COACHING: Panggilan Melintasi Batas

Posted on May 30th, 2025

“Where there is no hope in the future, there is no power in the present.” (John Maxwell)

SALING BELAJAR lintas negara. ICF Coaching week yang dihost oleh ICF Jakarta Charter Chapter, mengambil tema Beyond Barriers: Coaching that Connects.

Melalui tema ini kita diajak untuk semakin menyadari kekuatan coaching sebagai jembatan yang meruntuhkan tembok pemisah, membangun koneksi, dan menumbuhkan kepercayaan di dunia yang semakin kompleks dan bergerak cepat. Saat organisasi dan individu menghadapi tantangan lintas batas, baik budaya, generasi, maupun teknologi, kita berusaha mengeksplorasi peran penting coaching sebagai katalis bagi empati, inklusi, dan dialog yang bermakna.

Coaching: Human Dignity dan Empowerment

Beruntung saya bisa berdampingan dengan Coach Lasya Miranti dan Coach Dedi Afrianto, saat berbagi pengalaman di forum ICF Coaching Week 2025, disimak juga ICF beberapa negara di Kawasan Asia. Coach Dedi yang tanpa penglihatan telah memiliki sertifikasi sebagai professional coach. Dia hadir seakan menjadi “Guiding Light” bagi komunitas yang difable yang sering tidak terlihat atau sering ditinggalkan. Dia hadir untuk membantu mereka únlock their full potential melalui coaching.

Coach Dedi merasa sangat beruntung bahwa salah satu Kompetensi penting dalam ICF adalah Active Listening. Tanpa penglihatan, ini menjadi senjata ampuhnya, karena dia  melihat dengan pendengaran dan dengan hati, sambil merasakan getaran suara dibalik kata-kata klien. Menurutnya, kata-kata yang keluar dari kepala, bisa direkayasa, bisa diatur secara lebih logis. Tapi kata-kata yang keluar dari hati bersama getaran dibalik kata-kata itu spontan, asli tanpa rekayasa.

Coach Dedi juga mengajak kita semua, terutama para Coaches, untuk peduli, melalui aktivitas coaching, pada para difable yang berjumlah 23 juta di Indonesia (8.5%) atau satu miliar di seluruh dunia (15%).

 

Membangun Ruang Aman dalam Situasi Yang Rentan

Klien yang saya hadapi adalah seorang penderita cancer yang sudah hilang harapan hidup. Kalau dibolehkan, dia ingin meninggal keesokan harinya saat kita bicara dengan dia. Saya dihadapkan pada tantangan, menyadari bahwa situasi ini boleh jadi lebih pas untuk dirujuk pada profesi yang lebih relevan. Tapi kalau saya mau menerima tantangan untuk bertemu klien ini, apakah saya bisa menjaga coaching position saya, dan tidak terjebak dalam dialog tentang sakit dan masa lalunya.

Saat saya menelponnya (dia berada 300 km dari posisi saya), dia langsung menyambar:

”Saya sudah tahu, bapak mau bicara dengan saya. Untuk apa? Kalau saya boleh memilih, saya ingin meninggal besok saja.”

Jadi confirm cerita yang saya dapat. Tidak kehilangan akal, dengan tenang saya menanggapi:

Kebetulan, yang memutuskan besok ibu boleh meninggal itu bukan saya, tapi yang Diatas. Namun demikian, bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan:

  1. Bila keinginanmu dikabulkan untuk meninggal besok, ibu masih punya beberapa jam kedepan. Apa yang akan ibu lakukan untuk meninggalkan kesan bermakna bagi keluarga intimu, suami dan anak2?
  2. Bila keinginanmu dikabulkan seminggu dari sekarang, apa yang akan ibu lakukan untuk memberi dampak positif bagi keluarga besarmu?
  3. Bila keinginanmu dipenuhi sebulan lagi, apa yang akan ibu lakukan untuk meninggalkan warisan berharga yang patut dikenang oleh masyarakat sekitarmu?
  4. Tidak usah dijawab sekarang, saya tunggu telponnya sampai besok sore. Bila saya tidak ditilpon, artinya ibu tidak ingin pembicaraan ini berlanjut, dan saya tidak akan menggaggu ibu lagi. Tilpon saya matikan

Catatan penting saya sebagai coach:

Walaupun ini boleh jadi merupakan rana dari profesi lain, saya tidak men-judge. Saya ingin mendengarkan secara langsung.

Pendekatan saya adalah mengeksplorasi dan membangun Harapan hidupnya, tanpa menyentuh keinginannya untuk meninggal dan juga detail sakit cancernya.

 

Bertransformasi Melalui Coaching

Situasi kritis yang dihadapi klien menuntut saya untuk berusaha dari awal untuk satu hal penting: membuat dia tahu kalau saya sendiri percaya bahwa dia bisa punya kehidupan yang bermakna. Ada nyala api HARAPAN, yang semula redup, perlu diberi minyak untuk memperbesar harapannya bahwa di ujung sana ada Cahaya menunggu (the light at the end of the tunnel).

Hanya 3 bulan setelah sesi coaching pertama, dia sudah mengungkapkan bahwa kini dia merasa Bahagia. Mengapa? Karena bisa membantu orang lain dan membuat mereka Bahagia. Diapun mulai bertransformasi dari situasi tanpa harapan hidup (hopeless) dan menemukan Purpose dan Joy dalam hidupnya.

 

Belajar dari Pengalaman Coaching

Kami sendiri menggunakan kesempatan untuk belajar dari pengalaman ini. Saya sajikan beberapa butir saja:

  1. Sebagai coach, kita perlu siap untuk menghadapi situasi tak terduga, termasuk menyangkut yang sensitif.
  2. Yang saya lakukan sederhana: saya sengaja mengajak klien untuk berjalan bersama kedepan sambil memperlihatkan apa yang sejauh ini tidak terlihat matanya.
  3. Kisah tersebut menjadi testamen akan dampak luar biasa dari coaching bila pendekatannya penuh empati dan fokus pada harapan hidup.
  4. Sebagai coach kita mempunyai priviledge untuk memfasilitasi transformasi dan empower klien untuk menemukan hidup yang BERMAKNA.

Berikut foto bersama mereka yang berada dibelakang layar.

Pengalaman yang diceritakan Coach Dedi juga membuka mata kita akan panggilan sebagai coach untuk terjun ke area yang belum disentuh banyak orang, termasuk komunitas difable.

“Hope is like the sun, which, as we journey toward it, casts the shadow of our burden behind us.” (Samuel Smiles)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Berdampak dan Menciptakan Perubahan
  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna