Strategic HR: Antara Harapan dan Kenyataan

Posted on March 11th, 2014

“To what extent do we have a clear employee value proposition that lays out what is expected of employees and what they get in return?” (Dave Ulrich)

BANYAK PERTANYAAN yang saya terima berkaitan dengan peran Human Resource sebagai Strategic Business Partner. Menariknya, pertanyaan itu datangnya dari industry yang berbeda dengan praktek yang juga berbeda. Ada hasrat dari pelaku HR, ada juga keinginan kuat dari Organisasi dan Pimpinan.

Sementara itu tuntutan yang tidak bisa dibendung lagi: agar HR bisa  berperan sebagai strategic division. PR Utama adalah, memahami bisnis, memahami keinginan para stakeholder, terutama dalam menyelaraskan “People with Organization’s Strategic Goals”. Foto berikut ini adalah salah satu kunjungan kerja baru-baru ini, dalam rangka memahami bisnis dan mendengar suara rakyat.

Kunjungan ke Surabaya by josefbataona dotcom

Tuntutan Bisnis adalah Keharusan

Fungsi HR sudah ada bersamaan dengan berdirinya perusahaan, selama ada manusia yang mengelola perusahaan itu. Namun siapa yang bertanggung jawab berbeda-beda, tergantung besar kecilnya perusahaan, jenis perushaan itu sendiri dan pemahaman organisasi akan penting atau tidak pentingnya peran itu.

Pertanyaan pokok pertama adalah: Who You Are?? Siapakah makluk yang namanya HR, apa identitasnya. Identitas ini akan menumbuhkan apa yang bisa diharapkan oleh para stakeholder di seantero bisnis, maupun maupun internal HR sendiri.

Sebuah percakapan antara, pimpinan HR baru dengan anak buahnya yang bertanggung-jawab atas HR Strategy. Melihat bahwa banyak sekali basic HR yang belum tertata rapih, sang pemimpin itu memulai dengan program “Basic Right”, program jangka pendek untuk membuat pelayanan basic sungguh-sungguh outstanding.

Sang bawahan tersebut berkomentar;

“Saya pikir ibu sudah akan mulai dengan strategic HR initiatives.”

Dan sang pimpinan pun menjawab;

“Dalam tiga hari ini saya menerima komplain serius tentang pelayanan basic HR. Urusan hari-hari. Kalau dalam waktu singkat ini tidak kita bereskan, berapa konfiden kita untuk pergi ke Divisi untuk mengajak bicara tentang strategy HR padahal mereka sangat kecewa dengan pelayanan HR untuk hari-hari.”

What Do You Want?

Pertanyaan itu sangat penting untuk dipahami kedua belah pihak, baik HR maupun pelaku bisnis. Apa yang diinginkan. Outcome apa yang diharapkan dalam mendefinisikan HR Strategy. Secara sederhana, hadirnya fungsi HR ini seharusnya memberikan nilai tambah kepada bisnis.

Dari sudut Organisasi dan Pimpinan: Apakah mereka memang memerlukan Strategic HR, dan menginginkan pelaku HR untuk berperan.

  • Bila jawabannya YA, dan mereka paham betul tentang konsep strategic HR, maka tugas HR selanjutnya adalah merealisir kepercayaan Pimpinan akan tugas-tugas HR.
  • Bila jawabannya adalah YA, tapi mereka kurang paham akan konsep Strategic HR, maka adalah tugas HR untuk menyamakan pemahaman ini. Bila HR gagal melakukannya, maka, kita akan kembali ke square one.

Sebaliknya Strategic HR person yang tampil dengan konsep HR strategy, tugasnya adalah ensure bahwa konsep ini dipahami dan diterima.

  • Bila belum dipahami, HR perlu memperikan edukasi kepada seluruh organisasi tentang pentingnya peran HR, baik peran di Divisi HR maupun peran semua kepala bagian.

Tantangan paling besar adalah: semua bicara tentang strategic HR, tapi terkadang yang jadi fokus pimpinan adalah hal day to day, yang administrative matter. Buktinya: berbagai proyek atau penugasan yang diberikan kepada orang HR, dan cukup menyibukkan mereka adalah urusan administrasi. Lebih cilaka lagi kalau untuk urusan administrative, HR tidak bisa mendemonstrasikan kapabilitasnya. Bagaimana mau bicara Strategic HR.

Potret seperti disampaikan di atas memang masih nampak di beberapa perusahaan, tapi di Industri, sudah cukup banyak model yang bisa dicontoh tentang peran HR sebagai Strategic Bisnis Partner.

Komunitas HR tidak akan tinggal diam, akan terus saling membantu untuk bisa memberikan nilai tambah optimum kepada Bisnis di manapun mereka bekerja, dengan mempertimbangkan bahwa: VALUE itu ditentukan oleh penerima, dan bukannya oleh HR sebagai pemberi, untuk menggaris bawahi kata orang bijak berikut ini sebagai penutup:

“HR Practices must create value in the eyes of investors, customers, line managers and employees. They simply must deliver Values.

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET