Posted on September 25th, 2020
“If you want small changes in your life, work on your attitude. But if you want big and primary changes, work on your paradigm.” (Stephen Covey)
MENYEBAR pemikiran-pemikiran positif yang ada di buku. Saya memaknai jawaban pemesan buku, yang mengatakan: ingin memberikan buku sebagai hadiah kepada pelanggannya, di saat-saat yang dia anggap penting.
Kejadian berawal dari pengumuman yang saya lakukan di pagi hari seiring terbitnya matahari pagi ditanggal 13 Agustus 2020, blog dan sosmed saya serentak mengumumkan hadirnya buku baru: Leader as Meaning Maker. Saat jam menunjukan pukul 10:00 sudah ada yang memesan 20 buku. Kemudian beberapa hari kemudian pemesan yang sama juga memesan buku pertama Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku dan buku kedua #CURHATSTAF Seni Mendengarkan Bagi Para Pemimpin, masing-masing 20 buku. Saat saya menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih sambil mencari tahu alasan pemesanan itu, ternyata dia ingin memberikan buku sebagai hadiah kepada pelanggannya, di saat-saat yang dia anggap penting. Saya memaknai niat tersebut: Dia ingin MENYEBAR pemikiran-pemikiran positif yang ada di buku. Terima kasih!
Panggilan untuk Berubah
Saya ingin mengangkat komen Elfi di FB, sambil posting buku yang dia terima, dengan highlight, Leading With Love. Saya kutip caption selengkapnya:

Bacaan ringan namun bermakna dalam bagi setiap orang dari berbagai kalangan, baik ia pemimpin di tempat kerja, keluarga, komunitas maupun pemimpin bagi diri sendiri..
Menemukan Meaning di Balik Aktivitas, Leading with Love, Panggilan Mengubah Paradigma, Mengubah Diri Sebelum Mengubah Dunia, Humility, Dampak Kata2 Positif, Mengenal & Memotivasi Team, People First, People with Purpose.. ini hanyalah sebagian dari daftar isi buku ini, yang isinya menjeritkan tujuan dari eksistensi seorang pemimpin….. memprioritaskan dan melayani mereka yang dipimpin dan mendorong mereka berkembang dan berkinerja sebaik mungkin.
Proficiat Pak Josef Bataona, dan terima kasih telah meramu seluruh refleksi pengalaman dan pemikiran Bapak menjadi tulisan penuh insight dan wisdom, serta bersedia membagikannya untuk kami yang masih perlu terus dan terus belajar.
Instead of the people working to serve the leader, the leader exists to serve the people..
Postingan tersebut langsung saya tanggapi dengan:
Saya suka highlight yang dibuat Elfi, “Bukannya melayani Pemimpin, tetapi melayani orang yang dipimpin.”
Terima kasih juga untuk menggaris bawahi bagian buku ini, Leading with Love, dari sana sumber energi dan ketulusan seseorang dalam memimpin diri dan memimpin orang lain. Bagi orang seperti ini, memimpin adalah MELAYANI. Terima kasih Elfi Prawitasari
Atas jawaban tersebut Elfi menanggapi:
Jadi teringat yang pernah Bapak sampaikan pada saya dulu, agar melihat lebih jauh dari sekedar apa yang menjadi pekerjaan sehari2 dan menyadari panggilan dalam peran kita bagi orang di sekeliling, terutama team yang kita pimpin. Bukan hanya membantu mereka berkembang, tapi itu juga akan membuat diri kita bertumbuh. Terima kasih Pak
Dan Elfi tidak sendirian, masih ada beberapa lagi yang tertarik untuk mengangkat judul itu untuk di-highlight di postingan sosmed mereka. Tapi apa sesungguhnya isi dari judul tersebut?
Leading with LOVE
Kita mencari banyak referensi untuk belajar tentang leadership, entah dari buku, dari seminar atau tokoh pemimpin terkenal. Dan tentu saja kita banyak belajar dari mereka. Tetapi kita juga tentu menyadari bahwa awalnya kita belajar tentang leadership adalah dalam keluarga. Ayah adalah leader, Ibu adalah leader, kakakpun berperan sebagai leader. Dari mereka kita belajar bukan saja dari kata-kata atau nasehat yang mereka berikan, tetapi terlebih dari perbuatan mereka setiap hari.
Karena itu, bagi mereka yang masih tinggal dengan anak-anaknya, usahakan agar perilaku setiap hari adalah perilaku positif yang kita inginkan anak kita mencontohnya.

Karena itu dalam positingan IG Storynya, setelah menerima buku Leader as Meaning Maker, bu Deby Sadrach menghighlight judul tulisan ini: Sarapan pagi tadi ditemani buku ketiga pa Josef Bataona. Menurut beliau, bagian ini langsung menarik perhatiannya karena Purposenya bu Deby adalah: Lead Life with Love.
Kebahagiaan dan Konektivitas yang dibangun
Seakan mendapatkan sebuah Mutiara kehidupan, buku yang baru diterima tidak ditinggalkan di rumah saat pergi keluar kota. Postingan Rolin di Sosmed, diberi caption:
“Karena begitu bahagianya dapat buku dari pa Josef Bataona, buku ini saya bawa ke luar kota. Terima kasih pa.

Sementara itu sahabat yang sering bersama dalam berbagai program coaching menampilkan buku yang diterimanya, baik di FB maupun IG dengan caption:
Saya memanggilnya Coach Josef. Seorang leader yang menginspirasi. Pernah menjabat Direktur di perusahaan sekelas Unilever, Indofood. Sangat humble, selalu terbuka berbagi ilmu dan pengalamannya. Dan tetap produktif di masa pensiunnya. Sungguh beruntung saya, saat ini berada dalam satu tim melakukan program probono untuk melakukan coaching Teman Tuli dan para Guru di negeri ini. Dan sungguh kehormatan bagi saya saat beliau menyampaikan via wa akan mengirimi saya buku terbarunya.
Terimakasih Coach Josef. Terimakasih, ini adalah hadiah kedua dari Bapak. Saya juga pernah dihadiahi buku beliau yang pertama “Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku”, saat beliau tahu saya mendapat penghargaan dari majalah SWA. Sehat selalu Coach, dan terus menginspirasi kami semua.
Langsung saya tanggapi dengan:
Terima kasih coach Anita Untoro. Kebersamaan kita melalui beberapa program pro bono sudah membawa manfaat besar bagi mereka yang membutuhkan. Terima kasih untuk itu, dan perjalanan kita masih berlanjut
Alasan Pemesan Buku
Mencermati pesanan buku hingga bulan pertama sejak diterbitkan, ada ragam alasan seseorang memesan buku:
Untuk butir yang ke 10, berikut contoh slide dari modul pertama.

Terima kasih kepada team HR PT Sidomuncul yang telah mengambil inisiatif untuk belajar bersama dalam lima modul (setiap minggu ada satu modul) seperti pada foto diatas. Sesi modul pertama tanggal 22 September 2020. Walau itu program internal, saya dibolehkan untuk masuk lima menit secara online untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, sambil menjawabi beberapa pertanyaan mereka. Proficiat untuk team HR untuk merancang program ini secara kreatif.
“Paradigms are like glasses. When you have incomplete paradigms about yourself or life in general, it’s like wearing glasses with the wrong prescription. That lens affects how you see everything else.” (Sean Covey)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Lama sebelum mengenal Pak Josef Bataona, saya menginginkan sosok role model dalam hidup saya untuk menajamkan nilai-nilai Leadership yang benar dalam pekerjaan & posisi saya di Perusahaan.
Dan keinginan saya terjawab.
Awalnya saya mengenal Pak Josef dari sebuah artikel beliau di Portal HR, akhirnya saya ikuti blog Beliau.
Dan tulisan-tulisan Beliau menginspirasi saya bagaimana untuk menjadi Leader yang Melayani.
Sekalipun saat itu saya belum pernah bertemu langsung dengan Beliau, karna saya berdomisili di Medan. Namun tulisan-tulisannya secara tidak langsung telah memuridkan saya.
Ini membuktikan bahwa ada banyak murid Pak Josef yang bertumbuh tanpa harus bertatap muka langsung, karna tulisan-tulisannya dapat dibaca secara terbuka oleh siapapun dan dimanpapun.
Sampai dengan akhirnya saya memutuskan sebagai IRT, tulisan bahkan buku Pak Josef tetap menginspirasi saya, bahwa dimanapun dan apapun posisi atau peran sosial kita, Leadership tetap diperlukan.
Terima kasih pak Josef, selalu menjadi inspirasi bagi saya dan bagi banyak generasi.
Terima kasih Rolin untuk ulasan detailmu. Kita hadir di muka bumi ini tidak sendirian, dan panggilan hidup yang harus diselesaikanpun merupakan kontribusi banyak orang, bukan saja yang nampak didepan kita, tapi juga mereka yang terkoneksi melalui jaringan yang hanya alam semesta yang paham. Salah satu langkah positif yang bisa kita lakukan adalah saling mendoakan agar kita semua tetap sehat dan bisa terus berbagi. Salam
Sekali lagi tulisan Bapak menjadi sumber pengingat dan penguat Pak, lebih jauh lagi dalam situasi sesulit dan setidak favorable apapun yang bisa membuat kita dan team down dan demotivated, dengan tetap stay true kepada panggilan kita untuk serve others, maka akan lebih mudah bagi kita untuk tetap bisa mendorong diri dan team untuk tetap semangat dan positif. Dan saya sangat beruntung bukan hanya membaca dari tulisan Bapak, tapi juga bisa mendapatkan contoh langsung selama bersama2 menjadi tim Bapak. Saya rasa itu yang ikut membentuk dan menjadi sumber kekuatan bagi kami Pak.
Sekali lagi, terima kasih ya Pak .
Terima kasih Elfi, I am who I am because of who we all are. Banyak tangan yang ikut berkontribusi menjadikan kita menjadi seperti sekarang ini. Life calling itu penting, tapi itu bukan tentang diri sendiri. Life calling lebih besar dari diri kita sendiri, tentang orang lain, termasuk team kita. Jadi kalau banyak tangan sudah memoles kita menjadi seperti sekarang ini, kini saatnya kita aktif berkontribusi untuk menyentuh lebih banyak orang lagi, termasuk terus mengobarkan semangat team kita. Salam
Selamat malam Pak Josef. Membaca buku bapak yang berjudul “Leader as Meaning Maker” adalah seperti mengeksplore taman bermain..ingin tahu halaman selanjutnya dan tidak mau berhenti sampai selesai. Sangat penuh sukacita membacanya. Terima kasih Bapak.
Dear Santi, selama kita membuka hati untuk menyimak dan belajar, maka pengalaman membaca dan belajar itu akan penuh dengan sukacita, dan tentu saja lebih mudah kita merekam berbagai pelajaran hidup dari halaman demi halaman. Salam