Posted on December 9th, 2022
“Unlocking the bests parts of your culture is the key to transforming at a pace that your peers cannot compete with.” (Chantelle)
KEBIASAAN MEMBAGI BUKU. Di akhir sesi yang saya lakukan sering saya memberikan hadiah dua atau tiga buku. Hal ini untuk menegaskan bahwa semua kita hendaknya terus belajar sepanjang hayat di kandung badan. Dan salah satu cara belajar adalah dengan membaca. Dengan demikian saya sendiri juga dipacu untuk terus menulis untuk berbagi, baik melalui blog atau juga penerbitan buku atau sosmed. Berikut mereka yang beruntung menerima buku di akhir sesiku Selasa lalu dengan topik: Developing Future-fit Corporate Values, Culture & Core Competence.
Budaya dan Values
Perusahaan punya tata nilai (values). Dan semua karyawan diharapkan hidup sesuai dengan tata nilai tersebut. Ini yang akan mewarnai perilaku, tindakan, cara berpikir, persepsi dan juga harapan. Dalam konteks ini, para leader mempunyai peran yang sangat penting untuk mendemonstrasikan bagaimana menghidupi values tersebut, bukan saja melalui tutur katanya tetapi juga perbuatannya sehari-hari. Mereka harus sadar bahwa mereka hendaknya menjadi contoh bagaimana hidup sesuai values tersebut. Semua yang disebutkan ini pada akhirnya membentuk sebuah budaya kerja yang menjadi keunikan dari perusahaan ini. Tata nilai tersebut diharapkan bisa menjadi perekat tim dalam kesehariannya, dalam mengemban tugas masing-masing atau tugas bersama.
Dalam tulisannya berjudul: Building a Future-Fit Culture to Attract, Retain and Upskill Talent, Cantelle menggaris-bawahi tentang pentingnya mencermati dan memberdayakan sisi terbaik atau kekuatan budaya sebuah organisasi agar bisa menghadapi kompetisi di masa mendatang.
“Unlocking the bests parts of your culture is the key to transforming at a pace that your peers cannot compete with.” (Chantelle)
Investasi Menuju Masa Depan
Selanjutnya, dalam menghadapi Future-fit Culture, Cantelle menyampaikan bahwa Investasi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia sangat penting. Investasi ini bisa berupa pairing team member across discipline to gets hands-on; manfaatkan interaksi dalam tugas untuk membangun TRUST, juga berupa training atau sesi berbagi pengalaman. Utamakan waktu dan kesempatan timmu untuk bereksperimen, belajar dari berbagai pengalaman di organisasi. Membangun kemampuan multi-role dalam sebuah tim juga sangat disarankan. Singkatnya, dorong anggota tim untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu pengetahuan dan pengalaman dari anggota tim lainnya. Yang dilakukan perusahaan hari itu adalah juga bagian dari invest in people, mengundang pembicara dari luar untuk membagi pengalaman dari industri yang berbeda. Berikut foto bersama setelah sesi hari itu.
MEANING Dibalik Karya
Yang hadir dalam sharing session saya adalah para leader di bidang tugas masing-masing. Tugas pertama mereka adalah berusaha menemukan MAKNA (Meaning) dibalik apa yang mereka kerjakan. Dan selanjutnya mereka hendaknya juga bisa membantu teamnya untuk menemukan MAKNA di balik apapun yang mereka kerjakan. Dalam buku LEADER AS MEANING MAKER (oleh Josef Bataona) hal 29 diceritakan:
Sebuah studi atas 25 top companies menemukan apa yang menjadi daya tarik top performers dan alasan mereka mau bertahan di perusahaan. Rahasianya, karyawan di perusahaan tersebut merasa pekerjaannya bermakna. (It gave them significance and purpose, and it made them feel that they mattered and that they were doing something that was worthwhile or important).
Selain itu para leader yang hadir dibawa ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi, dimana mereka bukan saya mengapresiasi apa yang mereka dan tim kerjakan tapi juga membuka mata mereka untuk tanggung-jawab membangun generasi masa depan dengan karakteristik tertentu dan di dalam lingkup budaya tertentu. Untuk itu, mereka perlu membuka diri untuk terus belajar dari berbagai sumber, termasuk dari para milenial. Boleh jadi MEANING dalam definisi mereka berbeda dari apa yang kita pahami sejauh ini.
Kembali ke Values & Culture yang menjadi pembahasan hari itu, Chantelle mengingatkan dengan tegas, bahwa ini bukan sesederhana apa yang anda percayai, tetapi apa yang anda kerjakan. Dan kalau ini tidak masuk dalam fokus prioritasmu menuju masa depan (membangun Future-fit culture), maka jangan kaget kalau kita mendapatkan yang tidak diinginkan, seperti kutipan di akhir tulisan ini.
“Culture isn’t simply what you believe; it’s what you do. And if you’re not actively building your culture to be agile, experimental and more risk-tolerant, you’re going to end up with something much worse: a weak, toxic culture.” (Chantelle)
josef:
Terima kasih sama2, Setelah jadi ASM Jambi bertugas kemana lagi? Salam sehat selalu
Nurul Huda (pangkas rambut denbagus ) jl.raya aya Maleber Kuningan jabar:
Bagus sekali pemikiran dari Dr.David...
josef:
Terima kasih mba Indri, kita semua belajar dari pengalaman praktis banyak perusahaan. Tujuannya tentu saja...
Indrijati Rahayoe:
Keren sekali paparan ringkasan dr ajang HR Excellence Award 2023 ini. Terima kasih pak Josef dan...
josef:
Silahkan Farid, dengan senang hati. Simak juga 860 artikel lainnya di blog ini. Salam
Terimakasih pak Josef atas tulisannya.
Jadi, kita bisa menilai budaya suatu organisasi dengan mengamati perilaku anggota organisasi, terutama leadernya.
Terima kasih pa Danang Arief sudah mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Benar sekali perilaku anggota organisasi terutama leader sangat menentukan budaya organisasi tersebut. Salam