Komunikasi dan Seni Mendengarkan

Posted on May 15th, 2018

“The greatest compliment that was ever paid me was when one asked me what I thought, and attended to my answer.” (Henry David Thoreau)

SESUAI PADA TEMPATNYA. Suatu pagi saya menerima pesan di WA sebuah foto saat Albert Einstein bertemu Charlie Chaplin, dengan dialog keduanya:

Einstein: “What I most admire about your art, is your universality. You don’t say a word, yet the world understand you.”

Dijawab oleh Charlie Chaplin dengan: “It’s true, but your fame is even greater: the world admires you, when nobody understands what you say.”

Entah darimana foto ini, karena satu-satunya referensi yang bisa dibaca di foto itu adalah via @house.of.leaders. Namun foto dan teks itu yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini.

Belajar Setiap Hari

Entah itu adalah dialog beneran, atau teks yang dibuat orang untuk dijadikan humor ilmiah, tapi ada yang bisa kita pelajari dari teks tersebut. Kita memang dituntut untuk membuka diri untuk belajar setiap hari, tapi harus bijak mencerna untuk melihat apakah pelajaran yang kita ambil sesuai dengan konteks situasi yang sesuai, pada tempat yang juga sesuai.

Dalam kepemimpinan kita sehari-hari, tak mungkin kita meniru gaya Charlie Chaplin. Tim memerlukan komunikasi yang jelas. Mereka membutuhkan ruang untuk bertanya, untuk klarifikasi bila diperlukan. Walau terkadang, komen atasan:

“Mestinya kamu sudah mengerti apa mauku, kan sudah lama kamu bekerja denganku!”

Atau situasi di mana tim harus terus menebak, karena sepenuhnya tidak (pernah) paham apa mau bosnya. Sampai ada yang berkomentar Apakah kita harus belajar ilmu kebatinan untuk memahami kemauan atasan yang tidak terucap?”

Turun ke bawah, ke tengah-tengah karyawan adalah juga langkah proaktif untuk menghilangkan jarak dan sekat yang tidak perlu. Dalam konteks ini, kami juga berkunjung ke perkebunan dan melakukan dialog dengan karyawan di tengah perkebunan kelapa sawit.

15 Mei 2018_Komunikasi dan Seni Mendengarkan1

Saat dan Tempat Yang Tepat

Lain lagi dengan Albert Einstein. Saya sendiri juga sering melihat formula/rumus relativitasnya. Tapi saya tetap tidak mengerti, seperti halnya komen Charlie: “… the world admires you, when nobody understands what you say.” Tapi siapakah saya ini untuk memahami Einstein? Banyak orang yang belajar bidang tersebut yang paham saat ini. Tapi saat teori itu dibuat di masa lalu, pasti banyak tantangan yang dihadapi.

Sering kita mengharapkan ada inovasi yang bisa memberi jawaban masa depan. Tapi begitu ide innovatif muncul, kita men-challenge dengan menggunakan kacamata saat ini, tanpa memberikan ruang kepada penemu ide untuk terus mengeksplorasi ide-ide kreatif (terkadang gila di zaman ini), termasuk untuk menghadapi kemungkinan melakukan kesalahan dalam bereksperimen.

Argumen Bos Yang Selalu Benar

Semua orang pernah dengar ini:

Rule no 1: Boss is always right.

Rule no 2: If boss is wrong, then go to rule no. 1.

Ini lebih dalam nuansa mengungkap kenyataan dalam bentuk humor, karena saya juga beberapa kali dengar terlontar dari para bos sendiri di depan anak buahnya.

Tapi cerita berikut ini, bukan humor. Seorang kawan yang konsultasi karena ada tektok via email dengan atasan yang berada di tempat lain. Dia mengajukan berbagai argument, sesuai dengan supporting data, yang dia yakini benar. Tapi bolak balik atasan tidak bisa menerima, bahkan mengatakan dia tidak paham. Cerita teman tadi dengan emosi yang semakin ditinggikan, karena tidak bisa menerima kenyataan ini. Setelah mempelajari beberapa email yang mereka lakukan, komen saya:

Saya: “Semua argument kamu benar, lengkap dengan supporting data.”

Teman: Dengan nada yang lebih bisa dikontrol, kawan ini menanggapi:

                “Lalu mengapa boss masih menyalahkan dan tidak bisa menerima?”

Saya: “Coba perhatikan tanggapan dia di email pertamamu, lalu apa jawaban kamu di email kedua”

Teman: “Saya teguh mempertahankan ide saya, karena saya yakin benar.”

Saya: “Lalu apa yang kurang dari jawabanmu itu, sehingga bosmu juga ngotot dengan pendapat dia, yang menurut kamu tidak benar?”

Teman: Setelah menyimak dengan kepala yang lebih dingin, kawan itu menjawab pendek: “Saya terpaku pada argumentasi saya, tanpa sedikitpun menyinggung argumentasi dia.”

Saya: “Kalau kamu harus mengubah emailmu yang kedua, kira-kira apa bunyinya?”

Teman: “Saya akan mulai dengan pernyataan bos, menyajikan data pendukung yang dicari sesuai saran bos, untuk menunjukan bahwa argumentnya tidak sepenuhnya benar. Kemudian berlanjut dengan pernyataan, bahwa karena data yang diminta bos tidak bisa mendukung argumentasinya, maka saya kumpulkan data-data yang lebih menunjang untuk melaksanakan ide yang saya usulkan……….”

Ruang untuk Dialog

Tak hentinya saya mengajak pembaca untuk menyimak beberapa petikan dalam buku “#CURHATSTAF Seni Mendengarkan untuk Para Pemimpin.

15 Mei 2018_Komunikasi dan Seni Mendengarkan2

Di sana dengan leluasa karyawan menyampaikan ungkapan hati atau harapan semoga didengar (persisnya dibaca) oleh atasannya. Saya petik beberapa saja dari buku ini:

Kita sering dibuat bingung, bos ini mau membawa kita kemana? Ayo bos kita dialog

Rindu bos yang bisa memberikan contoh

Cerita temanku: bosnya menghargai anak buah dengan memberikan tugas penuh percaya tanpa meremekan.

Saya hanya dua level di bawah bos, tapi rasanya jaraknya selangit.

Andaikan saja, pimpinan ini membuka diri untuk mendengar karyawannya; andaikan suara karyawan diapresiasi sebagai masukan berarti; andaikan saluran komunikasi terus diperbaiki, maka suara-suara tersebut akan langsung disampaikan kepada pimpinannya sebagai masukan yang tak ternilai.

“Every person I work with knows something better than me. My job is to listen long enough to find it and use it.” (Jack Nichols)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

2 Responses to Komunikasi dan Seni Mendengarkan

  1. kereen om Bataona.

    Regards
    Haris H. Sidauruk

    • josef josef says:

      Terima kasih Haris. Ikuti terus artikel baru yang akan hadir setiap hari Jumat dan Selasa pagijam 08:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 bu Nuniek, semangat belajarmu penuh disiplin, dengan rajin membuat rekap setiap hari di FB...

Nuniek Tirta:
Saya sangat beruntung mengikuti kelas ini dan terlebih lagi beruntung karena sekelas dengan Pak Josef....

josef:
Terima kasih sama2 Faiz, semoga bermanfaat dan sukses selalu. Salam

Faiz:
Terima kasih bapak josef atas sharing ilmunya disruption technology memang perbincangan menarik baik dalam...

josef:
Terima kasih Indri, Tim mereka selalu menginspirasi untuk siapa saja yang berkunjung kesana. Salam


Recent Post

  • Self Empowerment
  • Forum Network dan Saling Belajar
  • Harapan Akan Kesempatan Baru
  • Blessing in Disruption
  • Valuable Leader Multiplicator
  • Pemimpin Berkarakter Positif
  • Dampak Kata-Kata Positif
  • Enneagram: A Journey of Self-Enlightenment
  • Agar Lulus Meredam Ego
  • Menginspirasi dengan Perilaku Positif