Etika Para Wisatawan

Posted on July 23rd, 2019

“Fortunate, indeed, is the man who takes exactly the right measure of himself and holds a just balance between what he can acquire and what he can use.” (Peter Latham)

PERILAKU wisatawan sungguh beragam. Dalam satu team tour sekalipun kita bisa mengalami warna warni interaksi yang mudah-mudahan menyenangkan. Kebetulan sekali selama dua minggu, group kami lebih banyak mengisi kebersamaan dengan canda ria. Dan ini terjadi, karena kami memilih untuk membuat perjalanan wisata kami menyenangkan. Berikut suasana makan malam di Hermitage Museum, bekas Istana Musim Dingin, di St. Pitersberg, Rusia.

Inisiatif melampaui batas

Ada observasi menarik dari berbagai group yang kami temui saat sarapan di hotel, yang sempat kami angkat menjadi bahan diskusi dimeja makan selagi sarapan di atas kapal cruise menuju Copenhagen. Bersama teman-teman semeja kami berbagi cerita tentang praktek banyak orang yang sedang tour, mengambil roti berlebih atau telur rebus berlebih lalu dimasukan plastik untuk dibawa. Belum lagi yang mengisi tumblernya dengan juices yang ada di tempat sarapan. Alasannya adalah karena kita sudah bayar, jadi boleh karena itu adalah hak kita.

Pendapat saya, mengapa saya tidak ikutan berbuat, karena kita dibayar untuk buffet. Dan dalam konsep buffet, kita boleh mengambil makan minum apa saja, tapi secukup yang kita butuhkan. Ada keleluasaan untuk memilih dan mengambil sesuai kemampuan perut menerima atau persisnya, sesuai kebutuhan dan kesehatan. Selebihnya adalah hak orang lain. Siapa itu entalah, alam semesta yang tahu. Termasuk juga mengambil makanan berlebihan lalu tersisa karena tidak dimakan adalah perbuatan tidak bijak.

Ada kawan di kesempatan tour lain, yang mengakui sering membawa roti atau buah dari tempat sarapan buffet, dengan alasan yang sama. Diapun mengakui bahwa dia memperhatikan kalau selama perjalanan, kami sekeluarga tidak ikutan melakukan yang sama. Sayapun berargumen, kalau kita ke restoran pizza misalnya, pizza yang dibeli seluruhnya adalah milik kita. Karena itu, kalau tidak habis, kita boleh minta untuk dibungkus dan dibawa pulang. Dan sejak pagi itu, kawan ini mulai paham,  menyadarinya, dan juga tidak mengulangi lagi. Termasuk tempat air minum yang siap untuk diisi, dibiarkan kosong. Betapa pagi yang indah, pemandangan laut dan langit yang biru jerni, saat menengok keluar jendela, tapi lebih indah lagi bertukar pikiran secara positif sambil sarapan.

Berikan Pada Yang lain, apa yang menjadi haknya

Dalam sebuah audiensi mingguannya di Lapangan St. Petrus. Vatikan, 5 Juni 2013, Paus Fransiskus mengingatkan dunia:

“Dulu, nenek moyang kita sangat berhati-hati terhadap makanan dan tak pernah menyisakan makanan yang disantap. Konsumerisme membuat kita terbiasa melihat sisa makanan yang dibuang, yang menurut kita tak bernilai,” lanjutnya.

“Membuang makanan tak ubahnya mencuri makanan dari meja orang miskin dan kelaparan,” Paus menegaskan.

Ini merupakan peringatan yang sampai hari inipun masih terasa kekinian. Tapi yang paling penting adalah, apa perubahan yang akan saya lakukan mulai dari diri saya sendiri dan mulai hari ini juga?

Lagom dan Seni merancang makanan secara berimbang

Dalam tulisan lalu kami sudah mengungkapkan makna Lagom sebagai “the appropriate amount.” Sebagai contoh, ungkapan yang berbunyi “take lagom with sugar” artinya “do not take more sugar than one should”.

Dalam bukunya yang berjudul: Lagom: The Swedish Art of Eating Harmoniously,  Steffi Knowles-Dellner mengedepankan pentingnya bukan saja right amount of food. Lebih jauh lagi:

“Eating and cooking in tune with ‘lagom’ means embracing food that is good for body and soul, unfussy, delicious and sustaining, and all in harmony. There is a time and place for every kind of food, and when everything is in equilibrium, you will be content and satisfied.”

Menikmati makanan secukupnya, yang lezat dalam kebersamaan yang menyenangkan, dan juga dengan suasana alam sejuk dan hati yang menyenangkan, itulah langkah bijak menerjemahkan Lagom Balance Eating, seperti nampak pada foto berikut ini.

Sementara itu, Laura Agar Wilson dalam tulisannya berjudul: How to practise Lagom: the scandi concept of balance and moderation mengedepankan inti dari Lagom, yaitu An anti all-or-nothing mindset – eat in moderation, not too much, not too little.

Bahkan pada saat merencanakan makanan apa yang dimasak, mindset itu dijaga untuk menciptakan balance. Dan Balance yang dimaksud bukan saja mengurangi makanan yang tidak perlu, tapi juga mengurangi energy yang digunakan. Konsep living sustainably and more environmentally friendly way mendorong kita untuk merencanakan makanan secara bijak, menyimpan makanan secara benar, hanya memasak air sebanyak yang dibutuhkan, mematikan lampu dll. Untuk apa? Demi menjaga balance, demi mencapai equilibrium, meningkatkan kepedulian kepada alam sekitarnya serta kepada sesama manusia.

Mulai dari Diri Sendiri

Kembali ke topik pembicaraan awal, kita bisa mulai dari diri kita sendiri dan saling mengingatkan bahwa:

  1. Kita perlu makan secara bijak, mengambil makanan secukupnya dan harus dihabiskan.
  2. Membuang makanan berarti kita telah mengambil berlebihan, karena itu kurangi dan ambil secukupnya
  3. Pada kesempatan dihadapkan pada penyajian secara prasmanan, putuskan secara bijak untuk mengambil yang disukai dan sebanyak yang diperlukan saja. Menggunakan piring kecil sangat membantu.
  4. Saat kita dalam perjalanan tour, ingatlah bahwa makanan berlimpah yang tersedia di restoran secara prasmanan, tidak sepenuhnya hak kita. Hak kita adalah mengambil makan apa saja secukupnya sesuai kebutuhan. Selebihnya adalah hak orang lain
  5. Langkah mengingatkan rekan lain belum tentu efektif diterima. Tapi bila kita sendiri berperilaku positif dengan mengambil makanan sesuai porsi kita saja, maka contoh tersebut bisa terlihat yang lain dan mudah-mudahan mereka bisa disadarkan.
  6. Ingat selalu pesan ini: “Membuang makanan tak ubahnya mencuri makanan dari meja orang miskin dan kelaparan,” demikian pesan Paus Fransiskus.

Ini bukan merupakan langkah sulit, hanya dibutuhkan kesadaran dan kepedulian pada yang lain. Kalau mindset dasar ini sudah terbangun, mudah-mudahan kita bisa melangkah lebih jauh lagi dengan proaktif membantu yang miskin dan kelaparan. Semoga Tuhan Yang Maha Rahim memberkati niat kita semua untuk mengambil langkah kecil diatas, Amin.

“The best and safest thing is to keep a balance in your life, acknowledge the great powers around us and in us. If you can do that, and live that way, you are really a wise man.” (Euripides)

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan keenam dari rangkaian tulisan tentang liburan kami. Simak juga tulisan sebelumnya:

  1. Indahnya Ciptaan Tuhan, https://www.josefbataona.com/life-wisdom/indahnya-ciptaan-tuhan/
  2. World’s Happy Countries: https://www.josefbataona.com/life-wisdom/worlds-happy-countries/
  3. Swedia Negara Ribuan Pulau: https://www.josefbataona.com/life-wisdom/swedia-negara-ribuan-pulau/
  4. Jadikan Pelajaran Berharga: https://www.josefbataona.com/life-wisdom/jadikan-pelajaran-berharga/
  5. Suasana Penuh Kedamaian: https://www.josefbataona.com/life-wisdom/suasana-penuh-damai/
  6. Etika Para Wisatawan
  7. Nantikan postingan berikutnya

Bookmark and Share

2 Responses to Etika Para Wisatawan

  1. Ratih says:

    Setuju sekali dengan tulisan Pak Josef, makan secukupnya, tdk membawa pulang makanan prasmanan, tidak membuang makanan dan merencanakan masakan yg dimasak. Saya masih harus banyak belajar untuk merencanakan masakan agar tidak banyak menggunakan energi 🙂

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, kita semua perlu waktu untuk menghayati, membiasakan dalam keseharian, walau yang lain belum melakukan. Kita komit dari diri sendiri. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih pa Supriyono. Semoga sehat selalu. Salam

SUPRIYONO:
very inspiring article ..

josef:
Dear Farika, Terima kasih untuk merujuk pada tulisan ini, semoga bermanfaat. Happy to discuss, bilamana...

Farika Andhini:
Pak…saya lagi coba survey kecil2an ttg engagement..saya teringat bapak pernah tulis tema ini....

josef:
Terima kasih sama2 Cita, sudah semakin jarang ketemu yang seperti ini, karena itu saya sengaja mengangkatnya...


Recent Post

  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong
  • Panggilan Untuk Mengubah Paradigma
  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani