Bagaimana Bekerja dengan Perfeksionis?

Posted on August 23rd, 2013

“One of the biggest problem that perfectionist face in their lives is finding that they have to work with others” (M. Farouk Radwan)

Dalam menanggapi posting 2 Agustus 2013 yang berjudul: “Memberi MAKNA pada Setiap Karya,”  Dwinanto Wibowo mengusulkan:

“Pada moment yang baik ini, boleh tidak pak dibagi ke kami juga perihal menyikapi dan menyiasati sifat manusia yang perfeksionis. Bagaimana pandangan bapak dalam hal ini??”

Karakteristik Perfeksionis

Bagi seorang perfeksionis, setiap pekerjaan yang dilakukan harus memberikan  hasil yang sempurna, melalui proses yang juga sempurna. Tidak ada kompromi untuk hasil yang kurang dari itu. Karena itu mereka akan melakukannya berulang kali untuk mendapatkan hasil yang sempurna, atau justru menghindari pekerjaan yang tidak dapat mereka lakukan dengan hasil sempurna.

Kalau pekerjaan itu terus menerus tidak bisa membawa hasil sempurna, seorang perfeksionis akan merasa gagal, dan dalam kondisi seperti itu akan mengurangi rasa percaya dirinya. Yang perlu dipertanyakan: Apakah definisi sempurna menurut mereka, sama dengan pemahaman orang lain?

(Masing-masing Punya Peran Penting)

Anggota Team, Anda Sendiri atau Boss yang Perfeksionis??

Petikan di awal artikel ini, sebetulnya ingin menggambarkan, bahwa dari pihak yang kita anggap perfeksionis juga mengalami kesulitan, kesulitan besar, karena tidak banyak orang di sekitar dia atau yang bekerja bersama dia mempunyai karakteristik yang sama. Karena itu saya ingin mengambil beberapa butir pemikiran dari M. Farouk Radwan, yang ditulis di blognya: 2KnowMyself, di mana dia mengajak kita melihat Perfeksionis dari 3 (tiga) sudut pandang, apakah yang perfeksionis itu anggota team, anda sendiri atau atasanmu.

Anggota Team yang Perfeksionis: Bila Anda bekerja dengan anggota team yang perfeksionis, Anda harus siap dengan berbagai data/fakta pendukung untuk bisa menjawabi berbagai pertanyaan atau tantangan dari dia. Perlu juga untuk menyamakan pemahaman tentang “sempurna” itu sendiri. Karena terkadang ada hasil tertentu yang bisa diterima, tanpa harus mencapai level yang lebih tinggi lagi, walaupun standar di kepala si perfeksionis masih belum cukup.

Di tempat kuliah, cerita putriku Eka, usai kerja kelompok, ada tugas yang harus diperbaiki, tapi penyerahan tugas masih minggu depan. Salah satu temannya yang perfeksionis memaksa teman-teman lainnya untuk bekerja menyelesaikan tugas tersebut malam itu juga. Dia bahkan tidak mau mengerti, kalau ada temannya yang kesulitan pulang malam karena akses transportasi yang sulit. Teman-teman lainnya pun mendukung untuk mengerjakan keesokan harinya. Timbul ketegangan, hanya karena bagi Sang Perfeksionis, menunda apa yang bisa dikerjakan hari ini adalah hal yang tidak dapat diterima.

Bila Anda Sendiri yang Perfeksionis: Seringkali, Sang Perfeksionis membuat standar yang tinggi dan sulit dicapai sendiri, sehingga berpotensi menurunkan rasa percaya dirinya, bila berkali-kali tidak mencapai target. Sebagai orang yang perfeksionis, Anda harus juga memahami bahwa sesekali membuat kesalahan atau mencapai hasil yang kurang sempurna adalah manusiawi. Bahkan mendapat nilai yang tidak maksimal  dalam ujian bisa saja berarti orang lain jauh lebih baik dari Anda yang sudah menset target cukup tinggi. Kalau ini tidak dapat diterima, maka setiap kali membuat kesalahan Anda merasa harga dirimu menurun, sampai akhirnya kehilangan rasa percaya diri.

Bila Bos Anda yang Perfeksionis: Kemungkinan Anda akan dipaksa melakukan banyak tugas yang sebetulnya tidak berkontribusi pada sukses perusahaan, tapi lebih untuk menyenangkan atasanmu. Sesekali perlu juga meminta bosmu untuk cukup melihat hasil akhirnya, dan mempercayai detailnya padamu. Karena terkadang, dia ingin mengetahui detainya untuk meyakinkan dirinya akan kesempurnaan hasil dan proses.

Saya sendiri punya seorang anak buah yang sangat reliable, tapi sering dijuluki ‘last minute lady, karena kreativitasnya baru muncul mepet waktu, tapi saya tidak pernah kecewa dengan hasil kerjanya. Bila dia bekerja dengan boss yang perfeksionis, dia akan ditanyai berkala tentang progressnya. Sementara itu, saya hanya meminta agar saya punya cukup waktu untuk review pekerjaannya, dan ada waktu untuk dia koreksi bila diperlukan. Selanjutnya saya bisa tidur nyenyak.

Perfeksionis versus Distrust

Memang diperlukan pengalaman untuk membangun kepercayaan antara orang yang perfeksionis dan orang lain. Sekali dia merasakan hasil tidak seperti diharapkan, maka muncul rasa kurang percaya, dan dalam hubungan kerja selanjutnya dia akan sangat demanding, sesuai karakteristik asli seorang perfeksionis. Dalam banyak hal, konflik sering terjadi karena standar yang dituntut oleh seorang perfeksionis sangat tinggi, yang untuk dia sendiri pun terkadang sulit dicapai.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama, apakah “Kesempurnaan” yang dituntut oleh seorang perfeksionis, adalah kesempurnaan yang harus (mutlak) dicapai?? Bersamaan dengan persiapan tulisan ini, ada teman yang mengirim renungan tentang “Kesempurnaan Hidup,” terinspirasi dari Kahlil Gibran. Saya kutipkan di bawah ini:

Suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan Gurunya.

Gibran: “Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?”

Sang Guru merenung sejenak lalu menjawab: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang!!”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?”

Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak kupetik karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi!”

Sambil tersenyum sang Guru berkata: “Yaa… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada!!”

“Lakukanlah hal-hal seperti ini:

Bila tidak mungkin memberi, Jangan mengambil!

Bila mengasihi terlalu sulit, Jangan membenci!

Bila tidak bisa menghibur orang, Jangan membuatnya sedih!

Bila tidak mungkin meringankan beban orang, Jangan memberatkannya!

Bila tidak bisa memuji, Jangan menghujat!

Bila tidak bisa menghargai, Jangan menghina!

Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah apa yang telah ada pada kita…

“The man with insight enough to admit his limitations comes nearest to perfection” (Johann Wolfgang von Goethe)

Bookmark and Share

8 Responses to Bagaimana Bekerja dengan Perfeksionis?

  1. Damianus Rangga says:

    Tkhs Pak Josef, insfirasi pagi ini, terutama bagaimana menghadapi pribadi perfeksionis, dan bagaimana mengejar kesempurnaan. Karena
    memang sbg pribadi pasti ndak ada yg sempurna didalam kehidupan didunia. Tetapi harus diusahakan seoptimal mungkin dari yg kita kerjakan,krn tdk boleh juga berlindung pada prinsip ketidaksempurnaan tadi. Well. Selamat berakhir minggu Pak, Tuhan memberkati.

  2. wilvan says:

    Very inspiring… utk perenungan kita dlm segala hal.

  3. dwinanto wibowo says:

    Terima kasih Pak Josef, pertanyaan saya bisa Bpk jadikan tema tulisan yg inspiratif dalam blog Bpk. dan benar hal ini yg saya harapkan sharingnya dari Bpk. sekali lagi terima kasih Pak.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan