Posted on November 10th, 2023
“Often when you think you’re at the end of something, you’re at the beginning of something else.” (Fred Rogers)
KESADARAN atau persisnya KEPEDULIAN Perusahaan untuk mempersiapkan karyawannya sebelum memasuki masa purna bakti, merupakan hal yang patut mendapatkan acungan jempol. Karena masih ada juga pimpinan Perusahaan yang bertanya: mengapa harus mengeluarkan biaya untuk mereka yang akan pensiun? Pertanyaan seperti itu memang muncul karena fokus Perusahaan itu pada biaya. Mereka tidak melihatnya sebagai investasi penting sebagai kepedulian bagi karyawannya yang memberikan kontribusi berharga pada Perusahaan hingga masa pensiunnya. Saya sendiri percaya, semakin banyak perusahaan dewasa ini yang peduli dan mempersiapkan karyawannya agar bisa memasuki masa pensiun dengan langkah lebih ringan.
Senang Berbagi Pengalaman
Banyak program persiapan pensiun yang melibatkan berbagai praktisi di bidangnya, dengan agenda: bagaimana mengelola keuangan, bagaimana menjaga fisik tetap bugar, bagaimana mental terjaga tetap sehat, dan bagaimana mengisi hari-hari pensiun kita untuk tetap memberikan manfaat bagi banyak orang.
Saya sering diminta untuk berbagi, karena saya bisa bicara sebagai sebagai orang yang sudah pensiun, dengan pengalaman nyata, tentang bagaimana saya dan keluarga mempersiapkan pensiun, dan bagaimana kami menjalani keseharian kami bersama keluarga di saat pensiun.

Ini akan berbeda kalau peserta hanya mendapatkan teori tanpa mendengar langsung berbagai tantangan yang dihadapi pensiunan. Apalagi begitu mendengar komen salah satu peserta yang mengaku, kalau awalnya dia berpikir pensiunan seorang direktur tentu beda dengan kami yang level dibawahnya. Pemikiran tersebut langsung berubah, saat saya menyampaikan bahwa yang berbicara di depan ini adalah seorang Josef Bataona. Betul saya pernah menjabat sebagai direktur perusahaan saat aktif, namun semua titel, jabatan, kepangkatan di orgaisasi sudah ditanggalkan. Yang tersisa sekarang adalah Josef Bataona. Mindset seperti ini sangat penting saya kedepankan, sebagai usaha untuk belajar menghindari post power syndrom yang sering dialami pensiunan.
Banyak Yang Dipelajari
Saya memulai sharing dengan cerita bagaimana saya dan istri serta anakku mendiskusikan gaya hidup setelah saya pensiun. Mengapa ini penting? Karena kesulitan yang sering dihadapi pensiunan, bukan berkaitan dengan biaya hidup tapi gaya hidup. Gaya hidup berkaitan dengan sumber penghasilan setelah pensiun. Kita bisa mempertahankan gaya hidup seperti masih aktif atau mengubah gaya hidup tersebut sesuai dengan kenyataan yang dialami. Pilihan ada di tangan kita. Namun perlu persiapan matang.
Seorang peserta mengungkapkan pelajaran yang akan dibawa pulang: bahwa kebiasan untuk berbagi/beramal hendaknya juga menjadi gaya hidup selama pensiun. Sebagai anggota masyarakat dimana kita berada, uluran tangan kita untuk mereka yang berkekurangan merupakan keharusan. Peserta tersebut berterima kasih atas sharing yang kami berikan, berdasarkan praktek dalam keluarga kami, bahkan kami membuat rekening khusus untuk menampung dana sosial tersebut.

Kreativitas Juga Dibutuhkan
Dalam sesi seperti itu saya suka bercerita tentang langkah kreatif berkaitan dengan makanan kesukaan dan biaya. Makanan kesukaan kami saat itu, termasuk lasagna. Saat kami merancang pengeluaran setelah pensiun, kami sepakat bahwa konumsi lasagna bisa sama seperti saat itu. Mengapa? Istri saya dengan kemampuan memasaknya, bisa membuat lasagna yang saat itu (2003) dibeli dengan harga Rp 350.000 satu pirex, bisa dibuat sendiri dengan daging kualitas bagus dan non-fat, semuanya dengan biaya Rp 150.000. Dan beberapa contoh kongkrit kreatif lainnyayang saya bagikan.
Sementara itu, kita bisa tetap bisa jalan-jalan dengan merencanakan jauh-jauh hari, sehingga bisa dapat tiket dan hotel dengan harga yang lebih murah.
Saat saya membagi cerita tentang mengajak keluarga membangun kebiasaan kecil dengan menabung Rp 50.000/hari/keluarga, pesertapun terkagum dengan hasil yang kami dapatkan setahun kemudian. Uang tabungan tersebut bisa membawa 25 anggota keluarga wisata ke Bali dengan pesawat, menginap di hotel berbintang selama tiga malam, dan wisata yang diatur oleh travel biro. Pengalaman itu bisa disimak di tautan blog di akhir tulisan ini.
Seorang peserta mengaku senang karena bisa belajar dari praktek kecil tersebut yang bisa diimplementasi oleh siapa saja. Praktek kecil itu dirancang oleh seorang anak manusia yang terus belajar merakyat dan mencoba hidup terbebas dari berbagai atribut kepangkatan masa lalu. Semoga sharing pendek ini bisa membawa manfaat pagi peserta yang hadir bersama anggota keluarganya.
“You don’t stop laughing because you grow old. You grow old because you stopped laughing.” (Michael Pritchard)
Simak juga kisah membangun kebiasaan kecil:
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Terimakasih sudah menceritakannya dengan painting picture yg nyata.
Benar sekali Pak Josef, pensiun itu pasti datang tapi active life kita yg menentukan, dan harus direncanakan dengan baik.
Apapun levelnya akan banyak perubahan yg dihadapi ketika memasuki masa pensiun.bukan tentang berapa uang yg kita punya tapi bagaimana kita mempersiapkan oengelolaannya dengan penyesuaian gaya hidup yg sesuai.
Salam
Terima kasih mba Sofia, masing-masing kita perlu merencanakan dengan baik, terutama berkaitan dengan gaya hidup. Salam sehat selalu
Tulisan Bapak diatas semakin melengkapi materi yang sedang saya susun untuk para senior di perusahaan kami dalam menatap purna bakti. Bagaimanapun mereka telah berkontribusi untuk perusahaan, mungkin sejak kami belum bergabung mereka sudah ada. Maka sudah sepantasnyalah perusahaan memberikan bantuan pemahaman serta sharing ilmu dalam mereka menghadapi masa purna bakti. Yang utama adalah kesiapan mental spiritual dan psikis dari setiap hari bangun pagi kemudian ngantor menjadi bangun pagi tapi tidak ada aktvitas rutin lagi. Bagaimana mereka siap mental dan dapat menerima hal ini. Sehingga faktor dimensia bisa dicegah semaksimal mungkin dan tetap bahagia. Salam pak Josep. Berkah Dalem
Terima kasih pa Antonius. Semoga materi yang sedang disiapkan semakin disempurnakan, sehingga karyawannya bisa mendapatkan bekal cukup dalam mempersiapkan masa purna baiktinya, masa yang hendaknya dinikmati dengan penuh sukacita bersama keluarga. Salam
Selamat siang Pak Josef. Mohon maaf Bapak, sudah sangat lama saya tidak berkunjung ke Blog Bapak, walau kerinduan untuk selalu membaca tulisan – tulisan Bapak selalu bergema di hati dan pikiran saya setiap hari. Karena masuk ke blog Bapak seperti menemukan Oase yang memberi banyak makna.Terima kasih atas tulisan Bapak tentanh Kreatifitas Saat Purna Bakti ini,yang mengingatkan saya untuk mempersiapkan masa pensiun yang pasti datang, sehingga tetap memiliki hidup yang berkualitas saat pensiun nanti. Terima kasih Pak Josef, salam sehat selalu.
Terima kasih Santi masih ingat untuk mengunjungi blog ini. Masih ada waktu untuk menyimak tulisan lain, yang kiranya bermanfaat untuk membangun karier sekarang ataupun mempersiapkan masa purna baktimu. Salam