mendengarkan tidak saja melalui survey. Para leader didorong untuk luangkan lebih banyak waktu untuk turun dan dialog dengan timnya. Dengarkan suara mereka, cerita mereka, aspirasi mereka, harapan mereka. Bahkan saran atau ide gemilang bisa meluncur begitu saja dari mulut mereka saat ngobrol.

Sebagai Bank besar cukup lama mereka tidak merasa perlu untuk melihat keluar. Sementara itu perubahan di bidang Human Capital berjalan cepat. Merekapun melakukan benchmark, mencoba melirik praktek Human Capital dari perusahaan lain, termasuk dari Unilever Indonesia. Dan mata merekapun terbuka bahwa dunia sekitarnya sudah banyak berubah. Banyak hal yang baik dan bermanfaat bisa dipelajari di luar sana. Ini akan sangat membantu dalam mencapai goal tunggal mereka, yaitu: Engaged and productive employees who drive growth, sustainable business and develop new leaders.

 

PEACE HR Society

Masih banyak lagi yang saya pelajari dibalik butir-butir catatanku di Ipad tersebut diatas. Ini hanya bisa didapatkan karena saya sengaja meluangkan waktu pagi itu untuk hadir dan belajar bersama. Komunitas ini memang masih baru, tapi anggotanya sudah lama berkecimpung di dunia Human Resources.

Berikut Vision, Mission & Purpose PEACE HR Society:

  • Gathering curious minded HR people
  • Creating a Society where people can connect and learn from each other through our Ecosystem
  • To create impact one person at a time

Simak juga tulisan di tautan berikut ini: https://www.josefbataona.com/networking/peace-hr-society/

Network pembelajaran menjangkau manca negara. Seperti hari itu, team menggandeng Linnea Gandhi, Executive Education Lecturer on Decision Making and Applied Behavioral Science, the University of Chicago, Booth School of Business. Topik yang dibawakan adalah: Nudging Culture Transformation, One Behavior at a Time.

 

Langkah Kecil Menyentuh Hati

We can nudge better cultures, one behavior at a time. Demikian Linnea Gandhi memberikan highlight presentasinya.

Konsep NUDGING dikembangkan oleh Thaler and Sunstein untuk digunakan di dunia arsitek. Konsepnya adalah bagaimana mengubah perilaku orang lain tanpa melarang mereka untuk memilih opsi lain.

Contoh cleaning staff di sebuah hotel, yang digaji berdasarkan berapa kamar yang berhasil mereka bersihkan dalam sehari. Mereka tidak peduli dengan permintaan tamu di luar tugas mereka. Banyak keluhan diterima dari tamu sehubungan dengan kebersihan maupun keramah-tamahan cleaning staff tersebut.

Pihak hotel membuat keputusan unik. Mengundang tamu untuk datang ke bar untuk satu minuman gratis, asalkan mereka membawa kartu the room quality survey yang sudah diisi. Banyak tamu yang datang dan memberikan kartu survey. Setelah satu minuman gratis, mereka masih membeli gelas minuman berikutnya. Kehadiran mereka juga menarik tamu lainnya untuk mampir karena melihat ramainya pengunjung ke bar. Hasilnya, penjualan di bar meningkat tajam. Pelayanan cleaning staff meningkat lebih baik sehingga keluahan tamu menurun drastis.

Cleaning staff masih dibayar sesuai jumlah kamar yang dibersihkan. Disamping itu mereka juga diberikan insentif berdasarkan review yang diberikan tamu, Dengan demikian mereka tidak hanya fokus pada cleaning tapi juga peduli dengan tanggung-jawab atas keseluruhan tingkat kepuasan tamu.

Konsep NUDGING bisa diterapkan di perusahaan manapun dan di fungsi mana saja. Intinya adalah ketulusan para leader untuk melakukan dialog dan engage timnya secara tulus.

“Leaders must display their humanness. Those under their authority must be empowered & have the courage to engage in honest dialogue.” (Patrick Lencioni)

Note: Karena libur Natal dan Tahun Baru, taka da posting baru di Jumat 23 dan 30 Desember 2022. Posting baru akan hadir lagi di Jumat pagi, 6 Januari 2023.

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Thank you coach Helda for your insightful comment. Setuju, let us become life long learner to become a better...

Helda Tan:
Love this article Pak Josef. Setuju sekali terhadap penekanan Coaching Mindset yg benar utk menjadi...

josef:
Thank you pa Heru for the opportunity to learn together. Appreciate also your time and effort to visit and...

Heru Hardoyo:
Thanks for your inspiring sharing Pak. Keep on inspiring and enlightening

josef:
Terima kasih pa Danang Arief sudah mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Benar sekali perilaku anggota...


Recent Post

  • Berbagi Tips Menuju Puncak Karier
  • Menuju Coaching Maturity
  • Tumbuhkan Gairah Kerja
  • Pilihan Penuh Tanggung-Jawab
  • Kolaborasi dan TRUST
  • Development Dialogue
  • Invest in Your People
  • Cerita FUN di Awal Desember
  • Memimpin Dengan Hati
  • Ada Niatan Positif Dibalik Setiap Perilaku