Mengelola Manusia bukan Mesin

Posted on March 8th, 2013

“Happiness doesn’t depend on any external condition; it is governed by our mental attitude” (Dale Carnegie)

AKU RINDU pada suasana pabrik, dengan berbagai disiplin yang ketat, barisan mesin-mesin yang terus bekerja dengan sana-sini ditungguin orang-orang yang dengan sigap memberikan respon menanggapi berbagai kemungkinan. Rinduku ini menuntun kakiku ke salah satu pabrik kami di bilangan Cikupa. Dan seperti biasa, ada paparan oleh petinggi pabrik dan stafnya, sebelum kami sempatkan diri untuk tur keliling pabrik untuk menyaksikan operasinya dan bertemu karyawan di sana.

Pernyataan yang Menyegarkan

“Tugas saya sebagai Factory Manager, adalah mengelola manusia, bukan mesin.”

Sungguh luar biasa pernyataan ini! Pernyataan dari Pak Hendy Mulyana, Factory Manager ini tentu merupakan konfirmasi, bahwa di tempat ini karyawan mendapatkan tempat di hati pimpinannya. Apakah statemen itu muncul karena saya orang HR? Ternyata tidak. Dari paparan timnya yang disajikan hari itu, saya hanya bisa punya satu kesimpulan:

“Keberhasilan di pabrik ini, karena mereka berhasil Memanusiakan Manusianya’, bukan hanya di tingkat atas, tetapi juga di tingkat bawah.

Tugas Line Manager atau HR Manager?

Dalam berbagai paparan yang disampaikan kepada kami dalam kunjungan ini, mata dan telinga saya terus merekam berbagai peran yang dilakukan oleh Pimpinan Pabrik dan jajarannya, dalam kaitan dengan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Kalau saja mereka tidak memperkenalkan diri kepada saya di awal perjumpaan, saya tidak bisa membedakan, mana yang HR Manager, dan mana yang manajer pabrik tersebut.

Semuanya fokus pada membentuk synergy dengan merangkum semua sumber daya yang tersedia. Mereka bicara tentang, training dan development. Soal penilaian prestasi dan bagaimana membantu yang masih perlu mendapat bimbingan. Bahkan melalui usaha mandiri, mereka membangun perpustakaan dan mengkoleksi buku untuk dibaca dan di-share kepada teman-teman lainnya.

Ini untuk melengkapi inisiatif, di mana siapa saja yang mengikuti training, harus sharing isi training-nya kepada yang lain. Dan budaya saling berbagi ilmu dan pengetahuan sungguh tumbuh di sini tanpa label keren “Learning & Sharing.” Dan masih banyak lagi agenda human resources yang menjadi agenda para line managers di pabrik ini.

Mencapai Kebahagiaan dengan Cara Bahagia

Menarik untuk saya ketengahkan di sini, bagaimana mereka menumbuhkan kepercayaan bahwa mereka bisa mencapai kebahagiaan; tidak semata melalui uang. Mereka punya panduan: “Mencapai Kebahagian dengan Cara Bahagia.”

Maksudnya?

Mereka mengajari timnya untuk menyenangi pekerjaannya. Anggaplah pekerjaan ini sebagai panggilan. Atau jadikan itu sebuah hobi. Dengan cara seperti itu, pekerjaan terasa enteng, saling membantu menjadi kebutuhan mereka, tidak ada beban dalam melaksanakan tugasnya. Mereka telah mencapai kebahagiaan dengan cara bahagia.

Di sini saya menyaksikan praktek di mana semua tim terlibat dalam menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, suatu konsep yang saya baru mulai perkenalkan di kantor pusat, melalui program FISH. Mereka juga terus memupuk rasa bangga bekerja di perusahaan ini. Dan puncak kebanggaan mereka adalah, karena tenaga-tenaga yang kompeten di pabrik ini juga disalurkan ke pabrik lainnya dalam keluarga yang sama.

Menciptakan Lingkungan yang Kondusif

Sering kali dalam berbagai seminar, kita mendapatkan komentar dari peserta:

  • Konsep yang kami dapatkan sangat bagus, tetapi bagaimana kami bisa menerapkannya.
  • Lingkungannya tidak menunjang. Atasan saya yang harus ditrain dulu.

Tentu yang mereka maksudkan adalah para pimpinan mereka seharusnya mengerti bagaimana menyediakan prasarana yang memadai, dan memberikan perhatian pada pengembangan anggota timnya. Mereka seharusnya menjadi contoh.

Pakar Leadership, John Maxwell juga menggaris-bawahi, bahwa Developing People means I value them:

  1. I Commit Time to them
  2. I Mentor them
  3. I Equip them
  4. I Empower them

Cerita di pabrik tersebut di atas, seakan mendemonstrasikan apa yang disampaikan John Maxwell tersebut. Dan dalam kisahnya Factory Manager tersebut, berbagai permasalahan setiap hari di pabrik, bukan diputuskan olehnya, tetapi oleh berbagai tim yang dibentuk sesuai dengan proses yang akan ditangani. Mereka diberikan kewenangan untuk itu.

Namun demikian, dalam penugasan, dia menyediakan waktunya untuk mereka berkonsultasi, mentoring. Dan karena mereka punya praktek daily briefing, rasanya tidak ada masalah besar yang luput dari perhatian tim untuk diangkat di agenda harian tersebut. Dan tanpa terasa kunjungan yang berawal dari jam 14:00, berakhir dengan foto bersama di halaman yang sudah mulai gelap.

Making a living is no longer enough. Work also has to make a life (Peter Drucker)

Bookmark and Share

17 Responses to Mengelola Manusia bukan Mesin

  1. Agnes Murniati says:

    Thanks Pak Josef for writing this article. Encourage me to reflect …..

  2. Etty Purwanto says:

    Pak Josef, menurut saya in contoh nyata tentang engagement. Bagus sekali, Pak.

  3. Etty Purwanto says:

    Pak Josef, inilah contoh engagement yang nyata. Excellent !!!

  4. Victoria Delima S says:

    “Developing People means I value them:

    I Commit Time to them
    I Mentor them
    I Equip them
    I Empower them”

    Adalah bagian dari tulisan Bapak yang sangat mengena buat saya. Saya sudah mempraktekkannya pada teman-teman yang menjadi team saya. Konsep developing people (memanusiakan manusia)ini akan membuat karyawan bekerja dengan perspektif yang berbeda. Tapi membutuhkan keteguhan hati untuk terus mempertahankannya.

  5. Hante says:

    Terima kasih atas sharingnya Pak,
    People adalah bagian terpenting di dalam perusahaan, People yg berkualitas dapat menjalankan system serta proses secara baik dan benar.

    • josef josef says:

      Terima kasih Hante, kita sering bilang begitu, bahwa manusia adalah bagian terpenting dalam perusahaan, namun sering tidak diwujudkan dalam perlakuan sehari2.. Terima kasih kasih telah mengunjungi blog dan menyumak kisah ini.

  6. Hanny says:

    Bapak ini tidak henti-hentinya menginspirasi. Saya suka dengan kesimpulan Bapak, terutama pada sepasang kalimat, ‘Memanusiakan Manusianya’. Semoga ini menjadi inspirasi bagi orang banyak, terutama para pemimpin 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Hanny. Issue memanusiakan manusia tetap hangat sepanjang waktu. Kita akan terus saling mengingatkan agar dalam praktek sehari2 kita akan sejalan dengan pemahaman itu. Sekali lagi terima kasih juga untuk kontribusi Hanny dalam kegiatan HR dalam memoles praktek yang mengedepankan aspek memanusiakan manusia.

  7. Arif S. Ahmady says:

    Tulisannya Bagus pak, dan saya prlu membacanya lagi beberapa kali, untuk lebih bisa memaknai isinya.

  8. amho says:

    Alangkah senang nya pekerja diperlakukan begitu pak.. semua pasti akan meningkat, dari semangat kerja, produktivitas dan berakhir dengan output yang memuaskan…

    Tapi kalo cuma wacana, obrolan tanpa bukti, sedangkan pekerja tau akan hal itu, apa yang akan timbul dipemikiran pekerja pak…

    • josef josef says:

      Terima kasih Amho telah mengunjungi blog ini dan menanggapi cerita ini. Betul sekali bahwa dampak perlakuan positif seperti itu akan membuahkan hasil positif dan sebaliknya. Saya sendiri turut sedih kalau situasi yang kedua terjadi. Ini bukan saja berkaitan dengan obrolan tanpa bukti, tetapi juga berkaitan dengan integritas sang pemimpin… Karena pada akhirnya, pekerja yang merasakannya. Sekali lagi terima kasih Amho untuk ulasannya.

  9. budhi wirawan says:

    terima kasih atas sharing nya pak Josef…. sangat menginspirasi.

    berbicara mengenai konsep dan praktek mengelola manusia , memang tidak bisa dilepaskan dari prinsip dasar tentang leadership.
    ijinkan saya untuk ikut sharing pak……
    dalam bukunya 5 levels of Leadership John C. Maxwell berpendapat bahwa leadership dapat diwujudkan melalui 5 tahap :
    1. Position : people follow you because of they have to
    2. Permission : people follow you because they want to
    3. Poduction : people follow because of what you have done in the organization
    4. People Development : people follow because of what you have done for them
    5. Pinnacle : people follow because of WHO YOU ARE and WHAT YOU REPRESENT

    Level yg paling efektif sbg leader tentu saja level 5. Namun demikian, bukan hal yg mudah untuk mencapai level tsb. Diperlukan rintisan upaya yang sungguh2 dan berkesinambungan sebagai seorang leader…

    • josef josef says:

      Terima kasih Budhi Wirawan atas sharingnya. Setuju sekali bahwa tidak muda mencapai level 5. namun yang paling penting adalah sang leader senantiasa berusaha untuk menuju level ini. Terima kasih juga untuk mengunjungi blog dan menyimak cerita disini. Nantikan cerita selanjutnya yang akan hadir seriap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET