Harkat Karyawan Sebagai Manusia

Posted on April 14th, 2023

“Clients do not come first. Employees come first. If you take care of your employees, they will take care of the clients.” (Richard Branson)

INDUSTRIAL RELATIONS, yang mulai saya geluti saat berkarya di pabrik sejak 1983, memberikan saya pelajaran yang teramat penting tentang bagaimana memperlakukan karyawan sebagai manusia. Gaung promosi yang datang dari Menteri Tenaga Kerja saat itu, bapa Sudomo, sangat lantang didengar siapa saja: “Memanusiakan Manusia.” Dan ini terus dicanangkan dalam berbagai forum. Dan kami juga terus menggemakan ini secara internal saat berinteraksi dengan Serikat Pekerja. Dan paling utama adalah saat berinteraksi dengan line managers dalam mendiskusikan berbagai program untuk karyawan. Intinya, karyawan kita adalah manusia (bukan mesin) yang hendaknya diperlakukan sesuai dengan harkatnya sebagai manusia.

 

Manusia Seutuhnya

Dalam Annual Conference dengan seluruh BOD Unilever Indonesia di tahun 2004, kami merasa perlu untuk mengangkat tema tersebut diatas, Memanusiakan Manusia, dengan merujuk pada pemikiran Stephen R. Covey yang bukunya baru terbit saat itu dengan judul The 8th Habit, from Effectiveness to Greatness. Sekedar me-refresh ingatan kita, 7 Habits yang sudah dikenal sebelumnya adalah: Be proactive, Begin with the end in mind, Put first things first, Think win/win, Seek first to understand then to be understood, Synergize, Sharpen the saw.

Habit ke 8 yang diperkenalkan: Find your Voice and Inspire others to find theirs. Konsep ini lebih menegaskan lagi  bahwa memahami manusia hendaknya secara utuh. Ada 4 sisi  manusia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain: Physical, Mind, Heart dan Spirit. Empat aspek ini juga menjelaskan 4 Human Intelligence/capacities: PQ (Physical), IQ (Mind), EQ (Heart) dan SQ (Spirit). Menurut Stephen Covey:

The 8th Habit gives you a mind-set and skill-set to constantly look for the potential in people. It’s the kind of leadership that communicates to people their worth and potential so clearly they come to see it in themselves.

Ini merupakan langkah penting dimana karyawan diperlakukan sebagai manusia dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut. Disana juga terdapat berbagai kemampuan terpendam, yang perlu digali dan dikembangkan. Tentu saja demi kemajuan organisasi maupun demi pengembangan diri karyawan.

Para leader dibangunkan untuk mulai menemukan panggilan profesionalnya seperti apa, dan dengan demikian dia juga bisa membantu timnya untuk menemukan panggilan professional mereka masing-masing.

Pada tahap lebih lanjut lagi, perusahaan  memperkenalkan langkah transformasi dalam merumuskan PURPOSE sebagai Kompas dalam menjalankan bisnis, dan dilandasi keyakinan bahwa:

  • Company with Purpose last
  • Brand with purpose Grow
  • People with Purpose Thrive.

 

Masing-masing leader memformulasikan PURPOSE mereka, dan kemudian membantu timnya untuk memformulasikan PURPOSE masing-masing. Semua ini tidak lain adalah untuk membangun komitmen dari puncak organisasi untuk memperlakukan karyawan sesuai harkatnya sebagai manusia seutuhnya dalam setiap inisiatif untuk mencapai Company Purpose.

 

Kenyataan Yang Perlu dicermati

Berita akhir-akhir ini cukup menarik perhatian. Sebagai dampak dari pandemi, banyak perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan karyawannya dalam jumlah yang tidak sedikit. Banyak dari mereka adalah perusahaan besar, yang suksesnya sejauh ini berkat kontribusi dari karyawannya yang mempunyai kualifikasi mumpuni. Saat mereka direcruit, perusahaan dengan bangga memperkenalkan Corporate Values, Tata Nilai Perusahaan yang menjadi panduan perilaku para pimpinan dan juga karyawannya. Dan saya berkeyakinan bahwa itu yang menjadi perekat mereka semua dalam bekerja.

Tiba saatnya, kita menerima berita yang sulit dipercaya, bahwa ada karyawan yang di PHK melalui mesin. Maksudnya melalui text message, atau bahkan dengan menon-aktifkan jaringan digital untuk komunikasi antar karyawan dan perusahaan atau dengan atasannya, seperti akun email. Ada juga perusahaan yang hanya menginformasikan PHK karyawan dan memberi waktu 15 menit kepada karyawannya untuk mengosongkan tempat kerjanya. Karyawan yang di PHK diperlakukan tidak manusiawi, dianggap sebagai mesin laptop yang sudah tidak berguna lagi, outdated dan operating systemnya mati dengan sendirinya. Mudah-mudahan dalam kondisi seperti itu, karyawan tersebut masih berkesempatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka sesuai ketentutan yang berlaku.

Saya mengangkat cerita ini, lebih untuk memahami bahwa dalam kenyataan hal tersebut terjadi. Kita memang berusaha maksimal untuk mencegah jangan sampai ada PHK karyawan. Tapi kalau sampai itu terjadi, kita harus dengan tulus memperlakukan mereka sesuai dengan harkatnya sebagai manusia. Leader hendaknya melakukan komunikasi  dengan timnya secara memadai. Berikan apa saja yang menjadi hak mereka, dan fasilitasi agar mereka pergi dengan kepala tegap, dengan DIGNITY.

 

Model Yang Menjadi Contoh

Disamping cerita tersebut diatas, ada juga cerita yang membuat hati kita lega. Seorang sahabatku, Nanang Chalid, SVP, Chief of People Officer at Tokopedia and Group Head of People Operation, membagi berita melalui LinkedIn tentang rencana reorganisasi. Yang dia tawarkan kepada pembaca adalah daftar karyawannya yang akan terkena dampak reorganisasi tersebut, karyawan dengan keahlian tertentu yang kiranya bisa direcruit oleh perusahaan lain yang membutuhkan.

Saya kutip kalimat penting dari pesan tersebut:

Kami mengupayakan berbagai hal untuk membantu teman-teman alumni kami menemukan karir selanjutnya. Inilah daftar lengkap alumni yang siap mengambil langkah berikutnya bagi karir mereka. Setiap orang di daftar ini telah setuju untuk memasukkan data pribadinya di sini, dan kami yakin mereka akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi organisasi Anda.

Daftar ini telah dirancang agar Anda mudah mencari kandidat dengan profil yang tepat, baik berdasarkan lokasi, pengalaman, posisi terakhir, top skills maupun kesediaan mereka berpindah lokasi. Bila perusahaan Anda memiliki lowongan pekerjaan dan ingin merekrut profesional-profesional terbaik di bidangnya, mulailah dari Alumni Directory ini.

 

Bahasa dalam pesan ini ditata secara cermat. Komunikasi internal sudah dilakukan secara bijak, termasuk didalamnya adalah, perusahaan akan terus memberikan pendampingan dan memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh alumni dalam menemukan karier selanjutnya.

Kita semua sadar bahwa perilaku para leader di perusahaan mendemonstrasikan VALUES yang mereka anut. Pengalaman karyawan (positif ataupun negatif) dalam berinteraksi dengan para leader, diperoleh sepanjang karier mereka, sejak proses recruitmen hingga hari mereka meninggalkan perusahaan. Dua cerita kontras diatas bisa memberikan kita gambaran tentang seberapa baik perusahaan memperlakukan karyawannya, hingga titik terakhir. Mari kita terus menggaungkan konsep “MEMANUSIAKAN MANUSIA” melalui perbuatan nyata dengan memperlakukan karyawan kita sesuai harkatnya sebagai manusia.

“The responsibility of a company is to serve the customer. The responsibility of leadership is to serve their people so that their people may better serve the customer. If leaders fail to serve their people first, both customer and company will suffer.” (Simon Sinek)

 

Catatan: Sehubungan dengan Libur Lebaran, tidak ada postingan di Jumat 28 April . Postingan baru akan hadir lagi 05 Mei 2023.

Bookmark and Share

16 Responses to Harkat Karyawan Sebagai Manusia

  1. Deby Sadrach says:

    Terima kasih pak Jos telah mengingatkan tentang the 8th habit dan membagikan contoh aplikasi habit ini yg sangat menarik dari Tokopedia. Terus jadi sumber inspirasi, pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 bu Deby, kita bisa terus belajar dari berbagai contoh sekitar kita. Salam

      • Nanang Chalid says:

        Terimakasih Pak JOS. Sangat bangga rasanya apa yang kami coba lakukan di GoTo Group di apresiasi dan diceritakan ulang dengan lugas dan penuh makna melalui blog Pak Josef ini. Salam hormat, dan terus menebar berkah bagi sesama, dan menjadi teladan bagi kami semua praktisi HR di Indonesia ya Pak

        • josef josef says:

          Terima kasih sama2. Kabar baik seperti yang kalian lakukan akan terus menjadi inspirasi bagi yang lainnya, terutama saat menghadapi situasi sulit, dimana harus mengambil keputusan dengan menggunakan hati. Teruslah memberi contoh dari perbuatan nyata. Salam

  2. Rina Ismariati says:

    Sangat menginspirasi dan menyentuh. Terima kasih telah menghadirkan tulisan indah yang kiranya setiap dari kita dapat tumbuh bersama menjadi manusia yang lebih baik lagi

    • josef josef says:

      Terima kasih mba Rina, kita terus saling mengingatkan tentang perilaku kita setiap hari, terutama saat kita mempunyai tanggung jawab sebagai leader. Salam

  3. Tommy Sudjarwadi says:

    Sangat mencerahkan Pak Joseph…, Postingan yang memadukan Prinsip yang Abadi dengan penerapan pada konteks yang terkini. Terima kasih…

    • josef josef says:

      Terima kasih pa Tommy, setuju prinsip yang diangkat, berlaku sepanjang masa. Sementara itu banyak praktek di sekitar kita yang terus mengingatkan kita akan pijakan dalam bertindak. Para leader hendaknya menjadi contoh pribadi positif dimanapun mereka berada.

  4. willy says:

    Great writing Pak Jos,

    Indeed, respective adalah salah satu value yang selalu kami tekankan. Ini merupakan buah perjalanan panjang dan bukan quick fixes.
    Sukses selalu Pak Josef

    Regards

    • josef josef says:

      Terima kasih untuk komennya pa Willy, setelah terus menghidupi values tersebut, karyawan semakin yakin akan contoh positif dari perilaku pimpinan setiap hari. Salam

  5. johny says:

    amat sangat terasa, apalagi untuk ke 3 kalinya dalam sejarah profesi mesti me layoff 28 karyw krn facing out project, makasih banyak pak Jos, Mas Nanag Chalid, sudah meneguhkan

    • josef josef says:

      Terima kasih dr. Johny untuk membagi pengalamannya. Semoga mereka yang pergi, masih dengan kepala tegak karena diperlakukan sesuai harkat mereka sebagai manusia. Ini akan terus menjadi contoh yang terus diingat. Salam

  6. Alfons says:

    Sangat menginspirasi Pak. Luar biasa the best sharing. GBU

  7. Antonius says:

    Seorang Pemimpin memang harus memiliki teknik komunikasi yang unggul, sehingga bisa masuk dalam segala situasi. Namun masih banyak Leader/Pemimpin yang belum menyadari hal ini.Terima kasih sangat menginspirasi pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Anton, Semoga lebih banyak yang menyadari itu, dan mengambil langkah kongkrit untuk mewujudkannya. Salam

Leave a Reply to Deby Sadrach Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Upward Bullying Terhadap Toxic Leader
  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna
  • Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)