Posted on September 25th, 2026
“Kita bertumbuh karena belajar, dan kita melipat-gandakan DAMPAK dengan membantu orang lain bertumbuh“ (Josef Bataona)
IHCBS2026 yang menghadirkan 6.000an peserta, merupakan event yang ditunggu-tunggu. Selain temanya yang menarik: Harnessing Human-Centric AI & Digitalization to Unlock Next Level Productivity, juga hadir pembicara2 kondang, termasuk Prof Dave Ulrich. Membuka rangkaian acara, Menteri Ketenagakerjaan terus menekankan pentingnya Prinsip People-Centric, ditengah maraknya diskusi dan implementasi AI.

Saya Bertumbuh Agar Bisa Membantu Yang Lain Bertumbuh
Kalau saya melihat kembali perjalanan karier saya, ada satu hal yang menarik. Dulu, saya berkesempatan dikembangkan. Saya belajar dari berbagai penugasan, dari atasan, dari rekan kerja, dari keberhasilan, juga dari kesalahan. Setiap titik penugasan menjadi kesempatan untuk belajar dan bertumbuh.
Kemudian, perjalanan membawa saya ke tahap berikutnya. Saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan orang lain. Dan semakin lama saya menjalani peran sebagai leader, semakin saya memahami bahwa mungkin inilah salah satu tugas terpenting seorang pemimpin: bukan sekadar menghasilkan sesuatu melalui dirinya sendiri, tetapi mengembangkan lebih banyak leader untuk bersama menghasilkan sesuatu.
Mencari Bottleneck
Saya teringat pada suatu masa ketika Board menetapkan target lima tahun yang sangat ambisius. Situasinya tidak sedang mudah. Kondisi ekonomi dan pasar justru membuat target tersebut terasa semakin menantang.
Kami bisa saja mengatakan, “Kita harus bekerja lebih keras.” Atau kembali melihat strategi, sistem dan proses. Tetapi kami memilih bertanya: “Where is the real bottleneck?”
Berdasarkan penelusuran yang lebih dalam, ternyata jawabannya ada DI TENGAH. Middle Managers. Mereka berada di antara strategi dan eksekusi. Di antara senior leaders dan employees. Merekalah yang setiap hari menerjemahkan strategi menjadi tindakan. Mereka yang membawa keputusan pimpinan kepada orang-orang di lapangan, sekaligus membawa realitas lapangan kembali kepada pimpinan. Kalau lapisan tengah ini belum siap menghadapi tantangan, bagaimana mungkin organisasi dapat mencapai ambisi besarnya? Dari situlah kami melihat bahwa persoalannya bukan semata-mata business issue.
Ada leadership capability yang perlu dikembangkan. Kami kemudian menggunakan coaching dengan pendekatan yang berbeda, bersamaan dengan Senior Leadership Development Program. Bukan hanya untuk membuat mereka menjadi better managers, tetapi untuk membantu mereka menjadi better leaders. Target lima tahun itu akhirnya tercapai. Memang coaching dan leadership development bukan satu-satunya penyebab keberhasilan tersebut. Bisnis tidak pernah sesederhana itu. Namun pengalaman tersebut meninggalkan satu pelajaran penting: Developing people is not an HR activity sitting beside the business. It is part of how the business delivers its strategy. Di talk show ini kami terus menggaungkan pentingnya investasi untuk pengembangan Leadership.

Prof Dave Ulrich: Creating Impact
Dalam berbagai pemaparannya, Prof Dave Ulrich selalu menekankan Peran HR dalam memberikan Impact pada Customers, Communities, Investors, Senior Executives, BOD dan Employees. AI is a mean, not an end, tegas Dave Ulrich. Kehadiran AI tidak bisa diabaikan, namun perlu disikapi sebagai alat/enabler, bukan tujuan.
Karena itu kedepannya AI hendaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan Capacity dan Efficiency. Sementara Human Ingenuity akan menghadirkan VIEW sebagai factor differentiator: V (Vision of the Future); I (Innovation in the present); E (Emotion/Empathy in relationships); W (Wisdom in judgement).

High-potential Talent Milik Korporasi
Ada pelajaran lain yang saya bawa dari perjalanan karierku. Succession is too important to be treated as an HR list. Succession bukan sekadar mempunyai daftar nama untuk mengisi posisi tertentu. Succession sesungguhnya adalah langkah penting setiap leader di perusahaan untuk melipat-gandakan lebih banyak leader lagi, yang siap untuk bisa menempati posisi penting dalam tingkat promosi.
Karena itu, pertanyaan penting yang selalu diajukan: Siapa orang-orang di timku yang hendak saya kembangkan? Pengalaman apa yang masih perlu mereka dapatkan? Exposure apa yang mereka perlukan? Assignment seperti apa yang akan membuat mereka bertumbuh? Dan yang paling penting: Apakah mereka benar-benar berkembang?
Dan catatan penting lainnya: semua pimpinan berkomitmen bahwa seorang high-potential talent bukanlah milik satu fungsi atau satu atasan. Karena itu, kalau seseorang membutuhkan pengalaman di fungsi lain, bisnis lain, bahkan negara lain untuk menjadi pemimpin yang lebih matang, maka pengalaman itu perlu diberikan. Mungkin bagi seorang manager, talent yang pindah dari timnya terasa seperti kehilangan. Tetapi bagi organisasi, itulah cara membangun pemimpin masa depan. Lalu datanglah AI.
Hari ini kita berada dalam situasi yang berbeda. AI membuat informasi semakin mudah diperoleh. Analisis semakin cepat. Banyak pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu panjang, kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi.
AI semakin mampu memberikan jawaban. Dan di sinilah saya melihat peran leader justru menjadi semakin penting. Mengapa? Karena ada hal-hal yang tidak otomatis kita dapatkan dari teknologi.
Leadership Maturity does not download.
Judgment tidak otomatis download. Accountability tidak download. Trust tidak download. Kemampuan memahami manusia tidak download. Dan kemampuan mengembangkan manusia lain juga tidak download.
Teknologi bisa membantu kita menjadi lebih cepat. Tetapi manusia tetap harus belajar menjadi lebih matang. Itulah sebabnya saya melihat: The smarter the technology, the deeper the leadership we need.
Bagi saya, developing people tidak berhenti ketika orang yang kita kembangkan menjadi lebih baik. Justru ada tahap yang lebih tinggi , ketika orang yang kita kembangkan kemudian mampu mengembangkan orang lain.
Dari: ME → YOU → OTHERS → FUTURE LEADERS
Di situlah leadership mulai berlipat ganda. Mungkin inilah salah satu perubahan penting dalam peran seorang leader di era AI. Kita tidak harus menjadi orang yang selalu mempunyai semua jawaban.
AI mungkin jauh lebih cepat menemukan jawaban. Tetapi kita perlu menjadi leader yang mampu membantu orang lain berpikir lebih baik, mengambil keputusan dengan lebih matang, berani bertanggung jawab, dan terus belajar.
Seorang leader tidak harus menjadi orang paling pintar di ruangan. Tugasnya adalah membuat orang-orang di dalam ruangan menjadi lebih pintar, lebih mampu dan lebih percaya diri untuk mengambil tanggung jawab.
Setelah Dikembangkan Menjadi Pengembang
Ketika saya memulai karier, saya adalah orang yang sedang dikembangkan. Dalam perjalanan, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan orang lain. Mengembangkan pemimpin tidak bisa dilakukan hanya ketika organisasi sedang membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi kosong.
Pemimpin masa depan harus dikembangkan sebelum kebutuhan itu datang. Dan sekarang, AI membawa kita pada pelajaran berikutnya. Kalau teknologi semakin mampu memberikan jawaban, maka kita perlu semakin serius mengembangkan judgment, character, accountability, trust, dan kemampuan memimpin manusia.
Mungkin inilah makna Develop yang semakin diperkaya dewasa ini. Bukan hanya: How do I become better? Tetapi: How do I make others better? Dan akhirnya: How do I help those people make others better?
Karena leadership tidak hanya berhenti pada diri kita. Ia terus berjalan. Terus bertumbuh. Dan mudah-mudahan, terus memberikan manfaat bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.
“The greatest contribution of a leader is not what he accomplishes, but what he enables others to accomplish.” (Josef Bataona)
josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....
Rani Wijaya:
Pak Josef, saya salah satu peserta di purna bakti ini dan senang sekali sudah mengulik AHA saya :...
josef:
Terima kasih Rina. Bisa juga refleksinya dibuat bertahap. Sepuluh tahun dari sekarang Rina mau jadi apa? Untuk...
Rina Ismariati:
Pertanyaan tentang, “Kalau hidup ini diibaratkan sebuah buku, apa judul bab berikutnya?” jujur bikin...
josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...