Mengukir Positive Legacy

Posted on February 26th, 2021

“The need to leave a legacy is our spiritual need to have a sense of meaning, purpose, personal congruence, and contribution.” (Stephen Covey)

PERJALANAN kita menempuh lika liku yang terkadang menyenangkan atau bisa juga penuh rintangan. Sesekali kita seakan seorang diri, namun sering juga kita beriringan dengan orang lain. Terkadang kita menjadi anggota team dibawah pimpinan seorang leader, di kesempatan lain saya menjadi pemimpin untuk sekelompok orang. Semuanya sili berganti. Namun satu hal yang perlu kita sadari adalah, pengalaman apapun yang kita temui, akan menjadi modal yang membantu untuk menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

Mempersiapkan Legacy

Sebuah inisiatif yang patut diacungkan jempol: sesi Book Insight, program belajar bersama tentang isi buku Leader as Meaning Maker. Ada bagian penting dari buku tersebut diatas, dan mendapatkan porsi perhatian cukup besar dari peserta. Saya salut dengan kejelian pemapar Book Insight ini, karena mereka sengaja menempatkan Legacy di slide awal untuk setting the tone pembahasan, sekaligus memprovokasi keingin-tahuan dan keinginan untuk belajar dari peserta. Dan saya rasa mereka berhasil. Bahkan saat saya masuk di ujung pembahasan, beberapa tanya jawab masih seputar topik itu. Sayapun mendapat pertanyaan tentang kapan saya mempersiapkan Legacy sehingga bisa dikenang team secara positif?

Kapanpun, dimanapun, bersama siapapun, kita perlu menjawabi pertanyaan, apa kontribusi saya untuk lingkungan atau team ini agar bisa menjadi lebih baik? Pertanyaan ini akan trigger pemikiran untuk melayani. Berusaha menemukan makna dari perjalanan, makna dibalik kontribusi ini. Selanjutnya adalah berusaha untuk juga membantu team menemukan makna dibalik apa yang mereka kerjakan.

Menghadapi Tekanan atau Tantangan

Saat menghadapi tantangan, entah karena beban kerja atau berkaitan dengan perilaku orang sekitar kita termasuk pimpinan yang lebih tinggi, reaksi orang bisa berupa 4 F:

  • Fight: mencoba bertanya, argumentasi, kemukakan saran2 positif
  • Flight: melarikan diri, atau dalam kasus ini, mungkin berpikir untuk pindah perusahaan
  • Freeze: Diam dan menerima saja, karena merasa tak berdaya
  • Fawn: Menanggapi sekedar menyenangkan (terutama atasan), walau suara hati mengatakan yang berbeda, tipe ABS.

Tentu saja diharapkan agar kita terus menggunakan pendekatan positif dalam menghadapi situasi sulit. Bukan kebetulan bahwa alam semesta menghadirkan berbagai tantangan dihadapan kita demi pembelajaran. Bilamana karena sudah putus asa lalu kita minta untuk keluar, itu artinya kita belum lulus menghadapi ujian. Dengan demikian, di tempat baru, dimanapun kita berada, kita akan menghadapi situasi serupa, harus menempuh ujian lagi sampai lulus. Karena itu, saran saya, hadapi dan belajar. Bila anda adalah seorang leader, pembelajaran itu bisa membuatmu menjadi leader yang lebih andal, dan akan bertindak lebih bijak dibandingkan dengan perlakuan yang anda hadapi.

Tuntas Belajar

Belajar tak ada akhirnya. Saya sendiri senang bisa hadir di ujung sesi Book Insight, program belajar bersama tentang isi buku Leader as Meaning Maker, yang diselenggarakan oleh dan untuk karyawan Indofood. Saya diundang masuk di 30 menit terakhir untuk merangkum, sekaligus menjawabi beberapa pertanyaan peserta. Ini kejutan, karena tidak disadari peserta, bahkan oleh teamku di CHR, seperti IG Storynya Catur Amalia berikut. Atas izinnya – terima kasih Lia -, saya gunakan foto ini sebagai ilustrasi.

Saya pribadi tidak melihatnya sebagai kesempatan tanya jawab, tapi kesempatan belajar bersama, karena sayapun belajar dari berbagai pertanyaan yang mereka ajukan.

Kita Yang Proaktif Mengukir

Pemahaman perlu dibangun bahwa kita hendaknya secara positif menciptakan lebih awal, citra diri (personal branding) positif. Selanjutnya semua yang kita kerjakan hendaknya sejalan dengan brand positif tersebut. Contoh sederhana yang saya berikan, saya berusaha agar setiap hari, saya adalah orang pertama yang akan menyapa anggota teamku, dan mengucapkan Selamat Pagi sambil tersenyum. Bila ini dilakukan secara tulus, maka akan menyentuh mereka dan tak akan dilupakan. Atau, saya ingin memperlakukan staf pantry saya sebagai manusia, seperti staf lainnya dalam teamku: mengucapkan terima kasih dengan menyebut namanya saat dia mengantar kopi, menyapa dan menanyakan keadaan dia dan keluarganya sambil menatap tulus ke arah wajahnya. Ini membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia, dan momen seperti itu akan terus diingat.

Banyak kesempatan untuk kita berkontribusi positif setiap hari, termasuk upaya berkelanjutan untuk menumbuh-kembangkan anggota team, Bila ini dilakukan, semoga, dimanapun kita berada kita akan mengukir berbagai kesan positif, sehingga begitu kita melangkah pergi, banyak hal positif yang dikenang oleh team, karena hal-hal positif yang telah dibuat untuk membuat hidup anggota team menjadi lebih baik. Mereka bisa tumbuh dan berkembang, bahkan setelah kita tidak ada lagi.

“Someone is sitting in the shade today because someone planted a tree a long time ago.” (Warren Buffett)

Bookmark and Share

8 Responses to Mengukir Positive Legacy

  1. Rio Evert says:

    Very Inspiring pak JB. Simple and concrete.

  2. - says:

    Coach, saya dari papua barat, saya sangat berminat untuk memiliki bukunya “leader as meaning maker”.

    terimakasih sudah memberikan deep understanding mengenai makna coaching pada lecture coachig movement (03/04/2021). Apa yang disampaikan sangat bermanfaat dalam menentukan solusi yang fokus.

    YRA, Manokwari

    • josef josef says:

      Terima kasih Abu Azzam sudah menyimak cerita di blog ini. Saya sudah email link untuk pesanan buku online – Salam

  3. Anasis says:

    Personal branding, konsep yang menarik utk membangun citra diri, tq Ajo!

    • josef josef says:

      Terima kasih pa Mul, sudah berkunjung dan menyimak tulisan ini. Betul sekali, Personal Branding ini selain untuk membangun citra diri, tapi juga menjadi panduan untuk menjaga perilaku dan tutur kata kita agar sesuai citra diri yang positif tersebut. Salam

  4. Anasis says:

    Tutur kata dan perilaku yg beretika ini kadang yg sulit jk/krn kita banyak berhadapan dg berbagai orang dan berbagai karakter, terkadang kita terbawa dg situasional yg mempengaruhi kita. Sehingga kita bisa keluar dari jati diri kita.
    Pertanyaannya a
    Bagaimana kita bisa tetap pd pakem mengikuti skenario yg sdh menetapkan peran kita dlm suatu cerita seperti dlm sandiwara/film?

    • josef josef says:

      Setuju sekali pa Mul, sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Latihan untuk secara sadar memilih kata atau tindakan sesuai citra diri. Yang bisa dilakukan, misalnya, pikiran kita senantiasa diisi dengan hal2 positif dari bacaan, pembicaraan, doa dll. Kalau pikiran ini isinya lebih banyak positif, maka reaksi berupa ucapan spontan, akan keluar kata2 positif, karena kita mempunyai lebih banyak kosa kata positif. Dan sebaliknya juga terjadi. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Sofia, kita mulai dengan membenahi diri disi sendiri, meningkatkan kemampuan memimpin diri...

sofia assegaff:
Thank you sharingnya ya pak Josef..

josef:
Setuju sekali pa Mul, sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Latihan untuk secara sadar memilih kata atau...

Anasis:
Tutur kata dan perilaku yg beretika ini kadang yg sulit jk/krn kita banyak berhadapan dg berbagai orang dan...

josef:
Terima kasih pa Mul, sudah berkunjung dan menyimak tulisan ini. Betul sekali, Personal Branding ini selain...


Recent Post

  • Pentagon of Peak Performance
  • Great Team Player
  • Jurnal Bersyukur
  • Pandemi: Empathy dan Coaching
  • FUN di Tempat Kerja
  • Dosen Yang Tanggap Perubahan
  • Maling Keren
  • Terima Kasih Pintuku Dibuka
  • VALUES Landasan Sukses
  • BERMAKNA Bagi Orang Lain