Posted on August 23rd, 2019
“In today’s rush, we all think too much — seek too much — want too much — and forget about the joy of just being.” (Eckhart Tolle)
DIPACU OLEH WAKTU. Sekitar kita orang berlari cepat untuk meraih sukses. Kita juga dituntut untuk segera meraih target, sekarang juga, sebelum diserobot pesaing kita. Bahkan teknologi diperkenalkan untuk membantu kita mempercepat proses pengolahan data demi menunjang kegiatan para pimpinan di tempat kerja. Dan tidak sedikit kesempatan dimana semua pelaku bisnis dituntut untuk mengambil keputusan cepat tapi cermat dan cerdas. Singkat kata, semuanya cepat cepat dan cepat dalam dunia`yang juga berubah cepat. Tapi mungkinkah kita berhenti sejenak, mengambil jeda, hanya sekedar menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali sambil secara sadar merasakan apa yang sedang terjadi pada diri sendiri, apa yang sedang dipikirkan, apa yang terjadi sekitar kita?
Dua hari berturut-turut saya menghadiri acara yang diselenggarakan Bank Permata dengan tema Wealth Wisdom, Mindfully Wealthy, yang mengulas isu gaya hidup di era percepatan dengan tetap mengutamakan kualitas hidup yang lebih baik.
Wealth Wisdom dan Happiness
Memaknai kekayaan dengan perspektif yang berbeda, terutama kalau kita mengkaitkannya dengan KEBAHAGIAAN. Salah satu sesi yang saya ikuti, dengan pembicara Lisa Samadikun berjudul: Pursuit of Happiness. Sederhananya: Menerima dan mencintai diri apa adanya dengan segala ketidak-sempurnaan. Lisa adalah Wellness Coach dan Happiness Speaker. Sesi berputar pada pertanyaan: What makes me happy? Dan jawaban hendaknya dicari dari dalam diri sendiri, yang jawabannya dapat terpancar keluar dalam bentuk: perilaku mensyukuri, suka memberi dan melayani. Kalaupun kita memiliki harta, atau ilmu pengetahuan segudang, belum tentu itu yang membuat kita bahagia. Harta dan ilmu bisa menjadi sarana untuk membuat orang lain berbahagia, dan itulah yang membuat kita bahagia. Berikut foto bersama coach Lisa Samadikun.
Bila ingin mengetahui lebih jauh tentang 7 Habits of Happy People, what they do to keep them happy, silahkan menghubungi beliau langsung.
Apakah ini Hidup Yang saya kehendaki?
Bagaimana saya bisa menemukan kebahagiaan dalam diriku seperti yang dimaksud? Apakah hidup yang sedang saya jalani merupakan kehidupan yang saya kehendaki?
Hsemin Sunim dalam bukunya “The things you can see only when you slow down,” memberikan tips sederhana, misalnya saat meninggalkan tempat Kerja dan pertanyaan melintas dipikiranmu:
“Do I have to live my whole life like this?”
Maka coba lakukan hal berikut ini:
Selanjutnya, Hsemin Sunim menambahkan:
Bila anda ingin tidur nyenyak penuh kedamaian, begitu meletakkan kepalamu di bantal, pikirkan orang-orang yang layak anda berterima kasih, atau moment dimana anda menolong orang lain dan merasakan kebahagiaan mendalam. Ini akan memberi kehangatan dalam hatimu, dan membuatmu tertidur lebih nyenyak dan damai.
JEDA dan Melangkah Agar Menjadi lebih Baik
Di sesi lainnya, Adjie Santosoputro, yang membahas tentang Mindfulness Living. Tetapi, dalam dunia modern penuh kesibukan, apakah mungkin kita bicara tentang Sadar dan Tenang? Terkadang kita harus JEDA, berhenti (atau mengaso) sejenak untuk refleksi, merenung, menyadari apa yang kita lihat atau kita rasakan. Sambil menarik napas masuk dan keluar, kita akan sadar sepenuhnya tentang sekarang dan disini (now and here): duduk diam, sadar napas, sadar pikiran, sadar sekitar, belajar nyaman dengan sepi dan diam. Pesan Sebastian Vettel:
Sometimes you need to press pause to let everything sink in.
Sejalan dengan ini Charles Fred dalam bukunya: The 24-Hour Rule, yang juga dibahas dalam tulisan 15 Agustus 2019 yang berjudul: Pause to Lead Better (https://www.skipprichard.com/pause-to-lead-better/) menambahkan: “Pause is a discipline, not a delay.” -Charles Fred
Berikut foto Bersama coach Budi Hartono dari Permata bank.

Sebagai pimpinan kita dapat mengontrol satu hal: bagaimana memberikan respond atau bereaksi pada orang lain. Dengan disiplin melakukan JEDA, kita punya waktu untuk mendapatkan mental clarity sehingga kita bisa mengontrol bagaimana berkomunikasi dengan yang lain. Bila sebaliknya kita tidak bisa mengontrol power kita sebagai leader, ujung-ujungnya bisa menimbulkan stress di seantero organisasi. Karena menurut beliau:
“Leaders single handedly determine the stress levels of a business.” – Charles Fred
Jeda bisa macam-macam, seperti menrik napas Panjang, meditasi atau sekedar jalan di taman. Apapun yang ingin kita lakukan, lakukan dengan kesadaran dan disiplin penuh komitmen.
Jeda, sadar penuh hadir utuh (mindfulness) dan dalam keheningan berusaha mencari di dalam diri sendiri, kehidupan seperti apakah yang ingin aku jalankan? Kebahagiaan hidup seperti apa yang ingin kudapatkan? Semoga apapun jawabannya, hendaknya mengarah kepada membangun mindset positif untuk melayani dan berbagi dengan orang lain.
“A powerful person is often surrounded by only yes-men, helping their boss feel important and exceptional. If the people around you always agree with you, they are probably opportunist, not loyalist.” (Hsemin Sunim)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak boleh melupakan berbagi, berterima kasih dan bersyukur.
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif terpuji. Salam
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas.
Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi.
Dan selama aku masih bisa berbagi, akupun bahagia.
Ketika bisa berbagi bahagia versiku
Ketika bisa berbagi bahagia versiku di jadikan salah satu topik di acara Bank Permata Wealth Wisdom 2019
Ketika selagi berbagi bahagia versiku di acara Bank Permata Wealth Wisdom 2019 , salah satu yang hadir ikut menyimak ocehanku sepanjang masa aku 2 jam ngoceh adalah mentorku, Coach Josef Bataona ( langsung deg2an lihat beliau duduk paling depan ) dan makin deg2an dan semangat ketika ruangan makin penuh di isi oleh muka lama yang lama tak jumpa ( Tiki Farre ) serta muka baru yang akhirnya menjadi teman seperjuangan baru ( Elli Arsita )
Bahagia masih bisa bernapas.
Karena dengan bernapas masih bisa berbagi.
Dan berbagi yang penting akan selalu bikin deg2an.
Deg2an bahagia .
Dan selama masih deg2an di tonton sama mentornya, dan juga ada perasaan nervous ketika mulai berbicara untuk audiens yang cukup besar serta beragam latar belakangnya, artinya hal yang akan kita sampaikan itu tulus di niatkan untuk tujuan baik , karena memang memiliki arti tersendiri yang baik untuk kehidupanku ( atau untuk kamu ).
Jadi bahagia itu kalau masih bisa bernapas dan deg2an.
Gitu aja ya ?
Terimakasih untuk semua yang percaya dan mendukung konsep bahagia yang membuat aku “wealth” dalam “wisdom” ini.
Terimakasih juga untuk semua yang tidak percaya dan selalu meremehkan apa yang kita kerjakan.
Terimakasih untuk Coach Josef sudah kasih liputan ngoceh aku dan Mas Adjie hari ini.
Terimakasih Permata Wealth Wisdom 2019
#akubahagia
Kamu ?
Lisa Samadikun
@teruntuk.bahagia
@lisasamadikun
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya bila kita senantiasa hadir utuh sambil mensyukuri setiap momen kehidupan ini. Salam bahagia, keep in touch.
Bahagia yang melengkapi.
Terimakasih Bapak,
Namaste, Lisa